Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
3P

Paedobaptism and Community: Sebuah Refleksi Mengenai Baptisan Anak

2 Desember 2025 | Jordan Frans Adrian 8 min read

What’s next?

Baptisan anak tidak jarang menimbulkan polemik antara denominasi umat Kristen. Baik pemeluk baptisan anak (paedobaptist) maupun juga baptisan dewasa (credobaptist) masing-masing sama-sama memegang kepercayaan mereka dengan teguh, dan hal ini bisa menghasilkan perpecahan yang semakin menjauhkan denominasi yang berbeda. Tentu artikel ini ditulis dari perspektif paedobaptist, dan dipublikasikan dalam buletin paedobaptist juga. Penulis memeluk tanya-jawab 10 dalam Katekismus GRII yang menyatakan bahwa baptisan diberikan “juga kepada bayi dan anak-anak orang percaya karena janji anugerah tersebut diberikan kepada mereka dan kepada keturunan mereka,” lalu mengutip Kis. 2:38-39 dan 16:31 sebagai pembuktiannya. 

Hal yang ingin dibahas oleh artikel ini adalah pertanyaan setelah anak dibaptis, what’s next? Tentunya kita akan menunggu sampai anak tersebut remaja untuk melakukan katekisasi dan konfirmasi iman melalui sidi. Tapi bagaimana dengan “masa antara” di tengah kedua titik tersebut? Bagaimana kita melihat anak-anak dalam periode tersebut, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh gereja?  

Hermeneutika kasih

Pandangan paedobaptist mengajarkan bahwa anak-anak yang dibaptis merupakan anak-anak perjanjian—atau bahkan secara lebih teologis, bisa disebut sebagai anak kovenan. Mereka bukanlah anak-anak yang seakan berada dalam sebuah limbo yang tidak jelas. Mereka adalah anak kovenan. Berkancah dari perspektif John Calvin, kita menerapkan hermeneutika kasih (hermeneutics of charity) dan bukan hermeneutika kecurigaan (hermeneutics of suspicion) terhadap anggota gereja. Kita tidak berusaha untuk mengorek-ngorek apakah seseorang sudah selamat atau belum. Kita boleh memiliki pertanyaan mengenai keadaan hati orang tersebut, tetapi hal tersebut bukan menjadi agenda utama kita saat berinteraksi dengan sesama pengaku Kristen. Kita menaruh percaya pada Tuhan yang menopang orang tersebut. Hermeneutika kecurigaan merupakan sudut pandang yang sangat melelahkan dan sangat berpotensi merusak komunitas, karena komitmen hati seperti itu sangat bertolak belakang dengan prinsip kasih. 

Dengan kacamata kasih tersebut, kita melihat anak-anak kovenan yang ditaruh dalam gereja sebagai, ya, itu—orang-orang Kristen. Ini salah satu sumbangsih teologia Reformasi yang tidak boleh kita lupakan: anak-anak kovenan merupakan sesamaku Kristen. Mungkin mereka belum memiliki pemikiran sekompleks orang dewasa, dan belum bisa melakukan tindakan-tindakan iman yang terkesan besar. Namun tidak ada tempat bagi kita untuk meremehkan anak-anak dan takaran iman mereka, karena tempat mereka dalam gereja yang kelihatan adalah setara dengan umat dewasa. 

Dinamika gereja dan iman anak 

Pada sisi yang lain, gereja perlu memikirkan tanggung jawabnya terhadap anak-anak kovenan ini, yang meski setara dengan orang dewasa, tetap lebih rentan dan bergantung kepada orang dewasa tersebut. Gereja memiliki tanggung jawab untuk mendidik mereka. Istilah “gereja” yang digunakan di sini bukan hanya merujuk pada para pemimpin maupun aktifis gereja, tetapi secara keseluruhan. Perspektif Cornelis van der Kooi dan Gijsbert van den Brink dapat menjadi masukan penting bagi kita kaum paedobaptist. Menurut hemat mereka, salah satu alasan untuk baptisan anak adalah fakta bahwa kovenan bersama Allah bukanlah sekedar suatu hal yang individualistik. Bahkan ketika mereka belum dapat mengakui iman dengan kapasitas yang sama dengan orang dewasa, mereka sudah diikutkan ke dalam komunitas anugerah, sebuah ranah di mana nilai-nilai Kerajaan Allah dihidupi dan harapannya dapat diresapi juga oleh mereka. 

Tapi pada sisi lainnya, penekanan credobaptist mengenai pentingnya pengakuan iman pribadi pun harus kita renungkan baik-baik. Di dalam kenyamanannya, sebuah gereja bisa menjadi dingin dan datar, tanpa dinamika lagi. Tidak ada lagi ekspresi iman yang hidup, dan katekisasi hanya menjadi sebuah formalitas yang merupakan tradisi yang melekat pada “kekristenan” tetapi tidak melekat pada pribadi anak yang bertumbuh dalam tradisi tersebut. Seperti dikatakan oleh van der Kooi and van den Brink: “where faith community no longer functions, paedobaptism can easily turn into an empty ritual.” Hal ini dikarenakan praktik baptisan anak merupakan sebuah komunitas iman yang dinamis dan hidup. Ketika dinamika ini berhenti dan menjadi sebuah ortodoksi yang mati dan statis, hampir-hampir baptisan anak menjadi suatu hal yang tidak berguna lagi. 

Perspektif van der Kooi dan van den Brink di sini relevan dalam menganalisis situasi gereja kontemporer. Menurut hemat penulis, tidak sedikit gereja-gereja tradisional yang semakin terkesan stagnan dan berkurang dalam komitmen imannya. Pada saat yang sama, banyak gereja Kharismatik yang menunjukkan iman yang hidup serta penuh dinamika. Dan tentunya, tidak sedikit juga gereja Kharismatik tersebut yang melakukan baptisan ulang. Dalam hal ini, praktik tersebut menjadi tak terpisahkan dari sebuah komitmen pribadi yang dilahirkan oleh komunitas iman yang hidup dan dinamis. Gereja-gereja tradisional harus memikirkan kembali dinamika iman dalam komunitasnya, dan bagaimana hal tersebut dapat “ditularkan” kepada anak-anak kovenan yang Allah percayakan kepada mereka. 

Shared responsibility

Poin van der Kooi dan van den Brink di atas bisa juga direfleksikan terhadap dualisme Sekolah Minggu dan peran orang tua terhadap kerohanian anak. Terkadang orang tua bisa lepas tangan dan memberikan tanggung jawab kerohanian anak mereka kepada Sekolah Minggu. Iman yang hidup itu tidak menjadi hal yang mereka sendiri modelkan di rumah, sehingga gambaran iman dalam rumah menjadi hal yang missing dalam perjalanan rohani anak. Lalu, skema ini bisa diaplikasikan secara lebih luas lagi. Seluruh gereja bisa melepaskan tanggung jawab kerohanian anak hanya kepada Sekolah Minggu atau KTB. Padahal, di dalam berbagai contoh pelaksanaan ritual baptisan anak, tanggung jawab komunal merupakan salah satu hal yang ditanyakan dalam susunan liturgi. Contohnya, denominasi CRCNA di Amerika mengajukan pertanyaan berikut kepada jemaat sebelum membaptis anak: 

Apakah engkau, umat Allah, berjanji untuk menerima anak ini dalam kasih, berdoa untuknya, membantu pembentukannya dalam iman, dan mendorong serta menopangnya dalam persekutuan orang percaya?

Setelah itu jemaat akan menjawab “[k]ami berjanji, biarlah Allah menolong kami.” Biarlah pengertian yang sama juga kita miliki saat kita menyaksikan baptisan anak dilakukan dalam gereja kita. Mungkin ada variasi dalam rangkaian kata atau liturgi, tapi semangat di atas seharusnya dimiliki oleh semua anggota gereja. Ini adalah tanggung jawab bersama, meskipun pengejawantahannya akan bervariasi. Bagi beberapa orang, mungkin ini berarti kita harus terjun ke dalam pelayanan Sekolah Minggu. Bagi beberapa orang lagi, mungkin ini berarti memasukkan satu-dua pokok doa dalam daftar syafaat pribadi kita. 

Tapi mungkin yang lebih penting lagi, seharusnya kita lebih berjuang dalam membangun budaya komunitas gereja erat di mana koneksi intergenerasional dapat dijalin dan tidak dilihat sebagai hal yang aneh. Pada zaman ini, kerap kali gereja menjadi sangat tersegmentasi. Tentu ada tempatnya untuk penggolongan berdasarkan usia, tetapi kelihatannya hubungan lebih erat antar generasi harus diperjuangkan. Alkitab juga menunjukkan hubungan erat lintas generasi dalam umat Allah, dengan komunitas pengikut Yesus mula-mula sebagai contoh. Maka, hal tersebut seharusnya menjadi hal yang kita usahakan. 

Injil dan vitalitas gereja 

Tapi bagaimana gereja dapat memungut semangat untuk vitalitas imannya? Tentu ada banyak jawaban. Tapi mungkin hal paling dasar yang harus dilakukan adalah untuk terus kembali kepada Injil. Pada satu sisi, kita harus mengingat hutang Injil pun merupakan suatu hutang kita kepada sesama anggota gereja. Seperti kata Pdt. Dr. Stephen Tong, kalau gereja berhenti menginjili, pastilah gereja tersebut sedang membunuh dirinya sendiri. Kita bisa perluas aplikasinya dan menujukannya ke dalam gereja. Sebuah gereja membunuh dirinya sendiri saat orang-orang di dalam gereja tidak pun tidak terus menerima re-evangelisasi. Karena, ya, mungkin ada orang dalam gereja yang belum benar-benar bertobat. 

Tapi lebih dari itu, pada sisi lainnya, orang Kristen terus membutuhkan Injil demi kehidupan rohani yang sehat dan bertumbuh. Hal ini dikonfirmasi oleh Timothy Keller, yang mengatakan bahwa “Christians need the gospel as much as non-Christians do.” Terkadang kita pikir bahwa Injil itu hanya untuk orang yang belum percaya saja, dan tentu itu menjadi tugas gereja yang tidak boleh dikompromikan. Tapi Injil seharusnya juga menjadi hal yang dikabarkan, ingatkan, dan resapi terus oleh para penganut. Ketika kita membiarkan Injil menjadi hal yang direnungkan pada permulaan perjalanan iman saja, maka gereja akan menjadi stagnan, karena Injil memberikan jawaban terhadap berbagai macam pergumulan hidup orang Kristen. 

Ketika gereja berhenti menggali dan mengaplikasikan Injil, ia akan kehilangan vitalitasnya. Sekalipun gereja mengusahakan komunitas antar generasi yang erat seperti dibahas dalam bagian sebelumnya, tanpa Injil, komunitas akan kehilangan jantung yang memberikan vitalitas bagi kehidupannya. Maka dua hal tersebut harus berjalan bersama-sama. Gereja harus terus menggali kelimpahan Injil yang sejati, yang seharusnya mendorongnya untuk membangun komunitas yang hidup, di mana iman yang didorong oleh Injil tersebut dapat diresapi oleh anak-anak kovenan.  Jadi, marilah kita membaptis anak-anak kita, dan membesarkan mereka dengan semangat Injil yang terus kita kabarkan dan hidupi dalam gereja. Kiranya Tuhan menguatkan umat-Nya untuk mengasuh dan membesarkan anak-anak kovenan yang Ia percayakan pada gereja-Nya.

Jordan Frans Adrian
Mahasiswa STTRII

Daftar Pustaka

Calvin, John. Institutes of the Christian Religion. Edited by John Thomas McNeill. Translated by Ford Lewis Battles. The Library of Christian Classics. Louisville, Ky. London: Westminster John Knox Press, 2011.

Keller, Timothy. “Christians Need the Gospel as Much as Non-Christians Do.” Social Media. Facebook, February 2, 2020. https://www.facebook.com/TimKellerNYC/posts/christians-need-the-gospel-as-much-as-non-christians-do/2943516305688236/.

Kristanto, Billy, and David Tong. Ini Yang Kupercayai: Pelajaran Katekisasi Gereja Reformed Injili Indonesia. Materi Katekisasi. Version 19 Juli 2014. Gereja Reformed Injili Indonesia, 2014.

Tong, Stephen. “Doa Bapa Kami – Bagian 6: Jadilah Kehendak-Mu.” Buletin Pillar, February 15, 2016. https://www.buletinpillar.org/transkrip/doa-bapa-kami-bagian-6-jadilah-kehendak-mu.

URCNA. “Liturgical Forms.” Liturgical Forms and Prayers of the United Reformed Churches in North America. Accessed July 21, 2025. https://formsandprayers.com/liturgical-form/.

Van der Kooi, Cornelis, and Gijsbert Van den Brink. Christian Dogmatics: An Introduction. Chicago: Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 2017.

Tag: Baptisan, Baptisan Anak, gereja, katekisasi, komunitas, paedobaptism, Perjanjian

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII