Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ombak dan Gelombang yang Berhenti

Hari Rabu lalu, dunia dikejutkan oleh kematian Steve Jobs. Jika membaca liputan berita dan artikel yang ditulis di media massa, kita akan tahu betapa dunia merasa kehilangan, dan akan rindu sekali dengannya. Dia bukan hanya seorang penemu, tetapi juga seniman. Kita terkagum-kagum bukan hanya kepada kecanggihan teknologi, tetapi juga keindahan bentuk dan warna dari karya-karyanya. Dia telah menggabungkan teknologi dan seni dengan begitu genius, yang mengingatkan kita kepada Leonardo da Vinci. Betapa tidak. Dunia menantikan produk baru demi produk baru di-launching oleh Apple, atau lebih tepatnya, Steve Jobs. Dunia kangen dengan saat-saat Steve Jobs keluar di atas podium dengan sebuah gadget di tangannya, dan mempresentasikannya, dan mengajari dunia sebuah cara hidup yang baru. Tiba-tiba Steve Jobs tidak ada lagi.

Beberapa hari kemudian, pada hari Sabtu malam, saya mendengar kabar kematian Pak Wito, seorang pekerja Au-Vi di gereja kami, GRII Pusat. Biasanya, hampir setiap Minggu Pak Wito ditugaskan untuk memegang kamera di bagian tengah, terkadang kamera tengah di bawah, tetapi terkadang di balkon. Saya tidak dekat secara pribadi dengannya. Akan tetapi, seingat saya, interaksi di antara kami selalu menyenangkan. Didukung oleh sense of humor, senyum lebar di wajahnya yang kurus melegakan hati orang yang berbicara dengannya. Saya juga merasakan karya tangannya ketika tayangan gambar Pdt. Stephen Tong pada layar proyektor bergerak-gerak karena Pak Wito sedang menggerak-gerakkan kameranya untuk mendapatkan komposisi gambar yang paling baik. Tiba-tiba Pak Wito sudah tidak ada lagi.

Kematian Steve Jobs dan Pak Wito membuat saya merenungkan tentang kematian sekali lagi. Kehidupan Steve Jobs mengirimkan kepada dunia gelombang mabuk cinta terhadap teknologi. Kematiannya menghentikan ombak tersebut, dan ketika ombak itu tiba-tiba dihentikan, dunia tidak terbiasa. Kehidupan Pak Wito membawa gelombang interaksi yang hangat kepada orang sekitarnya. Kematiannya menghentikan gelombang tersebut, dan ketika gelombang tersebut tiba-tiba dihentikan, kami tidak terbiasa. Kematian menghentikan pekerjaan dan karya seseorang, dan orang-orang yang ditinggalkan mengalami kejutan, karena tidak terbiasa dengan kesunyian yang dihasilkan oleh absennya ombak dan gelombang yang diakibatkan oleh kehadiran orang yang mati tersebut.

Kematian mereka berdua mengingatkan saya betapa nyatanya kematian saya sendiri, entah kapan itu. Kematian kita senyata iPad, senyata video-video khotbah Pdt. Stephen Tong yang direkam melalui kamera Pak Wito, senyata dan sepasti mereka berdua pernah hidup. Ketika kita hidup, ombak dan gelombang seperti apa yang kita akibatkan kepada dunia dan orang sekitar kita? Ketika kita mati, kejutan seperti apa yang akan dirasakan oleh mereka?

Erwan
Redaksi Umum Pillar

Erwan

Oktober 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shallom... Terima kasih untuk renungan yang sangat memberkati. Kata-katanya tersusun dengan sangat bagus, saya sangat...

Selengkapnya...

Yth bpk Admin, 1. Kenapa umat Kristen harus memegang 2 kitab yaitu Taurat dan Injil. 2. Dalam memegang kedua...

Selengkapnya...

Saya sangat tertarik dengan ajaran reformed injili.. Setiap kali ada kegiatan di solo saya pasti harus bisa datang.....

Selengkapnya...

Terkadang kepahitan merupakan obat yg paling manjur untuk bertahan dalam menjalankan kehidupan sehari hari asalkan...

Selengkapnya...

Mohon setiap tulisan diikutsertakan Firman Tuhan. Artinya setiap tulisan dasarnya dari Firman Tuhan di usahakan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲