Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Teriakan yang Aneh tentang Bersukacita

Ingatkah apa yang membuat hati kita bersukacita ketika kita masih kecil? Bagi kebanyakan orang, mungkin jawabannya adalah mainan baru. Pada masa remaja, faktor-faktor sukacita sedikit bertambah: HP baru, game console baru, gadget baru, pacar baru, dan uang jajan yang banyak. Ketika bekerja, hal-hal itu menjadi kenaikan gaji, promosi, mobil baru, dan rumah baru. Untuk masa yang akan datang: gaji yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi, mobil yang lebih mahal, rumah yang lebih mewah. Namun, apa yang seharusnya membuat orang Kristen bersukacita?

Dalam surat Filipi 4:4, Paulus berseru-seru, “Bersukacitalah dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Jika kita tanyakan kepada Paulus mengapa harus bersukacita, kira-kira apa yang akan dikatakannya? Karena naik pangkat? Menang lotre? Kenaikan gaji? Rumah yang lebih mewah? Paulus akan mengatakan itu adalah hal-hal yang dikejar oleh orang dunia yang tidak mengenal hal yang jauh lebih berharga daripada itu. Semua yang disebutkan tadi tidak sedang dimiliki oleh Paulus. Dia menuliskan kalimat itu di penjara yang dingin. Dia hidup miskin dan kelaparan.

Namun, Paulus sedang berpegang kepada Harta yang paling mulia bukan hanya di atas bumi, bahkan di dalam sorga, yaitu Yesus Kristus sendiri. Sebelumnya, di pasal 2, Paulus telah berbicara tentang Yesus yang ditinggikan oleh Allah Bapa dan dikaruniakan “nama di atas segala nama”, dan seluruh yang di atas langit dan di atas bumi dan bawah bumi akan bertekuk lutut di hadapan-Nya.

Kemuliaan seperti ini tidak serta-merta didapatkan oleh Tuhan Yesus tanpa alasan. Ayat-ayat sebelumnya adalah kunci bagi orang Kristen untuk memahami kemuliaan dan sukacita sejati, karena orang Kristen hanya dapat menggapainya melalui jalan ini. “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia …”

Melalui jalan apa kita menggapai kemuliaan dan sukacita sejati? Anak tangga karier yang semakin tinggi? Digit yang semakin panjang dalam buku tabungan?

Ayat-ayat tadi memberikan jawaban. Kemuliaan dan sukacita sejati tidak didapatkan melalui jalan materialistik, tetapi jalan salib. Ayat-ayat tadi memecahkan misteri sukacita Paulus yang berseru: Bersukacitalah! Bersukacitalah! Paulus sedang berada dalam jalan salib, bersatu dengan penderitaan Kristus, dan dia sungguh-sungguh tahu bahwa hanya dengan jalan ini dia juga akan bersatu dengan kemuliaan dan sukacita Kristus Yesus.

Erwan

Mei 2012

5 tanggapan.

1. Andreas Soepono dari Muncar, Banyuwangi berkata pada 8 May 2012:

Saya sangat setuju dan membenaran artikel diatas tentang sukacita yang seharusnya dimiliki semua orang kristen. Jangan kita sama dengan sukacitanya orang dunia (materilistis). Rasul Petrus mengatakan "sukacita yg tak terkatakan" itulah sukacita surgawi, baru kita akan menjadi "lebih dari pemenang" Amin !

2. Salomo Depy dari Bengkulu berkata pada 9 May 2012:

Bersukacitalah senantiasa baik keadaan lagi enak maupun keadaan lagi tidak enak. Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita. Oleh karena itu harus bersukacita senantiasa. Apapun yang terjadi didalam kehidupan kita, haruslah kita berkata Tuhan Baik, sehingga kita tetap dapat bersukacita, Tuhan memberkati,Amin.

3. Edy dari Denpasar berkata pada 15 May 2012:

Bagaimana kita bersukacita disaat segala sesuatu terjadi diluar yg kita harapkan? memang sulit tp ketika kita menyerahkan seluruh pergumulan kita kepada Dia dan katakan " Tuhan aku tidak sanggup lagi" tolonglah hambamu ini....pada saat kita angkat tangan, Tuhan turun tangan. memang tidak mudah, tp itulah yg harus kita lakukan.Kiranya Tuhan tetap menolong kita semua.

4. Kezia dari Tangerang berkata pada 16 May 2012:

Filipi 1:29, " Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia"

terpikir saat ada orang-orang yang kita kasihi sakit, bukankah kita pun ingin turut merasakan sakitnya atau penderitaannya.. paradox memang sekaligus sungguh menghiburkan karena Tuhan menyertai di tiap langkah hari demi hari sampai bertemu lagi denganNya :)

5. nadya artha christiani dari bogor berkata pada 4 June 2012:

bersukacita lah karna itu yang dikehendaki Tuhan....

artikel ini sangat membangun :)

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲