Sejak halaman-halaman awal Alkitab, peperangan sudah hadir sebagai tanda dunia yang retak. Allah menetapkan perang antara keturunan perempuan dan keturunan ular. Kita membaca kisah Kain yang menumpahkan darah Habel, lalu sejarah bergerak ke bangsa-bangsa yang saling menekan, menaklukkan, dan membalas.
Di Kitab Kejadian, konflik muncul karena hati manusia yang ingin menjadi pusat. Di Keluaran dan Yosua, kita melihat peperangan terjadi di tengah sejarah penebusan yakni keras, kompleks, dan sering membuat kita bergumul.
Di zaman hakim-hakim, Israel pun mengalami siklus yang memalukan. Bangsa ini jatuh ke penyembahan berhala, ditindas, berseru, lalu diselamatkan. Ketika kerajaan berdiri, peperangan makin terstruktur.
Saul, Daud, hingga raja-raja setelahnya menjalani realitas politik, terkungkung dalam peperangan. Lalu para nabi memukul Israel dengan satu tuduhan yang tajam. Masalah utama dari dosa adalah konsep hamartia (ἁμαρτία). Penyimpangannya terlihat sepele, pengkhianatan di dalam, namun berujung kepada hati yang berzinah dengan ilah-ilah.
Alkitab mengajarkan sesuatu yang sering terlewat ketika orang membahas konflik modern. Perang tidak pernah sekadar “Tuhan melawan Tuhan”, seolah-olah ada duel kosmik setara antara ilah-ilah. Alkitab justru menertawakan ilah palsu. Karena kita melihat ada kecenderungan masyarakat religius melihat peperangan di era sekarang ini, adalah peperangan antar agama, peperangan antar Tuhan, maka harus diluruskan.
Lensa ini menolong kita membaca eskalasi hari ini ketika Amerika Serikat dan Israel bersekutu menghantam Iran, lalu Iran membalas. Banyak orang melihat bahwa para aktornya berasal dari masyarakat yang mengaku beragama. Itu fakta sosial.
Namun menjadikan “agama” sebagai kambing hitam tunggal sering berakhir sebagai jalan pintas analisis. Seolah-olah perang ini soal iman murni, dan pihak-pihaknya sedang bertarung demi Tuhan. Alkitab memberi peringatan keras bahwa manusia sangat piawai mengutip langit untuk menutupi bumi, menyebut “kebenaran”, “martabat”, “keselamatan”, sementara kalkulasi yang berjalan di balik layar adalah kuasa, rasa takut, prestise, dan kepentingan.
Di sini kerangka Creation–Fall–Redemption–Consummation tetap perlu menjadi framework yang cukup penting.
Allah menciptakan dunia ini baik. Geografi Timur Tengah sangat indah. Timur Tengah menjadi jembatan antar benua, jalur dagang, simpul migrasi, sekaligus panggung sejarah yang padat makna.
Selat-selat strategis dan jalur komoditas global hari ini, terutama Selat Hormuz membuat konflik di kawasan itu bergaung sampai jauh. Ketika jalur energi terganggu, pasar dunia bergejolak, rantai pasok goyah, dan harga naik, negara-negara yang tidak ikut menembak ikut terdorong. Dunia ciptaan saling terikat. Luka di satu titik bisa menjalar ke seluruh tubuh.
Allah juga memberi manusia kecerdasan untuk mengolah ciptaan. Teknologi muncul dari mandat budaya. Manusia memahami, membangun, memetakan, menyembuhkan, mempermudah. Namun dunia yang jatuh mengubah arah.
Yang mestinya menjadi alat pemeliharaan hidup dapat berubah menjadi alat pemotongan hidup. Drone, rudal presisi, sistem pertahanan udara, perang siber, satelit pengintai, keren sekali, maju sekali. Semuanya menampilkan ironi modern, yakni kecanggihan bertemu kehancuran, efisiensi bertemu kematian.
Fall, baik secara arah maupun struktur, membuat kemampuan manusia tidak lagi bergerak lurus menuju kebaikan. Alasan bisa terlihat “rasional” namun kehilangan belas kasihan.
Di dalam dunia yang jatuh, setiap pihak selalu memiliki narasi pembenaran. Ada bahasa keamanan, ada bahasa pencegahan ancaman, ada bahasa deterrence, ada bahasa kehormatan nasional dan omong kosong lainnya.
Di atas kertas, semuanya tampak logis. Di lapangan, tubuh-tubuh tetap bergelimpangan. Perang, pada hakikatnya, adalah pernyataan bahwa manusia bersedia merusak demi tujuan yang dianggap lebih tinggi. Dan di situlah ketajaman moral Kristen perlu diperjelas.
Perang itu jahat. Perang dilakukan oleh manusia berdosa. Masing-masing pihak merasa paling benar. Pembenaran selalu tersedia. Akan tetapi nyawa yang hilang adalah nyawa ciptaan Tuhan, manusia yang memikul gambar dan rupa Allah.
Mereka bukan angka statistik, “kerugian yang dapat diterima”, apalagi collateral yang disapu oleh istilah teknis. Mereka adalah sesama manusia di hadapan Pencipta.
Lalu bagaimana perspektif Reformed merespons?
Di tengah keberdosaan manusia, Allah tetap memegang sejarah. Providensia tidak boleh dilihat sebagai placebo/obat penenang, melainkan pengakuan bahwa dunia ini ada di dalam kendali Allah.
Di dalam ranah publik, Allah memakai berbagai sarana untuk menahan kejahatan. Diplomasi, hukum, tekanan internasional, juga kekuatan negara untuk mengekang agresi.
Di situ adagium Si vis pacem, para bellum punya tempat sebagai realisme politik. Kesiapan dapat mencegah serangan. Tetapi iman Reformed menolak menjadikan adagium itu sebagai injil baru.
Kekuatan yang dimaksudkan menahan kejahatan sering tergoda menjadi alat dominasi. Ketika pedang berubah menjadi berhala, negara pun ikut jatuh ke liturgi baru, liturgi superioritas, liturgi rasa takut, liturgi balas dendam yang dibaptis dengan kata-kata mulia. Makin ke sini, makin menjijikkan melihat kemunafikan.
Di sinilah penebusan harus ada. Kristus tercatat di Alkitab, tidak datang sebagai panglima perang yang membangun damai lewat pemaksaan, melainkan sebagai Anak Domba yang menanggung dosa. Kehadiran Kristus menyingkap akar persoalan, yakni manusia butuh pertobatan!
Gereja, karena itu, dipanggil untuk menyatakan kebenaran tanpa mencomot Tuhan sebagai stempel politik. Gereja dipanggil untuk menolak penyembahan berhala modern. Kadang berhala itu bernama “keamanan mutlak”, kadang bernama “kejayaan bangsa”. Gereja dipanggil untuk meratap, sebab ratapan adalah bentuk iman yang menolak menormalisasi pertumpahan darah.
Akhirnya, Consummation menjaga kita dari dua jurang putus asa, dan euforia. Putus asa lahir ketika kita menganggap sejarah hanya siklus kekerasan tanpa arah. Euforia lahir ketika kita percaya satu blok geopolitik akan membawa keselamatan dunia.
Penggenapan mengajar bahwa damai Raja Shalom, yakni Kristus datang kembali sebagai Hakim yang adil dan Raja yang memulihkan ciptaan. Pada hari itu, propaganda runtuh, ilah-ilah palsu tersingkap, dan setiap nyawa yang selama ini dianggap murah akan diperlakukan sesuai martabatnya.
Maka, ketika kita menatap eskalasi yang terjadi, di wilayah yang sarat sejarah Alkitab, sarat persilangan peradaban, sarat jalur ekonomi global, kita belajar melihat lebih dalam daripada label “agama”. Alkitab menuntun kita untuk bertanya.
“Ilah apa yang sedang disembah? Kuasa apa yang sedang diberi absolut? Kebenaran apa yang sedang dipakai untuk membenarkan kekerasan?”
Dan ketika kita melihat korban, kita diingatkan bahwa mereka juga diciptakan dalam rupa dan gambar Allah.
Di dunia yang menciptakan teknologi lalu mempersenjatainya, di dunia yang menganggap stabilitas bisa dijaga dengan ancaman, gereja harus berdiri dengan satu pengakuan yang tenang dan tajam bahwa Allah berdaulat, manusia berdosa, Kristus menebus, dan dunia menantikan pemulihan.
Kita berdoa bagi para pemimpin agar menahan diri, bagi korban agar dipelihara, bagi gereja agar tetap setia, dan bagi diri sendiri agar tidak mabuk oleh narasi yang membius nurani.
Dan kita menutup dengan pengharapan yang tidak sentimental, namun kokoh…
Tuhan, datanglah. Maranatha.
Hans Yulizar Sebastian
Jemaat GRII Pusat
