Artikel

Kebangunan Epistemologi bagi Pemuda Kristen

Pdt. Dr. Stephen Tong sering menyebutkan ada lima aspek kebangunan rohani bagi pemuda Kristen, yaitu kebangunan doktrinal atau theologi, kebangunan epistemologi, kebangunan etika, kebangunan pelayanan, dan kebangunan budaya. Di antara kelima aspek tersebut, epistemologi menjadi salah satu aspek yang sering diabaikan oleh pemuda-pemudi Kristen di zaman ini. Terutama bagi mereka yang telah mengecap pendidikan tinggi di universitas, ada kecenderungan kerangka epistemologi yang terbentuk hanya atas dasar rasional dan bukti-bukti empiris atau fakta. Tidak ada lagi kata “Allah” sebagai kerangka di dalam membangun epistemologi mereka. Tidak ada prinsip firman Tuhan sebagai landasan epistemologi kita.

Padahal sebagai pemuda kita tidak dapat lepas dari pengetahuan. Ada rentang kira-kira 20 tahun lebih hidup kita dari anak-anak sampai pemuda diisi dengan pengejaran akan pengetahuan melalui sekolah dan universitas. Ketika kita kelak beranjak dewasa, pengetahuan yang kita kejar semakin bervariasi mulai dari relasi pasangan hidup, keluarga, hubungan pekerjaan, dan tentunya pengenalan akan Tuhan yang semakin dalam. Demikianlah keseluruhan hidup kita sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dari aktivitas yang namanya ‘mencari tahu’. Kemampuan tersebut hanya diberikan oleh Allah kepada manusia yang adalah gambar-Nya, tidak ada pada ciptaan yang lain. Mengetahui adalah natur manusia sebagai gambar Allah. Namun, bagaimana kita mengetahui sesuatu adalah kebenaran? Bagaimana kita mengetahui sesuatu adalah kebenaran dengan benar? Bagaimana kita menghadapi pengetahuan? Mari kita merenungkannya sejenak sebagai pihak yang mengetahui sesuatu di dunia ini.

Apa itu Epistemologi?
Dalam bahasa Yunani, istilah epistemologi berasal dari gabungan 2 kata, yaitu “episteme” (ἐπιστήμη) yang berarti “pengetahuan” (knowledge), dan “logos” (λόγος) yang berarti “ilmu” atau “studi”. Secara harfiah, epistemologi dapat didefinisikan sebagai ilmu atau studi mengenai pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi berusaha menjawab pertanyaan seputar asal muasal pengetahuan, seperti: Kondisi dan syarat seperti apa sesuatu dapat disebut sebagai pengetahuan? Hal apa yang dapat menjadi justifikasi (justification[1]) terhadap pengetahuan tersebut? Justifikasi di dalam bentuk teori tertentu, bukti empiris, atau manusia yang menentukan sendiri benar dan salah? Semua pertanyaan ini merupakan pergumulan para filsuf bagaimana epistomologi seharusnya dibangun.

Walaupun demikian, mayoritas filsuf membangun epistemologi tanpa melibatkan Allah sebagai fondasi perumusannya. Padahal pengetahuan adalah sesuatu yang unik dan hanya ada pada diri manusia saja sebagai gambar Allah (image of God). Kemampuan untuk berpikir, menganalisis, dan membedakan antara satu dan yang lainnya adalah kemampuan yang hanya dimiliki oleh manusia. Tidak ada satu pun hewan yang dapat melakukan hal seperti ini. Sehingga, ketika membicarakan pengetahuan, kita tidak dapat memisahkannya dari Allah, yang adalah Sumber segala pengetahuan, dengan diri kita yang dicipta dengan kemampuan menerima pengetahuan. Segala sesuatu di alam semesta adalah ciptaan-Nya. Ia sendiri yang menopang seluruh pergerakan alam semesta melalui hukum-hukum alam yang Ia tanamkan. Siapa yang dapat mengetahui seluruh ciptaan ini jikalau bukan Pencipta itu sendiri? Sehingga, usaha epistemologi untuk mendapat pembenaran atas suatu pengetahuan tidak mungkin terlepas dari Allah, Sang Pemilik dunia dan pengetahuan.

John Frame di dalam bukunya, The Doctrine of the Knowledge of God mendefinisikan epistemologi sebagai sesuatu yang sifatnya etis (ethical)[2]. Hal ini dikarenakan epistemologi berusaha menyatakan atau membedakan pengetahuan yang benar dan salah. Ada usaha justifikasi atau pembenaran terhadap pengetahuan yang kita pahami. Permasalahan benar dan salah adalah persoalan etika, sehingga ketika kita berbicara mengenai epistemologi, pasti terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat etis. Seolah-olah ada tuntutan untuk bertanggung jawab atas epistemologi yang kita gunakan untuk menjustifikasi pengetahuan tertentu.

Ada 3 macam perspektif etika yang perlu diperhatikan, yaitu: standar umum mengenai etika (normative ethics), dampak atau konsekuensi yang diinginkan (situational ethics), dan adanya motivasi pada setiap individu (existential ethics). Oleh karena epistemologi juga bersinggungan dengan persoalan etika, maka ketiga perspektif etika ini juga identik dengan perspektif di dalam epistemologi. Aspek normatif menyatakan apa yang ingin kita percayai di dalam wahyu Allah. Lalu aspek situasional mempertimbangkan apakah keyakinan kita dapat memberi dampak bagi yang lain, terutama dalam menggenapkan tujuan Kerajaan Allah. Terakhir, aspek eksistensial dari pengetahuan adalah keyakinan diri macam apa yang paling sesuai dengan firman Tuhan. Artikel ini akan membahas lebih detail mengenai aspek eksistensial pada epistemologi beserta sisi ekstrem jika terlalu menekankan aspek diri ketika menjustifikasi suatu pengetahuan.

Epistemologi Pemuda Saat Ini –Subjektivisme
Salah satu permasalahan epistemologi pemuda di abad ke-21 ini adalah kecenderungan untuk menilai dan menganalisis informasi atau pengetahuan menurut pandangannya sendiri. Apa yang ia yakini benar, itu baru disebut sebagai pengetahuan bagi dirinya. Walaupun fakta menunjukkan bahwa pengetahuan yang ia percayai bisa salah, ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Seolah-olah ia berhak menilai segala sesuatu menjadi pengetahuan menurut apa yang ia yakini. Apalagi di zaman internet saat ini, kita dapat mengakses berbagai macam informasi melalui genggaman tangan kita, kapan saja dan di mana saja. Mulai dari hal-hal sederhana seperti cara memasak hingga ilmu pengetahuan seperti filsafat dapat kita temukan melalui internet. Gaya hidup seperti ini secara tidak langsung membentuk pandangan kita mengenai pengetahuan. Seolah-olah kita sendiri yang dapat menjustifikasi suatu informasi dapat disebut pengetahuan atau bukan pengetahuan. Tipe epistemologi ini biasa disebut sebagai subjektivisme.

Persuasi. Subjektivisme berusaha menekankan aspek subjek atau pribadi pada epistemologi, dan mengabaikan aspek lainnya yang berupa fakta dan argumen. Sehingga ada kalanya suatu informasi yang walaupun memiliki fakta dan argumen yang terbukti benar belum tentu dapat meyakinkan orang lain. Inilah yang disebut sebagai bukti persuasi. Ada kalanya pengetahuan tertentu dapat dijustifikasi jikalau pengetahuan itu dapat meyakinkan diri sendiri dan orang lain. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana jikalau fakta dan argumen yang tidak tepat pada akhirnya dapat membujuk orang lain untuk percaya hal tersebut sebagai pengetahuan yang dapat dibenarkan. Bukan karena fakta yang dapat dibuktikan dan argumen yang logis, melainkan ia dapat diyakinkan oleh bujukan tersebut. Pada akhirnya persuasi memainkan peran penting agar seseorang dapat diyakinkan. Sehingga pasti ada aspek personalitas atau keseluruhan pribadi yang memengaruhi bagaimana tindakan persuasi tersebut dapat berjalan baik atau tidak. Aspek personalitas ini dapat bervariasi seperti iman kepercayaan, pengalaman masa lampau, dan kondisi sosial ekonomi.

Epistemologi seperti ini sangatlah berbahaya karena setiap orang dapat menyatakan diri yang paling benar. Pengetahuan yang ia percayai menjadi senjata untuk menghakimi orang lain. Hal ini akan berakibat pada banyak orang terhasut oleh pengetahuan tersebut atau terpaksa untuk mengakui pembenaran atas pengetahuan dia. Padahal pengetahuan tersebut dapat merupakan suatu kebohongan publik. Maka dari itu isu-isu hoax mudah tersebar di abad ke-21 ini. Setiap pengetahuan maupun informasi tidak ditelusuri kembali berdasarkan fakta di lapangan dan argumentasi yang logis, melainkan hanya diuji oleh diri sendiri saja. Jikalau ia merasa diyakinkan dan benar, maka pengetahuan tersebut benar adanya.

Siapa yang mengetahui. Subjektivisme yang liar juga mengakibatkan justifikasi pengetahuan kita hanya berdasarkan siapa yang mengucapkan hal tersebut. Fenomena ini adalah sesuatu yang umum kita temui saat ini. Kita cenderung yakin akan pengetahuan yang kita sampaikan oleh karena seorang pribadi yang mempunyai kapabilitas, jabatan, dan kekuasaan tertentu telah mengucapkannya sebelumnya. Justifikasi seperti ini tidak sepenuhnya salah, karena kadang-kadang orang yang memang memiliki kemampuan dan kapabilitas tentu dapat menyatakan justifikasi dengan lebih baik. Kecenderungan kita adalah melandaskan justifikasi kita pada aspek personalitas tanpa menelusuri kembali melalui argumentasi dan bukti-bukti lainnya. Seolah-olah orang yang kita percayai ini tidak mungkin salah dan kita sering kali tetap teguh akan klaim yang orang itu sampaikan. Padahal klaim seseorang akan pengetahuan dapat seketika dilawan balik oleh yang lain. Contoh sederhana dapat kita temui saat mempelajari theologi. Kita biasanya memihak pada pemahaman theologi tertentu oleh karena kita percaya pada hamba Tuhan atau theolog tertentu. Ketika ada pemahaman theologi dari perspektif lain yang bertentangan dengan theolog tersebut, sering kali respons kita adalah tetap teguh pada theolog yang lama dengan alasan tidak mungkin theolog tersebut bisa salah.

Epistemologi Kristen
Lalu, bagaimanakah seharusnya pemuda Kristen menjustifikasi suatu pengetahuan? Apakah kita harus mengikuti cara epistemologi yang bersifat subjektif, yang menekankan diri lebih utama? Jika bukan demikian, epistemologi macam apa yang harus kita pegang? Apakah kita harus beralih secara ekstrem ke epistemologi lainnya? Seperti empirisme yang condong menekankan fakta atau bukti untuk menjustifikasi pengetahuan tertentu? Ada juga epistemologi tipe rasionalisme yang mengutamakan teori, konsep, atau kriteria tertentu agar pengetahuan tersebut dapat dibuktikan.[3]

Ketiga tipe epistemologi yang disebutkan sebelumnya (subjektivisme, empirisme, dan rasionalisme) tidak sepenuhnya salah, walaupun teori ini mayoritas dikembangkan oleh orang bukan percaya. Masing-masing epistemologi tersebut masih ada hal baiknya dan sampai sekarang masih tetap relevan untuk digunakan. Permasalahan utamanya adalah ketika salah satu teori epistemologi tersebut dijadikan yang paling utama dan berusaha menggantikan posisi Allah sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan, seolah-olah tipe epistemologi tertentu dapat dijadikan sebagai yang utama untuk menjustifikasi semua pengetahuan, tak terkecuali pengetahuan akan Allah.

Karena itu, John Frame memberikan alternatif lain dengan cara tidak memilih salah satu, tetapi melihat ketiga epistemologi tersebut di dalam tiga perspektif atau sudut pandang yang berbeda.[4] Tidak ada satu pun di antara ketiga epistemologi ini yang lebih utama dibandingkan yang lain, tetapi bagaimana ketiga epistemologi ini merangkai satu sama lain, sehingga epistemologi yang cenderung menekankan pada diri (subjektivisme) tidak dapat menjadi acuan utama untuk menjustifikasi suatu pengetahuan. Ada perspektif lain yang harus dipertimbangkan seperti teori atau kriteria yang memadai (rasionalisme) dan fakta yang mendukung pengetahuan tersebut (empirisme). Ketiga epistemologi ini juga tidak perlu saling dibenturkan, melainkan perspektif yang berbeda mengenai justifikasi.

Lalu, bagaimanakah seharusnya peran individu di dalam bagian dari epistemologi yang sesuai prinsip firman Tuhan? Pembahasan di awal mengenai epistemologi pemuda adalah cenderung menjustifikasi pengetahuan atas dasar keyakinan diri. Subjektivisme liar mengakibatkan kita seolah-olah seperti ilah palsu yang dapat menentukan pengetahuan yang benar dan salah. Padahal tidaklah demikian, Allah sendiri yang menjadi penentu mutlak benar dan salah. Walaupun demikian, John Frame tetap melihat ada aspek diri atau pribadi ketika berbicara mengenai pengetahuan maupun justifikasi.[5] Pengetahuan (knowledge) tidak dapat lepas dari pribadi yang mengetahui (knower). Sehingga, pengetahuan tidak hanya dijustifikasi berdasarkan kriteria dan bukti-bukti empiris tertentu, melainkan ada aspek pribadi sebagai yang mengetahui. Ada dua peran penting aspek pribadi di dalam epistemologi yaitu kemampuan persuasi dan “seeing as”.[6]

Persuasi. Pembahasan di awal menjelaskan bagaimana aspek persuasi di dalam epistemologi dapat menjadi kunci bagaimana orang lain dapat diyakinkan. Entah itu pengetahuan yang benar atau salah, asalkan pengetahuan tersebut dapat diterima oleh orang lain, maka pengetahuan tersebut sudah terjustifikasi. Hal ini menyiratkan bagaimana persuasi dapat digunakan untuk menyebarkan ketidakbenaran. Sisi lainnya adalah persuasi juga dapat menjadi sangat berguna ketika kita ingin menyatakan kebenaran kepada orang lain. John Frame memberikan contoh seperti berikut, “Nothing exists or God exists; Something exists; Therefore God exists.”[7] Argumen tersebut valid dan benar, tetapi tidak semua orang dapat diyakinkan oleh pernyataan tersebut. Maka dari itu, persuasi sangat diperlukan agar kebenaran tersebut memiliki kuasa atau kekuatan untuk meyakinkan orang lain. Sehingga, kita tidak hanya mempertimbangkan justifikasi kebenaran dari aspek rasional (contohnya doktrin yang benar), melainkan juga aspek persuasi.

Seeing as (Melihat itu sebagai). Pada poin kedua ini, John Frame berusaha mengaitkan antara pribadi (existential perspective) dan suatu kebenaran atau norma (normative perspective[8]). Keterkaitan ini terlihat dari bagaimana setiap orang dapat mengaplikasikan kebenaran di setiap sisi kehidupan yang berbeda tanpa menghilangkan esensi dari kebenaran itu sendiri. Contohnya dapat kita saksikan melalui kisah hidup Daud yang jatuh ke dalam dosa perzinahan dan pembunuhan berencana (2Sam. 11). Tentu kita tahu bahwa Daud adalah seorang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kitab Mazmur menjadi bukti yang sangat jelas bagaimana Daud sangat mengerti isi hati Tuhan di dalam setiap pergumulannya. Sehingga, kita bisa mengatakan bahwa Daud sangat mengerti kebenaran Tuhan.

Salah satu kesalahan Daud sebelum ditegur oleh Nabi Natan adalah ia merasionalkan tindakannya sebagai perbuatan yang tidak berdosa. Daud bisa saja menganggap “relasi” dengan Batsyeba sebagai sesuatu yang umum dilakukan oleh raja-raja pada zaman itu. Hal yang wajar juga jikalau seorang raja memiliki hak untuk memutuskan siapa yang berada di garis depan peperangan. Kemudian 2 Samuel 12 menceritakan bagaimana Nabi Natan datang untuk menegur dosa Daud. Uniknya teguran Nabi Natan tidak dalam bentuk semacam larangan atau kemarahan, melainkan suatu perumpamaan. Melalui cerita itu, akhirnya Daud sadar bahwa tindakannya tidak jauh berbeda dengan si kaya yang merebut domba si miskin. Setelah itu, Daud sungguh-sungguh bertobat di hadapan Tuhan. Daud melihat tindakan “relasi” ke Batsyeba sebagai perzinahan dan “perintah raja” sebagai rencana pembunuhan. Kuncinya adalah melihat setiap tindakan sebagai sesuatu yang sangat terkait dengan apa yang firman Tuhan katakan.

Oleh karena itu, ketika kita ingin menyampaikan kebenaran atau hukum Tuhan, kita perlu memperhatikan orang yang ingin kita yakinkan, sehingga kebenaran yang kita sampaikan sungguh-sungguh menyentuh pergumulan hidupnya. Pengetahuan yang kita sampaikan bukan hanya sekadar hukum atau informasi, melainkan dapat berupa nasihat atau cerita yang dapat membantu orang lain mengerti kebenaran. Nasihat tersebut dapat berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi orang yang kita ajak bicara.

Prinsip ini juga berlaku bagi diri kita sendiri. Kita dapat memahami atau menjustifikasi pengetahuan kita mengenai firman Tuhan melalui berbagai cara, seperti pengalaman kehidupan sehari-hari, kehidupan pelayanan gereja, dan iluminasi dari Roh Kudus. Tentunya hal ini tetap perlu diuji, sehingga apa yang kita pahami tetap sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan. Lalu, prinsip ini juga berimplikasi pada kecenderungan kita untuk condong kepada hamba Tuhan atau theolog tertentu. Entah itu karena sesuai dengan pergumulan kita atau membantu kita memahami kebenaran, hal ini tidaklah menjadi masalah asalkan kita tidak mengikuti secara buta dan tentunya terus menguji setiap pandangan para theolog apakah masih sesuai dengan kebenaran Alkitab atau tidak.

Konklusi
Jika kita ditanya apa tanda kebangunan epistemologi bagi pemuda Kristen, maka ada dua jawaban yang dapat kita nyatakan. Pertama, tidak melihat diri sebagai standar untuk menjustifikasi setiap pengetahuan yang ada. Alkitab yang seharusnya menjadi standar kita di dalam mengejar pengetahuan, terutama pengenalan akan Allah. Justifikasi melalui diri harus selalu diuji apakah masih tetap setia kepada firman Tuhan atau tidak. Kedua, pengejaran akan pengetahuan tidak hanya sampai pada aspek normatif saja, tetapi juga mentransformasi keseluruhan hidup kita sebagai pribadi. Hal tersebut ditandai dengan kita dapat melihat relevansi kehidupan kita terhadap kebenaran dan pengetahuan yang kita kejar. Salah satunya adalah bagaimana firman Tuhan sangat terkait dengan cara kita hidup di dunia ini. Kemudian, pengetahuan tersebut menjadi kuasa yang dapat meyakinkan diri sendiri dan orang lain tentang kebenaran firman Tuhan.

Trisfianto Prasetio
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Justification: The action of showing something to be right or reasonable (tindakan menunjukkan sesuatu adalah benar atau masuk akal). Oxford Dictionary.
[2] Frame, John. The Doctrine of the Knowledge of God. Hal. 108.
[3] Contoh epistemologi tipe rasionalisme: Kita dapat menggambar bentuk lingkaran oleh karena sudah ada konsep atau kriteria bentuk lingkaran di dalam pikiran kita. Kita tidak perlu pengalaman secara fisik untuk membentuk lingkaran.
[4] Frame, John. The Doctrine of the Knowledge of God. Hal 123.
[5] Ibid. Hal. 149.
[6] Ibid.
[7] Ibid. Hal. 151.
[8] John Frame mendefinisikan aspek normatif pada justifikasi: jaminan keyakinan dengan menunjukkan bahwa itu sesuai dengan “hukum pemikiran” (artinya dalam konteks ini hukum Tuhan untuk pemikiran manusia).

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲