Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Alkitab & Theologi

Mappa Mundi dan Betlehem

28 Desember 2025 | Immanoel Ezra D. P. 16 min read

Manusia dan tempat tidak pernah bisa dipisahkan. Sebagian besar dari kita, setiap pagi, sudah terbiasa untuk berpindah: bangun tidur, berjalan ke kamar mandi, kemudian pergi ke meja makan atau meja rias, lalu menuju tempat yang perlu kita hadiri, seperti kantor, sekolah, lapangan, rumah sakit, dan seterusnya. Manusia sudah sangat terbiasa dengan fenomena ini. Namun, tahukah kita bahwa hal ini merupakan anugerah Allah yang besar? Dengan seluruh kapasitasnya, manusia dimungkinkan untuk berpindah dan/atau hadir di tempat yang sangat sulit dihampiri. Kendaraan dan media sosial menjadi bukti bahwa manusia dapat “hadir” di banyak tempat. Kendaraan memungkinkan seluruh tubuh kita berpindah, sementara media sosial memungkinkan kehadiran diri tanpa harus memindahkan tubuh.

Beberapa hewan dan tumbuhan sangat terbatas dalam berpindah dan memerlukan medium tertentu untuk bergerak. Meskipun demikian, keterbatasan tersebut dapat diteliti sehingga kita dapat mengetahui keunikan ciptaan. Perpindahan ini biasanya diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu taksis dan tropisme.

Apa itu taksis dan tropisme?

Taksis berasal dari bahasa Yunani τάξις (taxis), yang berarti arrangement (penataan) atau movement in response, yakni gerak menuju arah tertentu sebagai respons terhadap rangsangan. Biasanya, taksis digambarkan sebagai perpindahan seluruh tubuh atau struktur organisme.

Anda dapat melihat Gambar 1 di bawah ini. Saya menyajikan hasil penelitian mengenai cacing C. elegans yang bergerak mengikuti rangsangan suhu. Kode warna biru menandakan temperatur dingin (17°C), sedangkan warna merah gelap menandakan temperatur hangat (23°C). Eksperimen ini menunjukkan bahwa sampel C. elegans akan bergerak ke arah temperatur yang cocok atau kompatibel dengan suhu tempat mereka dibudidayakan sebelum eksperimen dilakukan.

Gambar 1. Gerakan termotaksis cacing C. elegans. Tanda silang berwarna hitam adalah titik awal peletakan C. elegans. Titik putih pada aparatus persegi panjang adalah titik akhir dari pergerakan C. elegans. Garis putih pada aparatus lingkaran menunjukkan lintasan C. elegans.1

Sementara itu, tropisme berasal dari bahasa Yunani τροπή (trope), yang berarti turning atau membelok. Untuk memahami terminologi ini, perhatikan Gambar 2. Pohon bertumbuh ke atas karena tumbuh menuju sumber energi, yaitu matahari. Ketika terjadi longsor yang membuat pohon tersebut berubah dari posisi tegak menjadi miring, pertumbuhannya akan membelok dari posisi miring itu ke arah matahari. Kemampuan untuk membelok inilah yang disebut fototropisme.

Gambar 2. Dampak pergerakan longsor planar terhadap pertumbuhan pohon.2

Dari contoh taksis dan tropisme tersebut, kita dapat memahami bahwa gerakan makhluk hidup bukanlah sesuatu yang “suka-suka”, melainkan mengikuti prinsip atau aturan tertentu, baik secara sadar maupun tidak sadar. Baik cacing maupun pohon akan bergerak—atau berbelok—ke arah lingkungan yang compatible atau favorable bagi kelangsungan hidup mereka, meskipun kemampuan bergerak itu sangat terbatas.

Keterbatasan ini terjadi karena adanya perbedaan degree of freedom atau derajat kebebasan. Manusia memiliki derajat kebebasan bergerak yang paling tinggi, sementara cacing dan pohon memiliki derajat kebebasan yang jauh lebih rendah. Mode atau opsi gerak manusia sangat luas. Allah menciptakan tubuh manusia sedemikian rupa sehingga kita dapat berlari, berenang, mendaki, memanjat, menyelam, dan seterusnya.

Sekarang, apa itu gerak? Mungkin Anda akan dengan mudah menjawab bahwa sesuatu disebut bergerak ketika ia berpindah. Jika itu jawaban Anda, maka jawaban tersebut tepat. Berpindah selalu melibatkan dua hal, yaitu objek itu sendiri dan perubahan kedudukannya.

Bergerak berkaitan erat dengan natur materi. Materi adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang.3 Kita terdiri dari materi; memiliki massa dan menempati ruang. Memiliki massa dalam kacamata fisika klasik berarti Anda tangible, berwujud, dan nyata. Pipi Anda bisa dicubit dan tangan Anda bisa menyentuh benda karena Anda dan benda tersebut sama-sama memiliki massa. Namun, bukan hanya Anda memiliki massa sehingga disebut “ada”; Anda juga ber-ada pada suatu tempat.

Pada kesempatan ini, saya akan berfokus pada ke-ber-ada-an atau eksistensi kita di dalam ruang. Gereja tidak banyak membahas signifikansi dari tempat atau ruang. Ruang adalah wadah di mana kita berada. Lalu, bagaimana gereja dapat melihat signifikansi ruang? Dengan cara melihat dari kacamata penciptaan itu sendiri.

Ketika kita membaca Kejadian 2:8

Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlahditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. (Kejadian 2:8)

Kejadian 1 memperkenalkan identitas manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Kejadian 2 menunjukkan eksistensi atau keberadaan Adam dan Hawa. Salah satu syarat eksistensi manusia adalah menempati ruang; dengan demikian, ruang juga menjadi bagian dari identitas manusia. Adam dan Hawa menempati suatu tempat, yaitu sisi timur Eden. Jika Adam dan Hawa memiliki KTP, maka tempat dan tanggal lahir mereka adalah: Timur Eden, hari keenam penciptaan. Kejadian 1 dan 2 bersama-sama menunjukkan identitas manusia yang utuh. Kita adalah gambar dan rupa Allah, yang berwujud—memiliki form—bukan ethereal seperti hantu, dan menempati ruang sehingga dapat ditemui.

Inilah yang menarik dari ruang yang Allah ciptakan: Ia menempatkan kita dalam ruang yang besar agar kita dapat dihampiri. Kita melihat hal ini dalam Kejadian 3:8–9. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Alkitab menggambarkan Allah yang sedang berjalan-jalan atau taxis di taman pada waktu hari sejuk. Allah berjalan-jalan bukan sedang jaywalking atau jalan sembarangan, melainkan hendak menemui Adam dan Hawa. Kalau taxis atau gerakan cacing C. elegans mengarah ke temperatur yang compatible dan favorable. Gerakan Allah adalah menghampiri manusia. Sehingga manusia pun bisa bergerak ke arah Allah. Inilah fungsi dari Allah menciptakan ruang adalah bahwa Allah senang menemui kita.

Semesta yang besar menjadi teater yang luas agar manusia dapat menikmati Allah—termasuk di dalamnya ruang. Jika saya membuat katekismus bagi mahasiswa Kristen tingkat sarjana, mungkin pertanyaan pertamanya adalah sebagai berikut:

What is the chief end of space? The chief end of space is to show that God delights and is pleased to visit us, so that we may have sweet and everlasting communion with Him.

Apakah tujuan utama dari ruang? Tujuan utama dari ruang adalah menyatakan bahwa Allah senang dan berkenan hadir mengunjungi kita, supaya kita dapat menikmati persekutuan yang manis dan kekal dengan-Nya.

Dengan kata lain, dunia ini adalah bait Allah. Tulisan G. K. Beale menjelaskan bahwa kata “berjalan” mengandung makna kehadiran Allah di dalam bait. Hal ini terlihat dalam Imamat 26, ketika Tuhan berjanji bahwa Ia akan berjalan di tengah-tengah umat-Nya dan menjadi Allah mereka.

Even the seemingly casual mention of God “walking” in the Garden of Eden (Gen. 3:8) is rich with connotations that suggest God’s presence in the temple. In Leviticus 26, the Lord promises that he will “walk” among them and be their God (Lev. 26:12). In Deuteronomy 23, the Lord commands the Israelites to keep their camp holy because he “walks” in the midst of their camp (Deut. 23:14).4

Beale juga menjelaskan bahwa dalam tulisan Yehezkiel, Eden secara eksplisit disebut sebagai bait. Bahkan figur yang digambarkan seperti Adam di Eden mengenakan pakaian bertatahkan permata, menyerupai pakaian imam sebagaimana diatur dalam Keluaran 28.

More explicitly, Ezekiel calls Eden a temple, referring to it as “the garden of God . . . the holy mountain of God” containing “sanctuaries” (Ezek. 28:13-14, 16, 18). “Mountain” and “sanctuaries” are both references elsewhere to the temple. Ezekiel also speaks of an Adam-like person in Eden wearing bejeweled clothing like a priest (Ezek. 28:13, alluding to Ex. 28:17-20) whose sin profanes the sanctuaries and causes him to be cast out (Ezek. 28:17-18). Therefore, the Garden of Eden is most explicitly called a temple with an Adam-like figure as its priest in Ezekiel 28:18.4

Selain keunikan G. K. Beale dalam melihat Eden sebagai bait Allah, tradisi Kristen Abad Pertengahan juga merefleksikan pandangan serupa melalui representasi visual dunia. Salah satu contoh paling menarik terdapat di Katedral Hereford, Inggris, yaitu sebuah peta dunia yang dikenal sebagai Hereford Mappa Mundi (Gambar 3). Peta ini diperkirakan dibuat sekitar tahun 1100 Masehi, pada masa Abad Pertengahan.

Gambar 3. Hereford Mappa Mundi.5

Jika kita membandingkannya dengan peta modern—baik peta digital yang dapat diakses secara daring maupun peta cetak—kita akan menemukan perbedaan mendasar. Peta modern umumnya memiliki empat unsur utama: arah mata angin, skala, batas-batas geografis, dan toponimi (nama tempat). Unsur-unsur ini membentuk standar kartografi modern yang bertujuan memberikan informasi presisi mengenai lokasi, jarak, dan posisi berdasarkan sistem koordinat tertentu. Sekali lagi, peta modern hanya memberikan informasi referensi koordinat dan selesai.

Pembuatan peta sendiri bukanlah pekerjaan sederhana. Bumi yang berbentuk bola tiga dimensi harus diproyeksikan ke bidang datar (planar) dua dimensi, dan proses ini pastinya menimbulkan distorsi—baik distorsi jarak, sudut, maupun luas (Gambar 4). Bahkan peta modern yang paling canggih pun tidak pernah sepenuhnya bebas dari distorsi; paling tidak, selalu ada satu aspek yang dikorbankan. Karena itu, presisi dalam pembuatan peta menjadi sangat penting, sebab manusia membutuhkan peta untuk mengetahui posisi dan jarak mereka di dalam dunia.

Gambar 4. Tipe proyeksi peta.6

Sejak peradaban-peradaban tertua seperti Sumeria hingga masa kini, peta selalu menjadi produk peradaban yang krusial. Dengan segala keterbatasan teknis maupun kemampuan kartografis yang dimiliki, setiap peradaban tetap memerlukan peta untuk bernavigasi dan memahami dunia. Kenapa demikian? Karena Allah menciptakan kita dalam ruang.

Dalam konteks ini, keunikan Hereford Mappa Mundi terletak pada konfigurasi T–O yang digunakannya. Konfigurasi ini lazim pada peta Abad Pertengahan, dengan Asia ditempatkan di bagian atas, sementara Eropa dan Afrika berada di sisi kanan bawah dan kiri bawah (Gambar 5).

Konfigurasi semacam ini tentu terasa asing bagi kita yang terbiasa dengan peta modern yang dipajang di ruang kelas: Eropa di bagian atas, Indonesia di tengah, dan Australia di bawah. Jika persepsi Anda terhadap peta adalah seperti yang telah saya sebutkan, maka Anda adalah pengamat peta yang cermat. Orientasi tersebut merupakan konsensus modern, di mana true north selalu diarahkan ke atas. Konsensus ini penting agar manusia memiliki referensi arah yang sama.

Gambar 5. Konfigurasi T-O pada peta Abad Pertengahan.7

Pengalaman pribadi saya menegaskan pentingnya kesepakatan arah ini. Ketika kuliah, saya dan seorang teman pernah melakukan pemetaan litologi (batuan) di daerah terpencil. Setelah selesai, kami hendak mencari warung makan terdekat. Tidak ada sinyal ponsel, dan peta kami tidak mencantumkan lokasi warung. Seorang bapak yang kami temui memberi petunjuk arah berdasarkan ciri-ciri alam: sungai, sawah, dan batas desa. Bapak tersebut bilang, ”Nanti ketika ada tulisan batas desa, belok kanan, Mas.” Ketika kami sampai di batas desa, ternyata terdapat persimpangan lima jalan. Instruksi “belok kanan” menjadi ambigu karena ada lebih dari satu jalan ke arah kanan. Beruntung, kami akhirnya memilih jalan yang benar. Pengalaman ini menunjukkan bahwa tanpa sistem orientasi yang jelas, navigasi menjadi sulit.

Hereford Mappa Mundi memiliki orientasi yang berbeda: arah utaranya tidak menunjuk ke Kutub Utara, melainkan ke arah Asia—yang dalam peta modern kita berarti timur. Mengapa demikian? Karena pembuat peta ini membaca Kejadian 2:8, yang menyebutkan bahwa Eden terletak di sebelah timur. Dengan demikian, Eden dipahami sebagai kiblat dunia, kiblat ke arah Eden atau bait Allah, dan timur menjadi arah utama atau true north. Ini bukan kesalahan kartografi, melainkan variasi orientasi peta akibat pemahaman theologis. Dari sinilah muncul istilah orientation, yang berasal dari bahasa Latin oriens, berarti timur.

Menariknya, Hereford Mappa Mundi bukan sekadar peta liturgis yang dipajang di gereja, tetapi juga benar-benar digunakan sebagai peta navigasi. Kapal-kapal yang berlayar di Laut Mediterania—wilayah strategis yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika, serta pernah dikuasai Kekaisaran Romawi—menggunakan peta ini sebagai panduan. Dengan true north yang mengarah ke timur (dalam peta modern), para pelaut, dari nakhoda hingga perompak, dapat menjelajah jauh.

Pada Gambar 6, Anda dapat melihat dua cuplikan dari detil bagian Hereford Mappa Mundi. Gambar kiri menunjukan rute perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir. Anda dapat melihat tiga loops atau putaran yang berada pada gurun Sinai. Hal ini digambarkan sebagai model kehidupan kristen dalam menjalani pengembaraan di dunia. Sisi kanan adalah labirin Kreta, menjadi simbol kebingungan dan tidak ada jalan keluar dalam berkelananya manusia. Peta ini dibuat supaya manusia melihat true north atau kiblat berarah ke orient atau timur di mana di sanalah gambaran kehadiran Allah.

Gambar 6. Dua cuplikan detail Hereford Mappa Mundi. Kiri: Rute perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir. Kanan: Labirin di Kreta sebagai representasi kebingungan manusia dalam melintasi dunia.5

Pertanyaannya kemudian: ke manakah orient kita tertuju? Ke arah mana taxis—arah gerak hidup—kita diarahkan? Agustinus, dalam City of God, menyatakan bahwa hanya ada dua tujuan akhir: Civitas Dei (Kota Allah) dan Civitas Terrena (Kota Dunia). Penentu arah itu hanya satu, yakni amor (cinta). Arah cinta itu pun hanya dua: amor Dei (cinta kepada Allah) atau amor sui (cinta kepada diri sendiri). Jika orientasi dan arah hidup kita ditentukan oleh amor sui, maka kita sedang bergerak menuju Civitas Terrena.

Apabila amor sui menjadi true north yang kita hidupi, maka navigasi hidup kita berujung pada kebinasaan dan kesia-siaan, seperti ilustrasi labirin Kreta yang ada di Hereford Mappa Mundi. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia telah jatuh dalam dosa dan tidak ada satu pun yang secara alami mencari arah yang benar. Tidak ada yang memiliki amor Dei yang sejati. Lalu, adakah orientasi yang sejati? Adakah amor Dei yang sempurna?

Amor Dei yang sejati hadir dalam pribadi yang bergerak (taxis) sepenuhnya dari tempat yang mulia menuju tempat yang hina, karena cinta-Nya kepada Bapa dan kepada kita. Siapakah Dia? Tuhan kita, Yesus Kristus. Inilah paradoks dari gerakan kesalamatan, Allah bergerak (taxis) menuju ke tempat yang tidak compatible untuk diri-Nya. Berbeda dengan manusia, cacing, dan pohon yang selalu bergerak ke arah yagn compatible untuk menjalani hidup mereka.

Di sini saya mau menunjukan hal krusial dari gerakan keselamatan. Allah yang kudus menjadi manusia di dunia yang telah jatuh dalam dosa. Hal ini mustahil terjadi karena keberadaan Allah dan dosa tidak pernah bersatu. Kita bisa ingat peristiwa Uzzah. Kehadiran Allah dan keberdosaan tidak bisa ditoleransi. Uzzah mati ketika dia memegang tabut perjanjian Allah yang sedang terjatuh ke tanah dari kereta dorongnya. Bagi Uzzah, tidak baik jika tabut perjanjian Allah jatuh ke tanah berlumpur di mana sapi-sapi membuang kotoran. Menurut R. C. Sproul, lebih baik bagi Allah apabila tabut itu jatuh ke tanah, karena tanah tidak melakukan dosa, sedangkan tangan Uzzah penuh dengan dosa. Maka matilah Uzzah.8

Inilah grandeur dan misteri inkarnasi. Inkarnasi adalah pekerjaan Allah Tritunggal, Bapa mengutus Anak, Anak menjadi manusia, dan Roh Kudus membuat hal ini menjadi mungkin. Bayangkan ketika Sang Anak yaitu Tuhan Yesus dikandung oleh Bunda Maria. Pada saat itu, rahim Bunda Maria menjadi membran tipis dan rapuh yang memisahkan kehadiran Allah yang kudus dengan kepastian kehancuran dunia yang berdosa. Inilah pekerjaan Roh-Kudus yang membuat inkarnasi bisa terjadi. Inkarnasi bukanlah reduksi ontologis dengan mekanisme fisika klasik. Dalam inkarnasi, Kristus adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pemisahan, dan tanpa pembagian. 

Word of the Father, now in flesh appearing!

Hanya cinta yang sempurna yang sanggup menggerakkan (taxis) Allah untuk datang ke dunia. Hanya cinta yang sempurna sanggup menghadirkan Allah ke dunia. Dunia bukanlah arah yang indah. Secara naluriah, kalau kita bertemu persimpangan jalan satu ke istana dan satu ke pembuangan limbah, maka secara spontan kita menuju jalan ke istana. Namun Kristus memilih jalan ke pembuangan limbah, yaitu dunia ini.

Di Eden, di sebelah timur, Allah meletakan manusia yang dibentuk-Nya. Di Betlehem, seorang anak laki-laki, dibaringkan ibu-Nya di palungan. Sebagian kita, keluar uang dengan jumlah yang besar untuk memungkinkan anak kita bisa lahir di ruangan VIP. Ruangan untuk Very Important Person, orang sangat penting. Mempersiapkan ruangan terbaik, mempersiapkan pakaian terbaik, mempersiapkan kasur yang empuk dan bantal tidur bayi yang dokter pediatri approved atau secara medis terbukti bagus untuk kepala bayi. Sementara itu, Bayi yang benar-benar VIP, Bayi yang Bapa di sorga berkenan kepada-Nya, Bayi yang segenap malaikat bernyanyi karena kelahiran-Nya, Bayi yang oleh karena-Nya, segala yang ada, hidup, dan bergerak boleh ada, Bayi VVVIP itu hanya terbungkus kain lampin dan berbaring di atas palungan. Bapa mana yang rela melihat kondisi anak mereka yang baru lahir dalam kondisi seperti itu? Bapa di sorga rela. Karena apa? Karena ada cinta yang sempurna yang memampukan Sang Bapa di sorga rela mengirim Sang Anak ke dunia, dan Sang Anak rela dikirim ke dunia.

Michael Reeves menjelaskan relasi Bapa dan Anak yang sudah ada dan sangat dinikmati sejak kekekalan. Sebelum Dia mencipta, sebelum Dia memerintah dunia, sebelum segala sesuatu ada, Allah adalah Bapa yang mengasihi Anak. 

Jesus tells us explicitly in John 17:24. “Father,” he says, “you loved me before the creation of the world.” And that is the God revealed by Jesus Christ. Before he ever created, before he ever ruled the world, before anything else, this God was a Father loving his Son.9 

Kasih yang sudah dimiliki secara sempurna dan limpah, sekarang mau Allah bagikan untuk kita. Bayangkan, the holy, sweet, mystic communion yang ada dalam Allah Tritunggal, Dia pleased atau berkenan untuk memberikan itu kepada kita.

“It is your Father’s good pleasure to give you the kingdom” (Luke 12:32). It is not for any desert in us—but the free grace in God. The papists say we merit the kingdom—but we disclaim the title of merit. Heaven is a gift of God’s grace. (Thomas Watson)10

Sinclair Ferguson dengan indah menggambarkan tulisan Calvin11 bahwa Kristus tidak memandang diri-Nya lengkap tanpa kita. Ferguson menambahkan bahwa keselamatan yang berpusat pada Kristus menghormati Tritunggal, berakar dalam kekekalan, menyediakan penebusan, menghadirkan adopsi, menghasilkan kekudusan, meneguhkan kepastian, dan memuliakan Allah.

You may have encountered that expression before in its time-honored

Latin form, Totus Christus. It goes back at least as far as Augustine. It is echoed by John Calvin when he tells us that Christ does not consider himself to be complete apart from us. It is language that stresses that all our salvation comes to us from God the Father in Jesus Christ and through the Holy Spirit. This is salvation by grace alone, in Christ alone, through faith alone. It is Ephesians 1:3–14, Christ-centered, Trinity-honoring, eternity-rooted, redemption-providing, adoption-experiencing, holiness-producing, assurance-effecting, God-glorifying salvation.12 

Maka panggilan manis kita adalah berbalik—turning—dari hidup lama kepada Sang Terang, yaitu Yesus Kristus. Inilah “Christotropic turning”: berpaling sepenuhnya dari dosa menuju sumber keselamatan dan berkat, yakni Kristus sendiri. Inilah “Christotaxis”—sebuah orientasi hidup yang diarahkan kepada-Nya. Dialah jalan, kebenaran, dan hidup; Dialah true north dari mappa mundi. 

Ia rela dikutuk supaya kita yang terkutuk bisa berdamai; Ia rela dihukum supaya kita yang dihukum bisa dibebaskan; Ia rela dibuang supaya kita yang terbuang boleh dipersatukan kembali dengan Allah. Lihatlah, ada sebuah turning, sebuah pembalikan arah dari kematian menuju hidup.

Joy to the earth, the Lord is come!
Let earth receive her king;
let every heart prepare Him room;
and heaven and nature sing.

Immanoel Ezra D.P.
Pemuda GRII Graha Famili

Referensi
1. Tsubasa K, Hiroyuki S, Noriyuki O, Nana N, Ikue M. Thermotaxis of C. elegans as a model for temperature perception, neural information processing and neural plasticity. Worm. 2012;1(1):31–41. 
2. Šilhán K. Dendrogeomorphology of different landslide types: A review. Forests. 2021;12(3):1–19. 
3. Penrose R. The Mass of The Classical Vacuum. In: Saunders S, Brown HR, editors. The Philosophy of Vacuum. Oxford University Press; 1991. p. 22. 
4. Beale GK, Mitchell K. God Dwells Among Us. Vol. 32. InterVarsity Press; 2021. 7 p. 
5. de Wesselow T.  Locating the Hereford Mappamundi . Imago Mundi. 2013;65(2):180–206. 
6. Wani N. Understanding GIS Coordinate System [Internet]. Medium. 2024 [cited 2024 Dec 6]. Available from: https://medium.com/@nikhilwani05/understanding-gis-coordinate-systems-8dcbad78f439
7. Warf B. General Geography, Earth & Environmental Science. In: Encyclopedia of Geography. Sage; 2010. 
8. Sproul R. The Holiness of God. Illinois: Tyndale House Publisher; 1998. 9 p. 
9. Reeves M. Delighting In The Trinity. InterVarsity Press; 2012. 113 p. 
10. Watson T. Beatitudes An Exposition of Matthew 5:1-12. In: The Expository Times. 1660. p. 222. 
11. John C, Beveridge (Translator) H. THE MODE OF OBTAINING THE GRACE OF CHRIST. THE BENEFITS IT CONFERS, AND THE EFFECTS RESULTING FROM IT. In: Lane T, Osborne H, editors. The Institutes of the Christian Religion. Baker Academic; 1536. p. 452 & 499–500. 
12. Ferguson S. The Whole Christ. Crossway; 2016. 195 p. 

Tag: dunia, kelahiran Kristus, manusia, mappa mundi, tempat

Baca ini juga yuk

Christian Engineers in a Sinful World (Bagian 1)

Seorang Kristen dipanggil untuk memuliakan Tuhan di dalam semua aspek hidupnya. Martin Luther mengatakan, “Dunia adalah biaraku.” Senada dengannya, Abraham Kuyper mengatakan, “Tidak ada sepetak area pun ...

Iman Kristen & Pekerjaan - Ian Kamajaya 15 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII

 

Memuat Komentar...