Transkrip

Tradisi Spiritualitas Puritan (Bag. II)

Spiritualitas Puritan
1. Kebutuhan untuk Bertobat (The Need for Repentance)
Mari kita melihat beberapa hal yang penting mengenai spiritualitas Puritan. Yang pertama, kebutuhan untuk bertobat (the need for repentance)—kebutuhan untuk bertobat supaya bisa diubahkan (in order to be converted) dan kebutuhan untuk bertobat supaya bisa disucikan setiap hari (in order to be sanctified every day).

Apakah Anda memperhatikan bahwa saya mengatakan ‘kebutuhan untuk bertobat supaya diubahkan’? Saya tidak mengatakan ‘kebutuhan untuk bertobat supaya diselamatkan’ (in order to be saved). Seperti sudah dijelaskan oleh Dr. Trumper (baca Doktrin Adopsi, Pillar edisi Agustus dan September-Red.), keselamatan adalah konsep yang sangat kaya. Bagaimana kita berespon kepada anugerah Allah? Kita memakai konsep yang umum: konversi (conversion), yaitu kembali kepada Allah. Konversi adalah perbuatan dan pengalaman manusia. Akan tetapi jelas konversi adalah anugerah Allah. Apa saja yang ada dalam konversi? Iman dan pertobatan. Puritan banyak berbicara tentang iman, juga banyak berbicara tentang pertobatan.

Lalu apa itu iman? Calvin mengatakan bahwa iman adalah memegang janji Allah—memegang janji Allah tentang kebaikan-Nya dan segala anugerah-Nya, memegang janji Allah di dalam Yesus Kristus. Allah berjanji bahwa segala kebaikan adalah bagi kita ketika kita dipersatukan di dalam Kristus. Janji-janji ini dimeteraikan dalam hati dan pikiran kita oleh Roh Kudus. Itulah definisi iman dari Calvin.

William Perkins adalah salah satu Puritan yang awal. Dari 1570-90, William Perkins merupakan salah satu penulis yang sangat penting dari Puritan. Muridnya, William Ames, adalah seorang theolog Puritan yang sangat berpengaruh tahun 1630-an. Pengakuan iman Westminster ditulis tahun 1640. John Owen adalah theolog Puritan paling penting di tahun 1660. Penulis Puritan terakhir yang kita kenal adalah Matthew Henry yang banyak menulis penafsiran Alkitab. Matthew Henry menggabungkan bijaksana dari Puritanisme dan menaruhnya menjadi satu. Puritan biasanya adalah seorang congregationalist dan presbyterian. Tetapi ada juga seorang Puritan baptist. Dia adalah John Bunyan. Jadi presbyterian, baptist, dan congregational adalah saudara di dalam gerakan Puritan.

Kembali kepada William Perkins. Definisi iman dari Perkins sangat mirip dengan Calvin. Iman adalah mengaplikasikan janji Allah secara pribadi. Bagaimana engkau melakukan itu? Bagaimana engkau mengaplikasikan janji Allah? Bagaimana membuat janji Allah itu menjadi personal, janji saya? William Perkins menjawab bahwa kita mengaplikasikan ini dengan satu keyakinan. Jawaban ini juga membingungkan. Pada dasarnya, ketika engkau percaya kepada Allah, percaya kepada Yesus Kristus, ada satu pengharapan yaitu percaya dengan yakin bahwa janji Allah adalah baik. Apa artinya percaya kepada Allah? Percaya bahwa Allah akan melakukan apa yang Ia berjanji akan lakukan. Saya percaya Allah akan menyelamatkan saya kalau saya percaya kepada Yesus Kristus. Jadi iman adalah memegang janji Allah di dalam Yesus Kristus. Itu definisi Calvin dan juga William Perkins.

Tetapi William Ames, yang menulis buku yang sangat terkenal berjudul “The marrow of theology” atau “marrow of divinity” mengatakan bahwa iman adalah menerima dan berteduh di dalam Yesus Kristus. Bisa dikatakan kita memeluk Yesus Kristus. Iman adalah siapa yang kita percaya. Kita percaya kepada Yesus Kristus. Tindakan untuk percaya dan menerima adalah tindakan dari kehendak, suatu komitmen, suatu keputusan.

Kita berpegang pada janji Allah, berfokus kepada janji Allah. Mungkin kita berkata ini berfokus kepada pikiran. Menerima Yesus Kristus dan bersandar kepada Yesus Kristus saja untuk keselamatanku adalah satu tindakan komitmen dan keputusan. Puritan percaya dua definisi ini. Maka ketika kita membaca pengakuan iman Westminster, kita melihat kedua definisi ini bergabung menjadi satu.

Lalu apakah pertobatan itu? Sebagian orang berkata pertobatan adalah hasil dari iman. Tetapi kebanyakan Puritan mengatakan bahwa pertobatan dan iman adalah dua sisi dari satu mata uang. Ada tiga langkah dalam iman, ada tiga langkah dalam pertobatan. Sebenarnya ada banyak langkah lainnya. Ada sepuluh langkah iman dan conversion. Dan enam langkah pertobatan (repentance). Mereka menyebut banyak langkah karena mereka berpikir bahwa Roh Kudus bekerja melalui pikiran kita. Roh Kudus mencerahkan pikiran saya sehingga saya melihat kebenaran dalam Alkitab. Roh Kudus bekerja dalam kehendak saya. Ketika Roh Kudus bekerja dalam kehendak saya, ada pertentangan, dan kemudian pertentangan diselesaikan, saya menyerah. Roh Kudus bekerja di dalam hati saya untuk menginginkan Yesus Kristus.

Apa itu iman? Ada tiga kata Latin. Pertama, notitia, yaitu pengetahuan. Kedua, assensus, yaitu persetujuan—setuju bahwa darah Yesus Kristus tercurah bagi saya, Injil untuk saya. Ketiga dan yang paling penting, fiducia—inilah yang William Ames katakan menerima dan berpegang kepada janji Allah untuk keselamatan saya.

Apa itu pertobatan? Juga tiga bagian. Pertama, menyadari dosa dan kehinaan saya. Secara casual kita katakan, saya mengaku saya orang berdosa. Akan tetapi orang Puritan lebih serius dari itu. Mereka mengatakan, “Saya orang berdosa, dan dosa membuat susah/sedih di dalam hati saya. Saya begitu mengenaskan. Jiwa saya ada dalam kondisi yang sangat berbahaya. Tetapi Allah sudah menyatakan anugerah-Nya dalam Yesus Kristus.” Inilah langkah yang pertama ketika orang bertobat. Ini adalah arahan yang baik bagi penginjilan. Hal pertama yang harus diakui oleh orang berdosa yaitu bahwa dia adalah orang berdosa. Bersalah. Rusak. Mengenaskan. Berbahaya. Saudara bisa berkhotbah dengan empat poin ini. Pak Tong mungkin bisa berbicara empat puluh khotbah tentang empat poin ini. Seorang Puritan memang bisa memberikan empat puluh khotbah itu. Mereka akan melihat seluruh Alkitab, seringkali pada Perjanjian Lama.

Langkah kedua dalam pertobatan adalah merasa sedih atas dosa-dosa saya, dan juga membenci dosa-dosa saya. Thomas Watson mengatakan bahwa kita harus merasa malu terhadap dosa kita. Katekismus Westminster tidak menggunakan kata malu. Banyak kaum Injili melakukan itu. Kita sedih terhadap dosa kita, dan kita memukul dada kita.

Langkah ketiga dari pertobatan sangat penting, dan ini adalah kunci kepada damai, kebebasan, dan sukacita. Langkah yang ketiga adalah, di dalam kalimat C. John Miller, profesor saya,—dia selalu berkata kepada saya setiap minggu—lari kepada salib. Katekismus Westminster mengatakan, “Kembali kepada Allah dengan satu komitmen dengan ketaatan yang baru.” Ini adalah cara hidup yang baru. Pertobatan termasuk perubahan tingkah laku. Tetapi bagi katekismus Westminster, penekanannya kepada komitmen. Bagi sebagian orang Puritan yang lain, pertobatan ditekankan pada perubahan tingkah laku.

Mari menggabungkannya. Apa itu pertobatan? Mengetahui di dalam pikiran saya bahwa saya kotor, mengenaskan, dalam posisi yang berbahaya. Lalu saya merasa sedih, saya membenci dosa saya, dan malu terhadap dosa saya. Tetapi hal yang ketiga adalah, saya lari ke salib. Apa artinya lari ke salib? Saya akan menjelaskan sedikit. Saya akan berkata meminta pengampunan, menerima pengampunan di dalam Yesus Kristus, percaya kepada pengampunan di dalam Yesus Kristus, dan bersyukur kepada Allah untuk pengampunan itu. Ingat kita harus melakukannya dalam urutan tersebut. Kita tidak bisa melakukan seperti yang penginjil populer lakukan, mengajarkan orang berkata, “Tuhanku, aku membutuhkan Engkau, terima kasih untuk mati di salib bagiku.” Sebelum kita berterima kasih karena Ia mati bagi kita, kita harus mengakui dulu bahwa kita adalah orang berdosa dan memohon kepada Allah untuk menyucikan hati kita. Ini seperti halnya iman adalah menerima Yesus Kristus, tetapi pertama setuju bahwa Alkitab itu benar. “Aku adalah orang berdosa, aku butuh Tuhan. Tanpa pengampunan Allah aku tidak memiliki masa depan. Aku minta Tuhan untuk mengampuniku.” Dan kita menerima pengampunan.

Jadi iman dan pertobatan menyangkut pikiran, kehendak, dan perasaan. Orang Kristen banyak yang tidak memiliki semangat atau jiwa air yang mengalir dari hati karena tidak memikirkan langkah yang ketiga ini. Kita harus memiliki pertobatan untuk perubahan (conversion). Kita harus memiliki pertobatan untuk penyucian. Kita harus memiliki pertobatan untuk damai sejahtera, sukacita, dan kebebasan. Kalau tidak kita akan terus memukul diri kita seumur hidup kita. Itu bukan kehendak Allah di dalam hidup kita.

Puritan terus mengkoreksi diri, ini berbeda dengan psychoanalysis. Ini juga berbeda dengan solitude, berdiam diri dan introspeksi. Pengujian diri dari orang Puritan berdasarkan isi Alkitab. Jadi Puritan bukan psychoanalysis. Puritan juga bukan orang Katolik. Puritan bukan percaya kepada agama-agama Asia. Meditasi mereka berdasarkan isi Alkitab, bukan sekedar mengosongkan pikiran, membayangkan gambar Yesus Kristus di hadapan kita.
Saya bukan hanya mengatakan, “Oh, seseorang melecehkan saya pada umur tiga tahun.” Dan saya terus mengatakan itu sepanjang hidup saya, sampai saya menemukan orang itu suatu hari, dan saya jujur dengan perasaan saya, mengatakan kepadanya, “Aku benci kamu.” Ini adalah apa yang dilakukan oleh sebagian konselor. Ini bukan spiritualitas Puritan. Ini adalah spiritualitas dunia. Sayang sekali gereja banyak dipengaruhi psikologi sekuler. Ini mungkin saya sebut sebagai secular psychoteraphy. Protestan juga banyak dipengaruhi oleh spiritualitas Katolik. Protestan dan Katolik juga banyak dipengaruhi oleh spiritualitas Hindu dan Budha. Dan belakangan ini, seminari-seminari Kristen banyak dipengaruhi oleh mistik Yahudi. Ada banyak kekayaan dari spiritualitas Puritan. Kita seharusnya tidak melihat di luar Protestan untuk mengetahui bagaimana harus bermeditasi.

2. Metode Mempelajari Alkitab
Kedua, Puritan juga mempunyai metode mempelajari Alkitab. John Calvin menulis Institute of Christian Religion dengan satu tujuan. Anda tahu apa tujuannya? Yaitu untuk mengajar murid tentang apa yang harus ia cari ketika membaca Alkitab. Ini adalah tujuan yang sangat menarik, bukan? Berarti banyak orang membaca Alkitab tapi tidak tahu apa yang mereka cari. Saya harap Anda orang-orang muda tahu bagaimana mempelajari Alkitab.

Bagaimana orang mempelajari Alkitab sekarang ini? Setiap orang duduk. Kita menyanyikan pujian. Kita menyanyi dengan gitar selama 30 menit. Setiap pujian dinyanyikan 6-6,5 kali. Tidak ada salahnya menyanyi pujian hingga 6 kali. Saya tadi meminta Anda menyanyi 2.5 kali. Akan tetapi menyanyi 6,5 kali bukanlah satu-satunya cara untuk beribadah kepada Allah. Apalagi ketika nyanyian itu berfokus kepada kita dan bukan Yesus Kristus. Hal kedua yang orang lakukan dalam pemahaman Alkitab adalah “Mari mendiskusikan pengalaman masa kecil kita.” Kita melakukan itu selama 20 menit lagi karena semua orang ingin bicara. Dan akhirnya kita membaca Alkitab. Ini seperti ham sandwich yang rotinya begitu tebal dan ham-nya tipis seperti kertas. Waktunya habis, sekarang waktunya kita berdoa. Belajar Alkitab sudah selesai. Saya khawatir ini adalah bagaimana sebagian orang muda melakukan pemahaman Alkitab.

Puritan mengajarkan apa yang harus kita cari dalam Alkitab. Ini yang dikatakan oleh William Tyndale. Ada tiga hal. Pertama, kita mencari hukum—apa yang diperintahkan Tuhan. Ketika Anda belajar dengan cara ini dalam grup PA Anda, biasanya kita membaca perintah, dan biasanya selalu ada seorang “wise guy” yang bertanya, “Apakah Allah memaksa saya melakukan ini atau saya melakukannya berdasarkan kemauan saya sendiri?” Adakah orang-orang seperti ini dalam kelompok PA Anda? Bagaimana jawaban terhadap pertanyaan itu? Tentu saja Allah ingin kita menaati-Nya secara sukarela tetapi kita harus menemukan hukum di dalam Alkitab karena Ia adalah Raja. Barulah kita bisa taat kepada-Nya dan mentaati hukum-hukum-Nya.

Kedua, William Tyndale berkata, “Engkau mencari janji Allah.” Ini berkaitan dengan keselamatan kita, kehadiran Allah, berkat Allah, penghiburan dari Allah—Allah tidak pernah meninggalkan kita. Kita mencari hal-hal ini. Hukum dan janji. Hukum dan Injil. Hukum dan anugerah. Mereka berjalan bersama. Saya melihat pendekatan Puritan terhadap Alkitab sebagai berikut. Hukum + janji = Injil. Hukum + janji = perjanjian anugerah. Itu cara melihat dengan gampang. Dalam Perjanjian Lama ada banyak hukum dan anugerah. Banyak hukum dan anugerah dalam Perjanjian Baru. Dan hanya ada satu perjanjian.

Hal ketiga yang dikatakan William Tyndale, “Engkau mencari contoh.” Puritan tidak takut melihat Alkitab meskipun orang-orang yang ditulis di dalamnya hidup ribuan tahun yang lalu. Mereka mengatakan kepada theolog-theolog sekarang bahwa bukanlah sesuatu yang kompleks untuk mempelajari orang-orang Yahudi di Perjanjian Lama dan orang-orang percaya di Perjanjian Baru. Anda tidak harus mendapat Ph.D. untuk mengetahui bahwa Allah berkarya di tengah umat-Nya. Saya tidak mengatakan bahwa Anda tidak perlu belajar latar belakang Alkitab. Akan tetapi mempelajari latar belakang Alkitab tidak cukup. Anda harus mencari berita utamanya dalam setiap bagian. Bagaimana Allah berkarya di tengah umat-Nya? Ketika Anda menemukannya, contohnya dalam 1 Korintus 10:1-13, Puritan akan berkata, itulah bagaimana Allah akan bertindak kepada umat-Nya sekarang. Dan mereka selalu melihat Alkitab dengan cara ini. Allah membuat perjanjian dengan umat-Nya. Allah bertindak terhadap umat-Nya. Yesus Kristus sedang berkarya di tengah umat-Nya hari ini. Yesus Kristus adalah Kepala Gereja. Mereka selalu melihat paralel, teladan-teladan.

Hukum, janji, dan contoh. Kalau Anda melihat hal-hal ini dalam Alkitab, berarti percaya akan menemukan hal-hal ini dalam Alkitab, Anda akan menemukan kebenaran dalam Alkitab tentunya. Dan itulah yang Puritan percayai.

3. Khotbah
Hal yang ketiga adalah bagaimana Puritan berkhotbah, dengan kata lain, bagaimana mereka mempelajari Alkitab? Mereka percaya bahwa dalam setiap bagian Alkitab paling tidak ada satu atau lebih doktrin. Saya akan memberi contoh bagaimana mereka melakukan ini. Mari kita melihat Yehezkiel 33:11,

Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Berikut ini adalah bagaimana seorang pendeta mengkonstruksi khotbahnya berdasarkan ayat ini:

  1. Ini adalah hukum Allah yang tidak pernah berubah bahwa orang berdosa akan hidup kalau mereka bertobat, bertobat kepada Allah.
  2. Allah bersukacita terhadap pertobatan orang, di dalam keselamatan mereka, tapi tidak bersukacita di dalam kematian atau penghancuran mereka. Orang Calvinist tidak takut mengatakan apa yang dikatakan Alkitab.
  3. Ini adalah kebenaran yang sangat meyakinkan, bahwa Allah telah mengkonfirmasi secara sungguh-sungguh, dengan sumpah-Nya.
  4. Allah menggandakan perintah-Nya, berarti Allah mengulangi diri-Nya. Perintah-Nya dua kali disebut supaya orang berdosa kembali kepada Allah.
  5. Allah turun untuk berargumentasi dengan manusia. Dan Allah bertanya kepada orang berdosa mengapa mereka mau mati.
  6. Setelah semuanya ini, jika orang berdosa tetap tidak mau bertobat, itu bukan tanggung jawab Allah tetapi tanggung jawab mereka. Mereka mati karena mereka ingin mati.

Mari kita lakukan satu lagi. Mazmur 51:3-4, ayat yang sangat familiar, berisi doa Daud meminta pengampunan Allah.

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! 

Saya akan berikan tiga poin dari satu khotbah berdasarkan ayat ini:

  1. Umat Allah ketika mereka ada dalam masalah, harus lari dan kembali kepada Allah di dalam doa dan mencari kelegaan dengan cara demikian. Arti kelegaan di sini adalah kekuatan.
  2. Menerima pengampunan dosa lebih berharga dari dibebaskan dari penghakiman yang paling mengerikan dari Allah.
  3. Pelayan-pelayan Allah yang terbaik tidak mempunyai dasar lain untuk berpengharapan, untuk menemukan perkenan Allah, untuk pengampunan dosa mereka, kecuali hanya di dalam belas kasihan Allah.

Apakah Anda akan berkhotbah atau mengajar PA dengan cara demikian?

Satu lagi, Roma 8:13

Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Tiga poin untuk khotbah:

  1. Orang Kristen yang terbaik, tentu saja mereka bebas daripada penghakiman dosa, mereka harus terus-menerus berusaha mematikan kuasa dosa di dalam diri mereka.
  2. Hanya Roh Kudus yang mampu melakukan ini.
  3. Kekuatan dari hidup spiritualitas kita tergantung kepada usaha kita untuk mematikan kuasa dosa.

Itulah cara Puritan mempelajari Alkitab. Mereka kemudian mempunyai banyak aplikasi berdasarkan ayat tersebut. Kadang-kadang mereka mempunyai 18 aplikasi terhadap 1-2 ayat saja. Karena itulah buku-buku Puritan sangat tebal. Anda bisa membeli buku-buku Puritan dari penerbit Banner of Truth and Trust. Ada buku-buku yang kecil namun itu sebenarnya hanyalah ringkasan. Contohnya: Doctrine of Repentance dari Thomas Watson, The Glory of Christ dari John Owen, The Holy Spirit oleh John Owen, The Rare Jewel of Christian Contentment oleh Jeremiah Burroughs. Seluruhnya adalah buku-buku yang agung. Orang-orang Puritan menulis buku-buku devotional tetapi dengan theologi yang solid.

4. Keyakinan akan Keselamatan
Keempat, mereka percaya bahwa kita bisa yakin terhadap keselamatan kita. Tetapi kebanyakan dari mereka percaya bahwa Anda harus berjuang dengan keras sebelum Anda bisa yakin dengan kepastian keselamatan itu.

Ketika Anda percaya pertama kali kepada Yesus Kristus, Anda memiliki iman. Itu adalah iman yang lemah. Iman permulaan. Tapi itu iman. Iman yang lemah adalah iman. Ada satu kepastian di dalamnya. Tapi iman yang lemah bukanlah iman yang sudah dewasa. Hanya dalam iman yang dewasa engkau memiliki kepastian yang yakin. Apakah dasar dari kepastian kita? Janji Allah di dalam Alkitab dan kesaksian Roh Kudus di dalam hati kita. Sebagian Puritan akan menambahkan yang ketiga: bukti-bukti di dalam hidup kita, anugerah Allah yang nyata. Ada orang yang mengatakan itulah perbedaan antara presbyterian dan congregational. Di dalam gereja presbyterian, apa syarat engkau boleh dibaptis? Percaya dalam hatimu dan mengaku dengan mulutmu. Dalam gereja congregational, termasuk gereja baptis, apa syarat engkau boleh dibaptis? Percaya dalam hatimu, mengaku dengan mulutmu, dan memberikan kesaksian dari pertobatanmu. Mengapa di gereja ini ada langkah tambahan? Karena mereka melihat ketiga komponen kepastian, bukan dua. Dalam pengakuan iman Westminster bab ke-18, ada sedikit kebingungan apakah dua atau tiga kepastian keselamatan ini tetapi mereka semua setuju bahwa Roh Kudus yang memberikan jaminan. Roh Kudus yang menulis Alkitab, bukan?

Ini adalah perjanjian anugerah, untuk kepastian keselamatan. Yesus Kristus mengasihi saya, itu adalah anugerah. Ini saya tahu karena Alkitab menyatakannya kepada saya. “Besar anugerah-Nya,” itulah janji. Janjinya nyata setiap hari bagi saya, itulah anugerah. Pusatnya adalah anugerah. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Saya harap Anda boleh belajar hymne dari Puritan. Mungkin di kesempatan lain saya akan mengajarkan pada saudara hymne Puritan yang begitu mendalam. Salah satunya adalah betapa kokohnya fondasi kita. Allah bekerja dalam cara yang misterius. Datanglah seluruh berkat. Yesus akan bertakhta. Dan ada hymne tentang kedatangan Yesus yang kedua, tentang akhir zaman. Anda tahu apa itu? “Joy to the world, the Lord has come.” Ini berdasarkan Mazmur 98, dikhususkan untuk menyatakan kedatangan yang kedua. Itulah inti dari spiritualitas Puritan. Kita bisa mengatakan banyak hal lagi, tetapi Anda bisa mengingatnya dengan lagu ini, “Great is Thy faithfulness”. Tetapi ketika kita membaca ‘besar anugerah-Nya,’ tentang apakah itu? Tentang anugerah, pengampunan dosa, pengharapan untuk masa depan. Ini semua tentang anugerah, dan Allah tidak berubah. Saya harap itu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi Anda. Ketika orang Puritan berbicara tentang kelegaan/penghiburan, mereka berbicara tentang kekuatan. (Habis)

Ari

November 2005

1 tanggapan.

1. Sugiarto dari Tangerang berkata pada 25 December 2012:

Salam Sejahterah dalam kasih Kristus, dengan ini saya ingin mensharing kan ringkasan ini pada website kami. Apakah diijinkan dan dengan tidak mengurangi isi dan sumber akan tetap kami cantumkan. Terima kasih

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲