Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Alkitab & Theologi

Roh Kudus dalam Injil Lukas: Sebuah Survei

9 Oktober 2026 | Janson Calvindi 8 min read

Dalam suatu kelas, seorang dosen berkata, “Salah satu utang orang [dari tradisi] Reformed dalam dunia theologi adalah penjelasan yang lebih utuh mengenai Roh Kudus.” Kalimat ini mewakili suatu pergumulan panjang dalam tradisi Reformed untuk dapat menjelaskan Roh Kudus dengan lebih jelas dan komprehensif. Dalam dekade terakhir, kebanyakan pembahasan mengenai Roh Kudus diambil dari theologi Paulus dan theologi Yohanes yang menekankan keselamatan dan kehidupan orang percaya. Namun, ada sisi lain yang dapat dibahas, yaitu pengajaran mengenai Roh Kudus berdasarkan theologi Lukas. Jika kita membaca dengan teliti kitab-kitab dalam Perjanjian Baru, istilah “Roh Kudus” paling sering muncul dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, yang juga ditulis oleh Lukas. Kedua kitab ini ditujukan kepada Teofilus untuk menjelaskan bagaimana Kerajaan Allah hadir dalam dunia melalui pelayanan Yesus dan pertumbuhan gereja mula-mula. Lukas menyoroti peran sentral Roh Kudus untuk menggenapi janji Allah dalam sejarah keselamatan.[1] Oleh sebab itu, tulisan ini menyoroti apa yang Lukas tuliskan mengenai Roh Kudus dalam Injil Lukas, terutama dalam mempersiapkan, memurnikan, dan memimpin umat Allah di dalam keselamatan.

Roh yang Menyingkapkan Janji Keselamatan

Lukas banyak membicarakan Roh Kudus pada bagian awal Injilnya, namun frekuensinya menurun seiring berjalannya narasi, dan tidak muncul lagi di bagian akhir. Setelahnya, Roh Kudus baru muncul berulang kali dalam Kisah Para Rasul. Dalam narasi kelahiran Yesus dan peristiwa sekitarnya, Roh Kudus berperan besar dengan memenuhi orang-orang tertentu. (1) Roh Kudus memenuhi Yohanes Pembaptis semenjak dari rahim ibunya, sehingga dia akan membuat orang Israel berbalik kepada Tuhan, yakni melalui seruan pertobatan (1:15-17). (2) Kepada seorang anak dara bernama Maria, Gabriel mengatakan bahwa dia akan dinaungi oleh Roh Kudus sehingga mengandung dan melahirkan “Yang Kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). (3) Elisabet dipenuhi oleh Roh ketika dikunjungi oleh Maria, dan anak dalam kandungannya melonjak kegirangan (1:41). Lonjakan ini menunjukkan sukacita atas janji keselamatan di dalam bayi yang dikandung Maria. (4) Roh Kudus memenuhi Zakharia yang bernubuat mengenai Yohanes yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan (1:67-79). Selain itu, (5) Simeon tua yang dipenuhi Roh menyambut kedatangan bayi Yesus dengan sukacita dan memuji Tuhan di Bait Allah (2:25-32). Dari semua peristiwa di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Roh Kudus menyadarkan umat Allah akan keselamatan dari Mesias yang dinantikan. Tanpa Roh Kudus, umat Allah tidak mengerti pekerjaan yang sedang Allah lakukan. Bagi kita hari ini, kesadaran akan kebutuhan terhadap Injil dan keselamatan hanya dimungkinkan oleh pekerjaan Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kuduslah yang membuka hati kita supaya kita dapat menerima Injil dengan sukacita.

Roh yang Memurnikan dengan Api

Salah satu karya Roh Kudus yang penting dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis dalam peristiwa pembaptisan Yesus. Dia mengatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (3:16). Dalam hal ini, Roh Kudus disebut bersamaan dengan api. Untuk memahami kaitan Roh Kudus dan api, maka kita perlu melihat penjelasan dari ayat 17. Konteks dari ucapan Yohanes adalah bahwa Yesus yang membaptis memiliki kuasa untuk melakukan pembersihan dan menyatakan siapa milik Allah yang sejati dengan alat penampi dan api.

Beberapa penafsir percaya bahwa yang dimaksudkan dengan api adalah Roh Kudus yang memurnikan (bdk. Yes. 4:4-5).[2] Dalam Kitab Yesaya, Roh diidentikkan dengan api yang mengadili dan membakar, serta menghapuskan segala noda darah yang ada di Yerusalem. Roh Kudus adalah Roh yang menguduskan. Maka bagi orang yang bertobat, Roh membersihkan hati mereka dari dosa dan kecemaran. Namun bagi orang yang keras hati, mereka akan diadili dan dihakimi oleh Kristus. Dari hal ini kita dapat melihat, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Injil Lukas, Roh Kudus mempersiapkan, menyadarkan, dan memurnikan hati manusia sebagai penggenap karya keselamatan Allah.[3]

Roh yang Mengurapi dan Menguji Ketaatan Sang Putra

Roh Kudus muncul dalam dua kisah yang berdampingan, yaitu narasi baptisan Yesus dan pencobaan di padang gurun. Dalam narasi baptisan, Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam rupa burung merpati (3:22). Turunnya Roh Kudus menunjukkan pengurapan bagi Yesus yang akan memulai misi-Nya. Urapan ini menjadi bukti nyata perkenanan, tanda kelayakan dan pemberian otoritas bagi Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia yang sejati.[4] Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh suara dari langit bahwa Yesuslah Anak yang dikasihi dan diperkenan oleh Allah.

Setelah baptisan, Lukas mencatat bahwa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai (4:1-2). Pencobaan ini bukan bertujuan jahat untuk melihat kemungkinan Yesus untuk gagal, sebab Roh Kudus bukanlah Roh yang jahat. Ujian ini bertujuan untuk menunjukkan ketaatan Yesus kepada Bapa dalam pimpinan Roh. Setelah dicobai Iblis, Yesus menang atas pencobaan dan membuktikan bahwa memang Dia menjadi manusia yang sepenuhnya taat kepada Allah. Setelah ujian itulah, baru Roh membawa Yesus untuk memulai pelayanan-Nya (4:14).[5] Dalam hidup kita, dipimpin Roh tidak berarti hidup tanpa masalah. Justru dalam masalah dan ujian, kita dipanggil untuk melihat pembentukan Roh Kudus bagi iman kita. Maka dalam menghadapi keputusan yang sulit dan godaan untuk kompromi, Roh memampukan kita untuk taat kepada Tuhan.

Roh yang Memulihkan Kaum Terabaikan

Hal menarik saat Yesus memulai pelayanan-Nya di Nazaret adalah penggenapan teks Perjanjian Lama mengenai orang yang memiliki Roh Tuhan dalam dirinya  (4:18-19; bdk. Yes. 61:1-2). Orang yang penuh Roh akan melakukan misi membawa kabar baik bagi kaum miskin, pembebasan para tawanan dan orang-orang tertindas, penglihatan bagi yang buta, dan membawa tahun rahmat Tuhan telah datang. Yesus mengklaim bahwa Dia memiliki Roh Tuhan dan telah diurapi, melalui turunnya Roh Kudus saat baptisan. Bagaimana penggenapan ini tercermin dalam pelayanan Yesus? Misi yang dikerjakan dan mewarnai pelayanan Yesus ditujukan bagi orang-orang sakit, perempuan-perempuan, pemungut cukai, dan orang berdosa, sebagai bukti bahwa Roh Tuhan ada pada Yesus.

Roh yang Menghidupkan Kuasa Doa

Doa merupakan hal yang penting dalam Injil Lukas. Ketika murid-murid bertanya mengenai doa, pada bagian akhir pengajaran-Nya, Yesus mengaitkan doa dengan Roh Kudus. Yesus mengatakan bahwa orang tua di dunia memberikan yang baik, namun Bapa di sorga tahu memberikan yang terbaik. Bagian terbaik yang Allah berikan bagi kita adalah Roh Kudus (11:13).[6] Dalam hal ini kita mengerti bahwa Bapa mengasihi orang percaya, yaitu dengan memberikan Roh Kudus.

Menariknya, apa yang Yesus ajarkan mengenai doa juga terjadi pada Yesus. Ketika Yesus dibaptis, Lukas mencatat bahwa Roh Kudus turun ke atas-Nya pada saat Dia sedang berdoa (3:21).[7] Dalam hal ini, Lukas memiliki penekanan ganda terkait doa dan Roh Kudus. Pertama, doa dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan. Roh Kudus justru turun pada saat Yesus berdoa, bukan saat keluar dari air. Kedua, doa dan Roh Kudus merupakan titik penting bagi awal pelayanan Yesus. Melalui doa dan Roh Kudus, Allah menyatakan kuasa dan keterlibatan-Nya secara efektif dalam misi Kerajaan Allah.[8]  Demikian juga Tuhan terlibat dalam hidup kita, yaitu melalui doa dan Roh Kudus.

Roh yang Memampukan Kesaksian

Dalam konteks penganiayaan dan misi, Yesus mengatakan bahwa yang menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni (12:10) dan Roh Kudus akan mengajar apa yang harus dikatakan ketika bersaksi (12:11-12). Menghujat berarti melawan Roh secara sadar, sehingga menandakan kekerasan hati. Penghujatan Roh Kudus berarti menolak secara aktif akan karya Roh Kudus dan meniadakan pertobatan diri.[9] Dalam konteks penganiayaan fisik, penolakan terhadap Roh Kudus dapat termanifestasi dalam bentuk kemurtadan dari iman yang sejati.

Ketika umat nantinya mengalami penganiayaan, Yesus mengajarkan agar murid-murid tidak perlu takut, sebab Roh Kuduslah yang akan memimpin mereka di tengah-tengah kesulitan. Roh Kudus akan memberikan pengertian dan hikmat untuk berkata-kata kepada penganiaya. Dalam hal ini, Roh Kudus akan mendorong dan menyertai mereka dalam menyaksikan iman. Hal ini akan diteruskan dalam kuasa kesaksian dan misi dalam Kisah Para Rasul.[10]

Roh Kudus: Roh yang Tersembunyi dalam Gereja Masa Kini

Lukas memberitahu kita banyak hal mengenai pekerjaan Roh Kudus. Kita dapat menyadarinya setelah membaca narasi yang Lukas susun bagi kita. Dalam realitas yang kelihatan, pekerjaan Roh bersifat tersembunyi namun memiliki signifikansi yang nyata dalam kehidupan orang percaya. Theologi Lukas memberikan pengertian kepada kita bahwa Roh Kudus bekerja juga secara eksternal dalam misi. Dalam gereja, Roh Kuduslah yang memberikan daya untuk terus bertekun dalam firman, doa, dan kesaksian. Roh Kudus pernah memimpin orang-orang di sekitar Yesus untuk melihat karya keselamatan, demikian pula Roh memimpin gereja untuk melihat dan menyatakan karya keselamatan. Roh Allah memurnikan gereja Tuhan dari dosa dan kecemaran-kecemaran, sehingga gereja menjadi makin murni di hadapan Allah. Roh Kudus memimpin gereja dengan tinggal dalam hati orang percaya dan memimpin kita melewati setiap ujian dalam kehidupan. Roh memampukan gereja untuk berdoa di tengah dunia dan bersaksi memberitakan Injil. Roh Kudus juga mendorong gereja untuk membawa kabar baik dan melakukan pelayanan kepada orang-orang marginal di sekitar kita. Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan hanya pernah bekerja di masa yang lalu, melainkan memimpin gereja sampai pada hari ini.

Pertanyaan untuk diskusi:

  1. Bagaimana gereja hari ini dapat menjadi alat Roh Kudus untuk memikat orang berdosa melalui pemberitaan firman?
  2. Bagaimana gereja dapat tekun dalam doa dan taat pada pimpinan Roh Kudus dalam pelayanan saat ini?
  3. Bagaimana gereja terus peka terhadap pimpinan Roh Kudus untuk melayani kaum marginal dan melakukan penginjilan?

Glory to God.

Janson Calvindi
Mahasiswa STTRII


[1] Udo Schnelle, Theology of the New Testament, Paperback edition, trans. M. Eugene Boring (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2020), 492.

[2] Darrell L. Bock, Luke : 2 Volumes (Baker Exegetical Commentary on the New Testament) (Baker Academic, 1996), 322–23.

[3] Darrell L. Bock, A Theology of Luke and Acts: God’s Promised Program, Realized for All Nations, ed. Andreas J. Kostenberger (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Academic, 2012), 216.

[4] Bock, Luke, 335.

[5] Jethro Rachmadi, “Mengungkapkan Realita,” Khotbah, GRII Kelapa Gading, March 1, 2026.

[6] Joel B. Green, The Gospel of Luke, Repr., The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, Mich.: Eerdmans, 20), 450.

[7] Gregory R. Lanier, Luke: The Christian Standard Commentary (Nashville: Holman Reference, 2025), 195.

[8] David E. Garland, Luke, ed. Clinton E. Arnold (Grand Rapids: Zondervan Academic, 2012), 168–69.

[9] Lanier, Luke, 615–16.

[10] Green, The Gospel of Luke, 484–85.

Tag: Baptis, doa, injil, Lukas, Roh Kudus, Tuhan Yesus

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

Follow Us

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

facebook   instagram   whatsapp

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII