Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Merdeka Seperti Tidak Merdeka

Warga negara Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaannya yang ke-66. Adalah menarik sekali membayangkan betapa sibuknya bapak-bapak bangsa kita mempersiapkan kelahiran sebuah negara baru. Betapa tidak, persiapan untuk memulai sebuah keluarga saja sulit. Sekarang, mereka mau memulai sebuah negara? Betapa rumitnya. Undang-Undang Dasar harus disiapkan, kabinet harus dibentuk, dan pendiri negara harus meyakinkan rakyatnya untuk mengakui dan mendukung apa yang mereka lakukan: proklamasi kemerdekaan.

Memproklamasikan kemerdekaan atau tidak adalah satu masalah. Apakah rakyat siap untuk hidup merdeka adalah hal lain. Dirampungkannya teks Proklamasi dan pembacaannya tentu didorong oleh sebuah impian akan negara yang maju dalam segala aspek. Kemerdekaan, kita percaya, adalah gerbang yang memungkinkan kita untuk merealisasikan impian itu. Akan tetapi, sekarang setelah enam puluh enam tahun gerbang kemerdekaan sudah kita lewati, apakah kita sudah mencapai impian para pendiri bangsa kita? Dilihat dari kenyataan sekarang, di mana korupsi terjadi di setiap lapisan masyarakat, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, hukum yang masih belum ditegakkan di banyak tempat, sebenarnya impian itu masih jauh dari realisasinya. Tuhan sudah mengizinkan rakyat Indonesia memimpin dirinya sendiri, tetapi tampaknya rakyat Indonesia tidak siap untuk merdeka.

Proklamasi kemerdekaan juga pernah dilakukan oleh Yesus dari Nazaret (Yoh. 8:30-36) bagi para pengikutnya. Mari kita ingat kondisi kita dahulu ketika masih terjajah. Kita adalah milik Bapa kita dan seharusnya kita adalah sebuah “bangsa” yang diperintah langsung oleh-Nya, sebuah “bangsa” yang memancarkan keadilan dan kasih Tuhan, tetapi dosa dan iblis menjajah kita, mengotori kita, dan mempekerjakan kita dengan paksa. Pada saat itu, kita dibelenggu sehingga tidak dapat datang kepada Tuhan, apalagi memancarkan keadilan dan kasih Allah. Setelah kita menerima kemerdekaan itu dari Yesus Kristus, bukankah seharusnya kita mempunyai sebuah impian? Sekarang seharusnya tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk menjadi sebuah “bangsa” yang menjalankan perintah Tuhan secara penuh, menjadi sebuah “bangsa” yang adil dan penuh kasih. Akan tetapi, sekarang setelah berapa tahun kita menjadi orang Kristen, apakah kita sudah mencapai impian itu? Dilihat dari kenyataannya sekarang, di mana kita masih sering malas pelayanan, mementingkan diri sendiri, tidak mengasihi, malah menindas orang lain, tampaknya impian itu masih jauh dari realisasinya. Apakah mungkin, kita belum siap untuk merdeka dari dosa dan iblis? Pikirkanlah baik-baik.

Erwan
Redaksi Umum Pillar

Erwan

Agustus 2011

1 tanggapan.

1. Juliati br tarigan dari Medan berkata pada 11 August 2012:

Trimakasih atas artikelnya, saya terbantu sekali karena pada 12 Agustus 2012, ada lomba pidato kemerdekaan di Gereja. GBU

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲