Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Isu Terkini

Pembubaran KKR di Bandung: Cara Allah Bekerja

9 Januari 2026 | Hans Yulizar Sebastian 4 min read

Di Bandung, tanggal 6 Januari 2026, ibadah tahun baru Kristen sempat ditolak dan diganggu oleh ormas radikal. Jalan ditutup, tekanan sosial diciptakan, dan suasana dibuat tidak ramah bagi jemaat yang hendak beribadah. Namun satu fakta tidak terbantahkan, ibadah tetap berjalan. Firman tetap diberitakan dan umat tetap beribadah dengan tertib meskipun berada di bawah bayang-bayang intimidasi.

Peristiwa ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai gangguan sosial atau konflik horizontal. Dalam terang iman Kristen, khususnya Theologi Reformed, justru di sinilah cara kerja Tuhan menjadi makin jelas. Tekanan tidak selalu menutup karya Tuhan, dan penindasan tidak otomatis berarti kekalahan rohani. Ada logika iman yang bergerak berlawanan dengan logika kekuasaan.

Alih-alih meredam, gangguan justru memperluas perhatian publik. Nama Pdt. Stephen Tong makin diperbincangkan, kekristenan makin dikenal, dan nama Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya makin sering disebut di ruang publik. Di Instagram, Threads, Tiktok, Facebook, dan lain-lain, nama Pdt. Stephen Tong membahana, mungkin terdengar oleh lebih banyak orang daripada jumlah jemaat yang mendengar khotbahnya.

Apa yang diniatkan untuk membungkam justru berubah menjadi alat pewartaan. Tekanan menjadi panggung yang tidak pernah mereka rencanakan. Sungguh tidak terduga untuk mereka yang suka menduga-duga.

Dalam tradisi Theologi Reformed dikenal konsep revelation of wrath, yaitu penyataan murka Tuhan. Murka di sini bukan ledakan emosi Ilahi, melainkan tindakan Tuhan yang membiarkan kejahatan menyingkapkan wajah aslinya. Ketika manusia dibiarkan berjalan dalam niat jahatnya, justru di situlah keadilan, kebenaran, dan kemuliaan Tuhan tampil makin terang. Kejahatan tidak dimurnikan, tetapi dipakai sebagai latar kontras.

Cara kerja Tuhan seperti ini sering disalahpahami. Banyak orang ingin melihat Tuhan hanya bekerja melalui hal-hal yang baik, rapi, dan penuh kenyamanan. Padahal Alkitab dan sejarah gereja menunjukkan bahwa Tuhan juga bekerja melalui penindasan, tekanan, dan bahkan persekusi. Bukan karena Tuhan menyukai kejahatan, melainkan karena kedaulatan-Nya tidak pernah tunduk pada niat manusia.

Pemahaman ini selaras dengan pemikiran Martin Luther. Luther menegaskan bahwa kemuliaan Tuhan sering tersembunyi di balik penderitaan. Ia menyebutnya theologi salib, yaitu pengenalan akan Allah yang tidak datang lewat kemenangan lahiriah, melainkan lewat penolakan dan salib. Tuhan menyatakan diri-Nya bukan di puncak kejayaan manusia, tetapi di titik kehinaan yang paling gelap.

Salib Tuhan Yesus Kristus adalah pusat iman Kristen. Salib bukan simbol kenyamanan, melainkan simbol penolakan, kekerasan, dan ketidakadilan manusia. Namun justru di situlah kemuliaan Tuhan dinyatakan paling penuh. Karena itu, iman Kristen tidak pernah menjanjikan jalan tanpa luka, melainkan kesetiaan di tengah tekanan.

Nada yang sama juga ditegaskan oleh John Calvin. Calvin menekankan kedaulatan Allah atas seluruh sejarah, termasuk atas tindakan orang fasik. Tidak ada satu peristiwa pun yang berada di luar providensia Tuhan. Bahkan kejahatan manusia tidak mampu menggagalkan rencana Allah, meskipun manusia tetap bertanggung jawab penuh atas dosanya.

Di sinilah revelation of wrath bekerja secara konkret. Tuhan membiarkan kejahatan berjalan sampai batas tertentu agar wajah aslinya terlihat. Intimidasi, penolakan, dan kebisingan justru menjadi kontras yang memperjelas terang Injil. Apa yang dimaksudkan untuk menghancurkan justru dipakai untuk memperkenalkan kebenaran dengan lebih luas.

Dalam konteks ini, kritik juga perlu diarahkan kepada sebagian gerakan karismatik yang terlalu menyederhanakan cara kerja Tuhan. Ada kecenderungan mengajarkan bahwa Tuhan hanya bekerja melalui hal-hal baik, lancar, dan penuh berkat lahiriah. Seolah-olah penderitaan selalu tanda kurang iman dan tekanan selalu bukti kegagalan rohani. Pandangan ini tidak sejalan dengan Alkitab ataupun tradisi Reformasi.

Tuhan Yesus Kristus sendiri tidak dimuliakan melalui kenyamanan, melainkan melalui penolakan dan salib. Gereja Mula-mula bertumbuh bukan karena perlindungan negara, melainkan karena kesetiaan di bawah tekanan. Sejarah iman tidak dibangun di atas panggung megah, tetapi di atas keberanian untuk tetap setia ketika ditekan.

Gangguan ibadah di Bandung justru memperlihatkan pola ini dengan sangat jelas. Ormas radikal berniat menutup jalan dan mengecilkan ruang ibadah. Yang terjadi justru sebaliknya, perhatian publik meluas, percakapan iman terbuka, dan Injil makin bergerak. Mereka menekan, tetapi Tuhan bekerja melalui tekanan itu.

Tulisan ini bukan pembenaran atas intoleransi. Gangguan tetap salah, intimidasi tetap melanggar hak, dan negara tetap wajib hadir melindungi warganya. Namun dari sudut pandang iman Reformasi, peristiwa ini menegaskan satu kebenaran mendasar: Tuhan tidak pernah kehilangan kendali atas sejarah, bahkan ketika sejarah tampak kacau dan bising.

Apa yang dikatakan Luther dan Calvin selaras dengan apa yang dicatat oleh Alkitab. Ketika umat Tuhan ditekan, nama mereka makin nyaring disebutkan. Kita melihat tokoh seperti Nebukadnezar, Herodes, Firaun dan lain sebagainya, ketika mereka mencoba menekan nabi atau Yesus Kristus, justru nama Tuhan makin dipermuliakan.

Namun jangan sampailah kita menjadi orang yang menunggu persekusi dulu baru bersuara. Tetap kita harus memastikan dan mengawal negara ini dalam menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negara.

Hans Yulizar Sebastian
Jemaat GRII Pusat

Tag: Bandung, demo, intolreansi, kebaktian, kkr, penolakan, relevation, Stephen Tong, wrath

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII