Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Krik… Krok… Tik… Tok… Ting… Tong...

Saya teringat ritual puasa yang saya jalani beberapa tahun yang lalu. Suatu kali, jam makan siang sudah tiba. Perut mulai keruyukan. Makan siang pun sudah tersedia. Biasanya saya langsung mengambil piring dan menyantap makan siang yang disediakan. Betapa nikmatnya mengisi perut yang sedang menganga meminta makan. Sayangnya, saat itu saya sedang berpuasa sehingga saya pun menghindari ruang makan siang. Pikiran-pikiran menyesal pun mulai muncul, apalagi jika pada hari itu menu makanannya lumayan. Pada saat-saat seperti ini, pertanyaan biasanya muncul: Berapa lama lagi jam buka puasa?

Alangkah tidak enaknya berpuasa. Namun, kira-kira kenapa ya puasa itu tidak enak? Puasa itu tidak enak karena lapar itu tidak enak. Orang-orang tidak suka melakukan puasa karena tidak suka kepada rasa lapar. Jika ada orang yang mengalami kelainan sehingga rasa lapar itu membawa kenikmatan bagi tubuhnya, bukankah puasa menjadi kehilangan artinya? Mungkin baginya puasa harus memakai bentuk lain, bukan dengan tidak makan, tetapi dengan makan. Terlepas dari itu semua, jika kita berbicara tentang orang normal, yang kita maksud adalah orang yang berpuasa dengan cara tidak makan. Dalam Alkitab, puasa selalu diidentikkan dengan tidak makan. Sekarang, bukankah inti dari puasa adalah mencari-cari dan mendatangkan yang tidak enak bagi tubuh, terutama perut? Jika hanya sekedar menahan lapar, apakah kaitannya dengan perjalanan kerohanian kita?

Puasa Tuhan Yesus yang berjalan sepanjang empat puluh hari dan empat puluh malam (Mat. 4:1-4), dapat memberikan jawaban kepada kita atas pertanyaan di atas, dan beberapa pelajaran lainnya. Puasa Yesus dimulai karena digerakkan oleh Roh Kudus yang memimpin Yesus untuk mencapai kemenangan. Puasa dari makanan adalah sebuah aktivitas kerohanian yang tinggi, sehingga dicatat bahwa inisiatornya adalah Roh Kudus sendiri. Puasa Yesus juga memberikan pelajaran bahwa rasa lapar perlu ditahan agar kita mengingat bahwa kita lebih memerlukan Tuhan daripada makanan, dan kebutuhan akan makanan seringkali menjadi saluran iblis untuk membawa kita kepada dosa. Pikirkanlah berapa juta manusia yang menyerahkan diri mereka kepada iblis demi sesuap nasi.

Apakah dalam puasamu, kamu sering menyesal di tengah jalan (waktu jam makan siang) dan berharap agar jam buka puasa cepat tiba? Pada saat itu, tanyakan pertanyaan ini kepada dirimu sendiri: pernahkah dalam hidupmu kamu menginginkan Tuhan, menanti-nantikan Dia, lebih daripada kamu menginginkan makanan di saat lapar, dan menanti-nantikan jam buka puasa?

Erwan
Redaksi Umum Pillar

Erwan

September 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Unduh PDF
Cari
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional yang telah diadakan di 5 kota di Kalimantan Timur. Kiranya melalui rangkaian kebaktian ini, bangsa Indonesia dapat kembali mengenal firman, kesaksian, dan pertobatan yang sejati. Berdoa juga untuk rangkaian Kebaktian Pembaruan Iman Nasional yang akan diadakan pada akhir Mei 2012 sampai dengan pertengahan Juni 2012 di Kalimantan Tengah, Sulawesi, dan NTT.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
syalom....!!! berkaitan dengan pemilihan Allah secara berdaulat..., disini saya mau bertanya, bagaimana dengan...

Selengkapnya...

ORA ET LABORA..

Selengkapnya...

Halo Carlos. terima kasih atas tanggapannya. Selama ini saya sudah sering tukar pendapat mengenai gereja dengannya....

Selengkapnya...

Filipi 1:29, " Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk...

Selengkapnya...

Sepertinya saya melihat diri saya dalam cerita itu.... Kadang kita "sepertinya"tidak memerlukan Tuhan lagi...

Selengkapnya...

© 2010 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲