,

Tuhan adalah Gembalaku

Ketika kita makin mengenal Tuhan melalui Kitab Suci dan Pribadi Tuhan Yesus Kristus, kita akan mengetahui bahwa Dia adalah Gembala yang baik. Dia bukanlah Tuhan yang dengan kuasa-Nya yang besar menciptakan dunia dengan jentikan jari, lalu membiarkan dunia berlalu dengan begitu saja. Dia bukanlah Tuhan yang bersemayam di atas sorga dan menonton bagaimana drama kosmis atas terjadinya dosa dalam ciptaan-Nya dibiarkan begitu saja, dan membiarkan manusia binasa. Dia adalah Tuhan, dan karakter Tuhan yang agung adalah menjadi Gembala kita yang baik. Kata Tuhan Yesus, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Tuhan seperti apa yang tidak hanya memberikan berkat jasmani, tetapi juga nyawa-Nya kepada umat manusia yang berdosa?  

Gambaran mengenai Juruselamat yang hidup dapat kita pahami di dalam makna “Gembala yang baik” tersebut. Dialah yang menjaga, menuntun, memberikan makanan dan minuman, dan juga yang bersama-sama kita di dalam malam tergelap. Perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sebetulnya beresonansi dengan Mazmur 23 yang ditulis oleh Daud. Puisi yang sangat agung ini menjadi cuplikan tentang siapakah Tuhan kita, karakter apa yang direfleksikan oleh hati Tuhan, dan bagaimana semuanya itu terwujud di dalam Pribadi Tuhan Yesus. Akan tetapi, pengenalan akan Tuhan seperti demikian juga merupakan sebuah perjalanan rohani yang membawa kita untuk mengenal-Nya. Tuhan bukan hanya sebagai “Dia” yang jauh di luar sana, tetapi juga sebagai “Engkau”. Dia bukan hanya Gembala yang baik, tetapi Sang Engkau yang menggembalakan kita senantiasa.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Mzm. 23:1-3)

Dalam kehidupan orang percaya, kita perlu memahami bahwa satu-satunya yang diperlukan adalah Tuhan. Kata Agustinus, “Jika seseorang mempunyai segala sesuatu tanpa Tuhan, dia tidak memiliki apa-apa. Jika seseorang memiliki Tuhan meski tidak mempunyai apa-apa, dia justru mempunyai segalanya.” Tuhan adalah segalanya. Jika Tuhan dinomorsatukan, tetapi masih ada nomor dua, tiga, dan lainnya, Dia bukanlah Tuhan, dan Dia bukan satu-satunya yang menjadi segalanya bagi kita. 

Salah satu ketakutan kita sebagai manusia adalah menjadi tiada, yaitu ketika kita tidak mempunyai apa-apa. Itulah sebabnya kita mengejar berbagai berhala, entah itu harta, takhta, nama, wanita, atau yang lainnya. Jika kita mencabut segala harta berhala itu, siapakah kita? Barangkali kita mencantumkan identitas kita dengan status pekerjaan, jumlah uang di rekening bank, pasangan yang kita kasihi, dan lainnya. Ini adalah bentuk kekhawatiran manusia yang paling dalam. Oleh karena dia begitu takut kehilangan dirinya, maka dia mencari berbagai prestasi dari luar untuk menutupi rasa malu dan kosong pada dirinya. 

Namun, bukanlah demikian dengan orang percaya. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, Tuhan melimpahkan apa yang menjadi dahaga jiwa kita jauh sebelum kita meminta kepada-Nya. Janganlah kita hidup seolah-olah Tuhan adalah Tuhan yang dingin dan tidak peduli tentang keberadaan manusia bagaikan debu. Kita adalah anak milik-Nya, kita adalah domba-domba-Nya. Tuhan tahu diri kita dari luar dan dalam lebih dari diri kita sendiri. Kadang kala, apa yang kita minta justru akan melukai diri kita sendiri. Yang dibutuhkan oleh domba adalah rumput hijau dan air untuk menyegarkan jiwa. Masalahnya adalah kadang kita menginginkan duri dan air kotor. Seandainya kita mengetahui rumput dan air, kita tidak membutuhkan hal-hal yang lain. Ketika kita sudah menemukan ketenangan penuh, tidak ada hal lagi yang dapat ditambahkan untuk memberikan ketenangan yang lebih tenteram. Tuhan Yesus memberikan roti hidup dan air yang menyejukkan jiwa, Dia adalah Roti Hidup dan Air Hidup itu sendiri, dan Dia memberikan kepada domba-domba-Nya.

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. (Mzm. 139:2-6)

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Mat. 6:30-34)

Ya, mungkin kita sudah tahu bahwa Allah adalah Allah yang baik. Sejak dari kecil kita sudah belajar tentang Tuhan bagi yang hadir di Sekolah Minggu. Mungkin saja kita sudah sering mendengarkan sisi positif dari Tuhan seperti demikian. Namun, bukankah dalam kehidupan orang percaya justru kita bertemu dengan banyak kesulitan? Bukankah benar kita sering bertemu dengan malam-malam yang gelap dalam kehidupan kita? Bahkan, malam yang penuh badai sering kali lebih berat daripada berkat-berkat yang telah Tuhan berikan. Betul, seorang gembala yang memberikan rumput dan air, tetapi tidak selamanya seorang gembala rela menyerahkan nyawanya untuk “spesies” yang lebih rendah daripada dirinya sendiri.

Ketika kita berjumpa dengan penderitaan, ketenangan (shalom) yang dijanjikan oleh Tuhan menjadi tiada. Bukan hanya kalau masa-masa sulit itu tiba di waktu yang susah, tetapi di waktu yang mendadak dan terjadi dengan sangat lama, khususnya kepada diri kita dan orang-orang yang kita kasihi. Tekanan yang datang secara tiba-tiba seperti yang terjadi dalam kehidupan Ayub adalah hal yang mengenaskan. Apakah betul Tuhan masih adalah “Gembala yang baik”? Atau jangan-jangan Tuhan hanyalah “Gembala yang baik untuk di padang rumput dan di air yang tenang” saja, dan tidak lebih daripada itu?

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mzm. 23:4)

Lembah kekelaman adalah lembah bayang-bayang maut. Suara-suara bunuh diri, merasa hidup dan mati tidak ada perbedaan, dorongan membenci diri dan untuk melukai hidup itu sendiri–semuanya adalah kuasa kegelapan yang dapat merasuk kita di saat-saat paling gelap. Apakah betul Tuhan masih ada bagi kita di momen seperti itu? Ketika kita melalui titik tergelap, kita akan menyadari bahwa hanya seorang Gembala yang rela menyerahkan nyawa-Nya, yang akan menyertai kita di dalam lembah kekelaman. Siapakah yang akan menemani kita di dalam kematian?

Hanya Tuhan yang telah mati dan bangkit yang hadir untuk menemani kita. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26), demikianlah kata Tuhan Yesus sendiri. Hanya Tuhan yang rela mati untuk manusia, yang dapat dikenal oleh manusia. Selama kita hanya menerima berkat rumput dan air, kita sering lupa akan siapa Gembala kita, dan hanya berfokus kepada apa yang dapat diberikan oleh-Nya. Ya, mungkin Dia adalah Gembala yang baik dan menyenangkan, tetapi bukan Gembala yang rela mati bagi domba-Nya. Selama kita menerima berkat Tuhan, kita memandang Sang Gembala hanya sebagai “Dia”, yaitu sebuah teori, sebuah konsep “Tuhan” filosofis dan abstrak. Kita terjebak dalam rumor-rumor manusia mengenai Tuhan, bahkan bisa saja kita terkunci oleh berkat Tuhan, dan belum berelasi dengan Tuhan itu sendiri secara personal.

Tuhan menjadi pribadi “Engkau” yang menyertai kita ketika kita bertemu dengan-Nya di malam yang gelap, di tengah lembah maut, di masa-masa kita berhadapan dengan kematian. Ketika kita tidak lagi mempunyai rumput atau air, merasa di titik yang paling rendah tanpa harapan sedikit pun, di dalam kesesakan dan rasa terjepit, tidak lagi mempunyai apa-apa–di situ kita bertemu dengan Tuhan, wajah bertatap wajah di dalam iman. Tahu tentang Tuhan sangatlah berbeda dengan berelasi dengan Tuhan. Memandang pada foto seseorang sangat amat jauh dengan berkenalan dengan pribadi orang itu sendiri.

Mungkin saja, kita sudah lama belajar tentang Tuhan sebagai seorang Gembala yang baik menurut versi yang kita sukai, yaitu sang penyuplai rumput dan air. Akan tetapi, kita akan sungguh-sungguh berkenalan dengan Allah sebagai Pribadi yang hidup ketika kita bergandengan tangan dengan-Nya, ketika kita digendong oleh-Nya pada hari-hari yang tiada terang matahari. Di situ kita tidak lagi bertemu dengan Tuhan yang memberi rumput dan air, makanan setiap hari ataupun berkat. Akan tetapi, kita akan berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Juruselamat yang hidup, yang mati dan bangkit, dan yang menyertai kita. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayb. 42:1).

Jika Tuhan menyertai kita di momen yang paling gelap, pastilah Tuhan menyertai kita di setiap titik kehidupan dari awal sampai akhir. Setelah kita melalui lembah kekelaman, kita akan berjumpa dengan Tuhan. Bukan lagi sebagai Penggembala yang memberi rumput dan air, bukan lagi sebagai Juruselamat yang hidup menyertai kita dari lembah maut dan dosa, tetapi juga sebagai Tuhan yang mengasihi kita, memilih kita sebelum dunia ada, dan yang menyertai sampai debu terakhir menjadi tiada. Terlalu kecil rumput dan air bagi domba; Tuhan memberikan diri-Nya sendiri bagi yang dikasihi-Nya. Dia menyediakan perjamuan kudus, roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah-Nya sebagai makna pengampunan dosa.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mzm. 23:1-6)

Ketika kita melalui lembah maut, kita seharusnya mati di dalam lembah neraka sebab memang kita adalah manusia berdosa. Ada dosa baik dari diri kita sendiri maupun orang lain. Dan biasanya, dosa orang lain sering menjadi kepahitan yang dalam, yang memicu diri kita untuk turut berdosa. Tuhan memberikan hidangan itu untuk mendamaikan diri kita dengan-Nya. Seolah-olah Tuhan “menikah” dengan manusia berdosa, Hosea dengan Gomer, seorang suami yang setia dengan istri yang pezinah. Dengan demikian, ketika kita menerima hidangan itu, Tuhan sebetulnya memberikan kekuatan kepada kita untuk sembuh dengan mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Kita tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang maut, tetapi dengan mengampuni, terang kasih Tuhan mengalahkan kegelapan itu. Kita didamaikan dengan musuh-musuh yang kita benci, kita melampaui kebencian terhadap musuh-musuh kita dengan mengasihi mereka, sebagaimana Tuhan turut mengasihi kita ketika kita masih menjadi musuh-musuh Allah. 

Perjalanan hidup dengan Tuhan akan membuat kita hidup berlimpah. Bukan hanya tenang dalam kecukupan, tetapi melimpah dalam sukacita. Tuhan akan mengurapi kita dengan kasih dari Roh Kudus yang hidup di dalam kita. Tuhan tidak hanya memberi berkat rumput dan air, Tuhan tidak akan dekat dengan kita melalui lembah kekelaman, tetapi Tuhan memberikan diri-Nya untuk hidup di dalam kita untuk membuat hati manusia berlimpah dengan kasih. 

Jika sudah demikian, Tuhanlah yang akan menjaga kita dari setiap sisi. Dari depan dan belakang, kiri dan kanan, atas dan bawah, luar dan dalam, bagaikan seorang ibu yang menjaga sang balita, demikian juga dengan Roh Allah yang menyertai dan menguatkan kita. Roh Tuhan yang menyertai itu juga akan menjadi Roh yang menjaga kita dalam setiap langkah sampai kita kembali ke rumah Tuhan di sorga untuk selama-lamanya.

Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. (Yoh. 10:28)

Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. (Yoh. 14:1-3)

Kevin Nobel Kurniawan

Jemaat GRII Pusat