Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Alkitab & Theologi
Lukisan Konsili Trente

Konsili Trente: Respon Gereja Katolik terhadap Soteriologi Luther (Bagian 4)

30 Oktober 2025 | Mario A. J. Sirait 5 min read

Dengan gerakan reformasi yang besar dan kian meluas ke seluruh Eropa waktu itu, Gereja Katolik Roma memberikan respon balik terhadap pengajaran soteriologi Luther. Luther menekankan keselamatan yang adalah anugerah Allah semata dan diperoleh hanya melalui iman semata. Hal ini sangat bertentangan dengan Gereja Katolik Roma, sebagaimana Gereja Katolik Roma menekankan bahwa keselamatan diperoleh melalui anugerah Allah dan diterima oleh manusia yang mau bekerja sama (sinergisme) dengan melakukan pertobatan, baptisan, dan perbuatan baik di hadapan Tuhan. Meresponi soteriologi Luther, Gereja Katolik Roma melakukan suatu konsili yang disebut Konsili Trente. Konsili Trente membahas banyak hal, di antaranya adalah tentang kanonisasi Alkitab, transubstansiasi, dan terutama titik beratnya dalam hal soteriologi Luther, yang termasuk di dalamnya membahas tentang pembenaran, iman yang membawa pada keselamatan, predestinasi ganda, dan kehendak bebas manusia. Terhadap justifikasi, Konsili Trente menyatakan bahwa:  

“Mereka yang telah mempunyai sikap batin (disposisi) terhadap keadilan, ketika bangkit dan dibantu oleh rahmat ilahi, menerima iman melalui pendengaran, mereka digerakkan secara bebas kepada Tuhan, percaya bahwa apa yang telah dijanjikan dan diwahyukan secara ilahi, secara khusus bahwa pendosa dibenarkan oleh Tuhan melalui rahmat-Nya, melalui penebusan yang ada di dalam Kristus Yesus; dan ketika memahami dirinya sebagai pendosa, mereka, dengan berbalik dari ketakutan akan keadilan ilahi…, kepada belas kasihan Tuhan, dibangkitkan kepada pengharapan, percaya bahwa Tuhan akan mengampuni mereka demi Kristus; dan mereka mulai mengasihi Dia sebagai mata air segala keadilan, dan karena itu mereka menolak dosa dengan kebencian dan kejijikan, yaitu dengan pertobatan yang harus mereka lakukan sebelum Baptisan, dan akhirnya ketika mereka memutuskan untuk menerima Baptisan, untuk memulai kehidupan baru dan memelihara perintah-perintah Tuhan.” (Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, bab 6)

Dalam Konsili Trente, justifikasi bukan merupakan pernyataan “legal” bahwa seseorang telah dianggap benar di hadapan Allah, sehingga tidak ada konsep kebenaran yang diimputasikan (Allah memperhitungkan kebenaran Kristus pada orang percaya) di dalam teologi Trente, melainkan semacam gabungan dari konsep pembenaran dan penyucian teologi Reformed. Terdapat penyebab terjadinya justifikasi, yakni penyebab final (kemuliaan Allah dan dari Kristus dan hidup kekal), penyebab yang menghasilkan (Allah yang menyucikan oleh Roh Kudus), penyebab yang berjasa (Penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib), penyebab yang menjadi sarana (Sakramen Baptis), dan penyebab formal (keadilan Allah). Iman saja tidak dapat membuat seseorang dinyatakan benar dalam soteriologi Trente, tetapi seseorang dibenarkan oleh iman yang bekerja sama dengan perbuatan baik. Iman sejati, yakni iman yang menyelamatkan adalah iman yang bekerja dalam kesatuan dalam pengharapan dan kasih. Perbuatan tersebut tidak dapat dilakukan di luar iman, dan mereka yang mengatakan demikian akan menjadi anathema (Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, Kan.1). Namun, bagi Katolik Roma, iman tersebut tidak membenarkan di dalam pengertian yang terpisah dengan perbuatan baik, sehingga kebaikan dan kasih harus tetap ada sebagai syarat, sebagaimana tertulis dalam Kanon 12, 14, dan 16 dalam Konsili Trente:

“Barang siapa berkata bahwa iman yang membenarkan, adalah tiada lain selain dari keyakinan dalam kerahiman ilahi yang menghapus dosa-dosa demi Kristus, atau bahwa keyakinan ini saja yang membuat kita dibenarkan: biarlah ia menjadi anathema “(Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, Kan. 12).

“Barang siapa berkata bahwa manusia diampuni dosanya dan dibenarkan, karena ia percaya dengan yakin bahwa ia diampuni dan dibenarkan, atau bahwa tak seorangpun dapat dibenarkan kecuali ia yang percaya bahwa dirinya sendiri dibenarkan; dan bahwa hanya dengan iman sedemikian, pengampunan dan pembenaran diperoleh, biarlah ia menjadi anathema” (Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, Kan. 14).

“Barang siapa berkata bahwa ia akan dapat, pasti dengan kepastian yang absolut dan tidak mungkin salah, memiliki karunia keteguhan iman (the gift of perseverance) sampai kesudahannya, kecuali ia mengetahui hal ini melalui wahyu yang khusus: biarlah ia menjadi anathema (Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, Kan. 16).

Namun, bukankah manusia telah mati di dalam dosa? Dalam Konsili Trente, kejatuhan manusia tidak membuat manusia tidak lagi bisa berbuat baik. Manusia yang jatuh masih memiliki kehendak bebas dan masih bisa berbuat baik. Benar, bahwa rahmat Allah membuat manusia bisa berbuat baik, tetapi ada kerjasama antara manusia dengan Allah sehingga manusia bisa berbuat baik. Hal ini dituliskan bertentangan dengan pengajaran Luther yang menyatakan bahwa manusia mustahil untuk berbuat baik karena kejatuhannya dalam dosa. Konsili Trente menuliskan dalam kanonnya sebagai demikian:

“Barang siapa berkata bahwa setelah dosa Adam, kehendak bebas manusia telah hilang dan rusak, atau hanya tinggal nama saja, memang seperti gelar tanpa kenyataan, sebuah fiksi, bahkan, dibawa masuk ke dalam Gereja oleh iblis: biarlah ia menjadi anathema.” (Konsili Trente, Dekrit tentang Justifikasi, kan. 5)

Jadi, keselamatan diinisiasikan oleh anugerah, tetapi tidak hanya melalui iman saja. Seseorang harus berusaha melakukan perbuatan baik di dalam anugerah Kristus, karena anugerah itu diinfusikan, yang artinya Allah membuat kita menjadi benar dari dalam dan bukan diimputasikan, seakan kita tidak pernah berbuat dosa. Barangsiapa yang jatuh ke dalam dosa berat, dia dapat kehilangan pembenarannya, sehingga dia harus bertobat dan menerima Sakramen Tobat. Pembenaran dapat bertambah melalui perbuatan baik, dan sakramen adalah instrumen untuk memperoleh anugerah yang lebih. Seorang Katolik harus terus mengusahakan dirinya agar tetap di dalam kondisi rahmat. Respon tersebut tentu merupakan respon yang keras terhadap perpecahan yang terjadi. Roma Katolik memiliki teologinya sendiri yang kuat. Tetapi reformasi tidak berhenti pada perseteruan antara Roma Katolik dengan Luther. Gerakan lain telah bertumbuh dari reformasi ini dengan radikal. Kita akan bahas pada tulisan selanjutnya.

Mario A. J. Sirait

Pemuda GRII Pusat

Tag: ajaran, anugerah, doktrin, Katolik, kebenaran, keselamatan, Konsili, kristen, trente

Baca ini juga yuk

Gerakan Anabaptis: Perpisahan Radikal dengan Institusi Duniawi

Di abad ke-16, sekelompok orang menolak “iman yang aman.” Felix Manz dan Conrad Grebel memimpin gerakan yang mengguncang Eropa — Anabaptis. Bagi mereka, iman bukan simbol, tapi ...

Alkitab & Theologi - Mario A. J. Sirait 6 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII