Hal yang menjadi rutinitas seringkali diasosiasikan dengan makna yang negatif dan dianggap sebagai sesuatu yang remeh. Kita mengontraskan hidup dalam rutinitas dengan hidup penuh petualangan. Mana lebih baik: hidup seseorang yang makan, kerja, tidur, makan, kerja, tidur, atau hidup yang mengerjakan hal yang tidak biasa? Tentu pilihan pertama terlihat kurang berarti jika dibandingkan dengan pilihan kedua. Dalam kehidupan spiritual, kita juga merasa tidak puas dengan segala sesuatu yang bersifat rutin saja. Ini mungkin memang ada benarnya. Jika berdoa, ke gereja, dan baca Alkitab sudah menjadi performance yang berjalan secara teratur, aktivitas-aktivitas tersebut dapat kehilangan arti yang sebenarnya. Bahkan, ada rekan pemuda yang sengaja tidak rutin datang dan ikut pelayanan di persekutuan pemuda karena “tidak ingin terjebak dalam rutinitas”. Rutinitas dilihat sebagai yang hambar, tidak bermakna, kering, dan dingin.
Akan tetapi, apakah rutinitas selalu harus dipandang demikian? Ternyata, jika kita meneliti Alkitab, rutinitas tidak otomatis berarti sesuatu yang buruk. Pola hari yang Tuhan ciptakan dirancang untuk memungkinkan rutinitas! Matahari terbenam lalu terbit lagi. Hari Sabtu berganti ke hari Minggu, kemudian berganti ke hari Senin, dan akan kembali lagi ke hari Minggu. Tuhan menetapkan hari-hari tertentu sebagai hari raya yang diperintahkan oleh-Nya untuk dijalankan secara rutin. Pendidikan kepada anak-anak Israel diperintahkan oleh Tuhan untuk dijalankan secara rutin. Ibadah dan penyembahan harus rutin dijalankan.
Dengan demikian, rutinitas itu sendiri bukan sesuatu yang buruk. Rutinitas menjadi buruk hanya jika rutinitas sudah berubah menjadi mekanis, sesuatu yang dijalankan tanpa memahami makna sesungguhnya dari aktivitas tersebut. Kita tidak dapat dan tidak perlu lepas dari rutinitas karena pola hidup rutinitas bukanlah sebuah “jebakan”, melainkan rancangan Sang Pencipta.
Kadang-kadang dalam menjalankan rutinitas, kita sebagai manusia dapat merasa jenuh. Akan tetapi, jika kita melayani Tuhan dan bersekutu dengan saudara seiman hanya ketika hati kita sedang terbakar dan menggebu-gebu, jangan-jangan kita hanya melayani Tuhan sesuai dengan mood kita saja. Bukankah hati kita dapat menjadi jenuh dan hambar karena keberdosaan kita? Bukankah emosi kita sangat mudah dipermainkan oleh iblis? Jika emosi kita begitu tidak dapat diandalkan, bukankah sangat riskan jika kita menjadikan emosi kita sebagai tuan yang menentukan apakah kita mau melayani atau bersekutu?
Jika kita hadir di hadapan Tuhan hanya ketika kita punya mood, bukankah kita sedang menghina Tuhan? Apapun suasana hati kita: sukacita, jatuh cinta, hambar, sumpek, susah hati, Tuhan sangat menghendaki supaya kita datang kepada-Nya pada waktu-Nya.
Erwan
Redaksi Umum Pillar
