Bayi yang Berbahaya

Natal adalah perayaan yang penuh dengan nyanyian. Lagu-lagu Natal—mulai dari yang paling klasik sampai yang paling kontemporer—dimainkan, bukan hanya di gereja, tetapi juga di tempat-tempat lain seperti mal, pasar mini, tempat wisata, taman bermain, atau di tempat-tempat hiburan lainnya.

Kaitan antara Natal dan nyanyian bukanlah fenomena yang terjadi baru-baru ini. Pada peristiwa Natal yang pertama, kelahiran Yesus (yang dirayakan oleh orang Kristen ketika Natal) juga disambut lagu-lagu yang indah: himne dari Elisabet (Luk. 1:42-45), “Magnificat” dari Maria (Luk. 1:46-55), “Benedictus” dari Zakharia (Luk. 1:68-79), “Gloria” dari para malaikat (Luk. 2:14), dan himne dari Simeon (Luk. 2:29-32).

Natal dirayakan dengan nyanyian dan sukacita karena Natal memperingati peristiwa yang besar. Semua manusia sudah berdosa dan berada di bawah murka dan penghukuman Allah. Natal memperingati kedatangan Juruselamat satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah yang menjadi manusia. Peristiwa ini sungguh besar sehingga kita tidak akan merasa cukup dengan hanya mempercakapkannya, tetapi juga tergerak untuk menyanyikannya. Seperti ketika kita jatuh cinta, di mana rasa cinta yang kuat mendorong perasaan itu diekspresikan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan lagu-lagu yang indah.

Maria adalah salah satu orang yang mengalami peristiwa yang luar biasa ini dan ia tergerak untuk menyanyikan lagu yang dikenal dengan judul Magnificat. Judul ini diambil dari kalimat pertama lagu ini, “Magnificat anima mea Dominum” yang berarti “jiwaku memuliakan Allah”. Lirik dari lagu Magnificat dapat kita temukan dalam Lukas 1:46-55.

Tuhan “Menengok” yang Rendah

Maria memulai lagunya dengan memuji belas kasihan Allah yang mau memandang dirinya yang rendah. Maria adalah contoh yang sangat pas. Tidak ada yang lebih rendah dari dia—miskin, masih muda, seorang wanita, petani, dan dari Nazaret, daerah yang tidak dikenal. Maria bukanlah siapa-siapa dan berasal entah dari mana.

Hal ini mengingatkan penulis akan sebuah pengalaman di tempat penulis bekerja. Ketika penulis dan beberapa rekan sedang makan sambil asyik mengobrol, atasan kami tiba-tiba lewat. Kami serentak berdiri, sedikit menundukkan kepala, dan memberikan salam. Tidak lama setelah itu, petugas kebersihan datang mendekati kami. Kami tetap makan dan mengobrol selagi ia membersihkan lantai dan meja. Kami sama sekali tidak bereaksi dan bersikap seolah-olah petugas kebersihan itu tidak ada di sekitar kami. Inilah cara kita memperlakukan orang-orang yang kita anggap rendah: tidak memandang dan bahkan tidak menyadari kehadiran mereka.

Pada kesempatan yang lain, ketika ada acara keakraban di kantor, kami bertemu lagi dengan petugas kebersihan itu. Tetapi kali ini berbeda. Kami mengajaknya berbicara dan bercanda bersama serta bertukar makanan. Saya dapat melihat sukacita di wajahnya. Ia bergembira ketika mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya mengingat dan mengenalinya serta mengajaknya berbicara.

Inilah pengalaman Maria ketika ia tahu bahwa Allah memperhatikannya. Ia yang sebelumnya tidak dipandang dan tidak dianggap, tetapi Allah memperhatikannya. Maria mungkin berkata, “Allah melihatku. Ia memperhatikanku. Ia bahkan memercayakan hal yang besar kepadaku, sehingga seluruh generasi akan memanggilku sebagai orang yang terberkati karena aku sangat diberkati dengan berkat yang tidak pernah dimiliki oleh wanita mana pun di bumi ini.”

Pujian: Berpusat kepada Diri vs. Lip Service

Magnificat Maria mengajarkan kepada kita apa artinya memuji Allah. Memuji Allah tidak pernah terlepas dari pengalaman pribadi kita dengan Allah. Beberapa orang sangat alergi dengan pengalaman dengan alasan bahwa nantinya pujian tersebut akan berpusat kepada diri (self-centered). Namun sangat disayangkan, alasan baik ini membawa kita kepada ekstrem yang tidak kalah berbahaya: lip service (layanan bibir); pujian dinyanyikan dengan benar dan tepat secara doktrinal, namun kering dan dingin karena tidak keluar dari hidup yang mengalami kehadiran Allah. Allah tidak akan menerima pujian semacam ini. Allah bukan hanya menginginkan kita untuk menyanyikan lirik yang tepat, tetapi juga ingin agar lirik yang tepat itu kita yakini dengan sungguh-sungguh karena kita mengalaminya secara pribadi.

Sebagian orang jatuh ke ekstrem yang lain, yaitu memusatkan dan memutlakkan pengalaman pribadi ketika memuji Allah. Pujian bukan diarahkan kepada Allah, tetapi kepada pengalaman pribadi itu sendiri. Allah juga tidak akan berkenan dengan pujian seperti ini dengan alasan yang sederhana: orang-orang ini memang tidak sedang memuji Allah tetapi memuji dirinya sendiri.

Pujian Maria lahir dari pengalaman pribadinya, tetapi Maria mengarahkan pujiannya kepada Allah. Dari pengalaman pribadinya, yaitu keadaannya yang dahulu rendah dan sekarang ditinggikan, ia bergerak kepada Allah yang mengangkatnya dengan kuasa dan belas kasihan-Nya. Ia sadar bahwa ia diberkati hanya karena Allah memberkati dia, dan karena itulah objek pujian Maria bukanlah dirinya atau pengalamannya, melainkan Allah, karakter, dan pekerjaan-Nya.

Secara khusus, Maria memuji karakter dan pekerjaan Allah di dalam dua hal: tindakan Allah yang meninggikan orang-orang yang rendah dan merendahkan orang-orang yang tinggi (sombong).[1]

Tuhan Meninggikan yang Rendah

Tindakan Allah yang mengangkat orang yang rendah terlihat nyata dalam pengalaman Maria dan melalui pribadi-pribadi lain di sepanjang sejarah. Orang yang rendah hati adalah mereka yang takut akan Allah dan Allah selalu melakukan pekerjaan-Nya melalui orang-orang dengan karakter seperti ini. Di setiap generasi, Allah menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang takut akan Dia, yang berarti menyembah Dia dengan kagum dan hormat. “Takut akan Tuhan berarti menghormati Allah dengan penuh kegembiraan—bukan takut yang tidak rela seperti tawanan perang kepada pemenang perang, tetapi menghormati Dia dengan penuh kasih dengan menghindari apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya dan berjuang untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana seorang anak yang menaati ayah yang mengasihinya.”[2] Orang-orang yang takut akan Tuhan seperti Maria akan diangkat, tidak peduli seberapa rendah kehidupan mereka.

Seorang dokter medis Amerika yang melakukan perjalanan ke daratan Tiongkok untuk melayani sebagai misionaris medis pernah berkata:

“Ketika saya merasa jijik dengan kotoran dan kemiskinan, atau merasa marah ketika saya melihat anak-anak jalanan mengemis dengan luka yang ditimbulkan oleh “pemilik” mereka agar mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang, di situlah saya sadar bahwa kepada orang-orang miskin dan terbelakang dari Kekaisaran Romawi inilah Juruselamat kita datang. Berita kedatangan-Nya diberikan kepada orang-orang yang terpinggirkan, dan Dia dituduh menghabiskan waktu-Nya dengan “orang-orang yang salah”. Kebesaran hati-Nya terlihat dalam semua ini—karena tempat tinggal yang menurut kita paling indah adalah tempat pembuangan sampah jika dibandingkan dengan tempat tinggal sorgawi-Nya. Tetapi Dia melewati semua itu dan mengunjungi mereka yang paling membutuhkan.”[3]

Mungkin sebagian dari kita berada dalam kondisi seperti Maria. Kita berada pada strata masyarakat yang rendah; entah karena kita miskin, sakit-sakitan, tidak memiliki pendidikan atau jabatan yang tinggi, dan sebagainya. Jika keadaan kita saat ini demikian, jangan mengeluh kepada Allah. Jangan menghalalkan segala cara untuk memanjat ke posisi yang lebih tinggi di masyarakat, melainkan “rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yak. 4:10).

Tuhan Merendahkan yang Tinggi

Allah yang meninggikan yang rendah adalah Allah yang sama yang merendahkan yang tinggi. Inilah yang menjadi tema besar kedua dari Magnificat Maria. 

Dalam kitab-kitab Injil Sinoptik, kedatangan Yesus sering dipresentasikan sebagai kedatangan Kerajaan Allah. Ketika kerajaan yang baru telah datang untuk berkuasa, secara otomatis kerajaan yang sebelumnya akan diturunkan dan berhenti berkuasa. Ini adalah fenomena yang biasa terjadi. Pada bulan Mei 1998, munculnya Orde Reformasi yang dipimpin oleh Presiden B. J. Habibie secara otomatis menandai berhentinya kuasa pemerintahan dari Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. 

Hanya Kristus yang berhak menerima kuasa dan kemuliaan, dan ini berarti Allah tidak akan pernah beristirahat, sampai seluruh kuasa dan setiap orang ditaklukkan kepada Kristus serta setiap musuh yang melawan-Nya telah dihancurkan. Secara spesifik, Allah akan menundukkan kesombongan intelektual (Luk. 1:51), kesombongan kedudukan (Luk. 1:52), dan kesombongan kekayaan (Luk. 1:53). “Dapatkah engkau melihat,” tulis Martyn Lloyd-Jones, “bahwa segala sesuatu yang menjadi kesombongan bagi manusia—intelektualitasnya, pengertiannya, kekuatannya, status sosialnya, pengaruhnya, kebenarannya, moralitasnya, etikanya—semuanya ini akan dihancurkan seluruhnya oleh Anak Allah ini?”

Maria menyadari bahwa Anak yang dikandungnya akan mengguncang dunia. Ia akan berdiri tepat berseberangan dengan segala sesuatu yang dikejar oleh manusia. Di dalam Kristus, Allah memutarbalikkan standar yang dipakai manusia untuk mengukur kebesaran dan signifikansi mereka. Orang yang ditinggikan adalah mereka yang merendahkan dirinya. Orang yang direndahkan-Nya adalah pemimpin berkuasa yang menolak kebutuhannya akan Allah. Kita dapat melihat tema ini di sepanjang Kitab Lukas. Orang kaya masuk ke neraka, sedangkan orang yang miskin menikmati kehadiran Allah di sorga (Luk. 16:19-31). Orang Farisi yang berdoa dengan menyombongkan moralitasnya ditolak, sedangkan pemungut cukai yang memukul-mukul dirinya karena sadar dia adalah orang berdosa pulang ke rumah dengan mendapat pembenaran dari Allah (Luk. 14:11; 18:14). Dan di penutup Kitab Lukas, Anak Allah yang merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib kemudian dibangkitkan dalam kemenangan. 

Saat ini, Yesus sedang sibuk untuk mengguncang dunia ini. Ia tidak pernah membiarkan segala sesuatu tetap sama. Ia tidak pernah membiarkan segala sesuatu berada dalam status quo. Dalam hal ini, Yesus bukan seorang konservatif. Ia radikal, subversif, dan revolusioner. Inilah yang membuat gereja yang tidur dan mengikuti dunia berada dalam situasi yang berbahaya. Yesus sedang berperang dengan dunia yang berdosa, dan apabila gereja mengikuti dunia ini, gereja sedang menjadikan dirinya musuh Yesus dan target dari kehancuran, sebab Allah tidak akan berhenti bekerja sampai seluruh musuh Yesus ditaklukkan di bawah kaki-Nya. Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa bayi yang sedang dikandung Maria ini adalah Bayi yang paling berbahaya yang pernah dilahirkan di dunia.

Respons Kita sebagai Individu dan Gereja

Beginilah cara Tuhan bekerja: orang yang rendah hati mendapatkan belas kasihan, sedangkan orang yang sombong menerima keadilan; yang rendah diangkat dan yang tinggi direndahkan. Ini berlaku baik untuk setiap manusia, semua bangsa, maupun juga gereja. 

Sejarah telah mencatat kehancuran para penguasa sombong yang mencoba menaklukkan dunia: Firaun ditenggelamkan di lautan, bangsa Filistin berlari-larian setelah prajurit kebanggaan mereka dimatikan, Nebukadnezar direndahkan seperti binatang, kaisar-kaisar Romawi mati satu per satu, dan seterusnya.

Tuhan melakukan hal yang sama dengan gereja. Tidak ada yang lebih mematikan bagi kesehatan rohani daripada kesombongan rohani. Gereja-gereja yang membanggakan pelayanannya akan direndahkan sampai mereka belajar untuk memberikan kemuliaan hanya kepada Tuhan, sementara gereja-gereja yang dengan rendah hati melakukan pekerjaan Tuhan dengan tekun akan melihat Allah bekerja di tengah-tengah mereka untuk mempertumbuhkan jemaat dan memanggil orang berdosa kembali kepada Tuhan.

Apa yang berlaku bagi gereja dan bangsa ini juga berlaku bagi individu: “Allah menentang orang yang sombong, tetapi memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Inilah yang dinyanyikan Maria, “Ia (Allah) melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk. 1:53; lih. 6:21, 24). Tentu saja ayat ini berimplikasi pada keadilan sosial. Tuhan tidak meninggalkan orang miskin. Ia menyediakan dan memelihara mereka. Tetapi Maria juga berbicara tentang kebutuhan rohani kita akan Allah. Tuhan hanya memuaskan orang yang lapar akan Dia. Jika kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan seperti seorang pengemis membutuhkan roti, Dia akan mengirim kita pergi dengan hampa. Tetapi jika kita memiliki hati yang lapar akan Tuhan—jika kita merindukan pengampunan atas dosa-dosa kita, jika kita haus akan pengenalan tentang Allah, jika kita mendambakan hidup yang kekal di dalam Kristus—Allah akan memuaskan kita dengan kasih karunia-Nya.

Allah seperti inilah yang diagungkan oleh Maria: Allah yang memuaskan. Martin Luther mengatakan bahwa lagu yang dinyanyikan Maria ini adalah tentang “pekerjaan dan perbuatan Tuhan yang besar untuk memperkuat iman kita, untuk menghibur semua orang yang rendah, dan untuk menakutkan semua orang yang perkasa di bumi. Kita harus mempersilakan Magnificat Maria ini untuk mencapai tujuan rangkap tiga ini, karena Maria menyanyikannya bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kita semua, dan mengundang kita untuk menyanyikannya juga.”[4] Luther benar. Lirik dari lagu Maria memperkuat iman kita kepada Yesus Kristus. Lagu ini menghibur kita dengan janji bahwa Tuhan akan mengangkat kita saat kita terpuruk. Lagu ini juga menghajar kesombongan kita, menghancurkan kebanggaan kita akan diri sendiri.

Penutup

Kiranya momen Natal tahun ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menyanyikan Magnificat milik kita sendiri. Kiranya kita dapat mengalami dan menyanyikan hal-hal besar yang telah Allah lakukan bagi kita. Kiranya kita mengagungkan karya Allah yang besar bagi keselamatan kita melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan kiranya kita juga mengagungkan karya Roh Kudus yang penuh rahmat, yang merendahkan kesombongan kita, sehingga Tuhan dapat mengangkat kita ke dalam kemuliaan.

Marthin Rynaldo

Pemuda FIRES

Pustaka:

[1] Phillips, Richard. D., & Ryken, Philip G. (2008). The Incarnation in the Gospels (Reformed Expository Commentary). New Jersey: P&R Publishing.

[2] Geldenhuys, Norval. (1951). The Gospel of Luke (The New International Commentary on the New Testament). Grand Rapids: Eerdmans. Hlm. 85.

[3] Dikutip dari newsletter by Dr. Harvey Shepard (2004).

[4] Luther, Martin. Luther’s Works, 21:306, quoted in Just, Luke 1:1–9:50, 79.