Betapa gemasnya melihat seorang anak merengek-rengek meminta sesuatu. Saya rasa kebanyakan
orang tua akan setuju dengan saya mengenai hal ini. Anak kecil harus diajari untuk meminta sesuatu
dengan cara yang dewasa. Jika permintaannya tidak dikabulkan, anak tersebut tidak boleh menangis.
Demi kebaikan anak (semoga bukan karena risih), tidak sedikit orang tua yang tidak segan-segan
mengeluarkan rotan, sabuk, atau lidi untuk mengancam anak yang mulai merengek. Jikalau anak
tidak berhenti merengek, rotan akan berbunyi. Menurut saya, ini adalah disiplin yang baik karena
rengekan menandakan kelemahan, kecengengan, dan ketidakmatangan. Anak yang dewasa mengerti
mengapa orang tua tidak mengabulkan permintaan mereka dan tidak akan memaksa orang tua,
apalagi dengan senjata air mata.
Dalam kehidupan rohani, banyak orang Reformed mengadopsi sikap “dewasa” ini dalam kehidupan
doa mereka. “Jadilah kehendak-Mu” adalah slogan yang mengarahkan doa-doa kita. Tidak banyak hal
yang dapat kita cela tentang pengetahuan jemaat Reformed akan kedaulatan Tuhan.
Akan tetapi, adakah di antara kita, orang-orang Reformed, yang berani mengadu dengan Daud siapa
yang lebih mengerti kedaulatan Allah? Adakah dari kita yang merasa layak mengajar Daud tentang
doktrin ini? Karena itu, saya terheran-heran, mengapa orang yang mengerti hakikat kedaulatan
Tuhan seperti Daud, dapat melakukan hal seperti yang terdapat dalam 2 Samuel 12:16, 22. Bukankah
Daud baru saja mendengarkan kehendak Tuhan melalui Nabi Natan? (14) Mengapa Daud merengek-
rengek seperti anak kecil di hadapan Tuhan?
Yang pasti, Daud bukannya tidak memahami konsep “Thy will be done.” Jangan-jangan, kita yang
menyeru-nyerukan “jadilah kehendak-Mu” seringkali menyembunyikan makna “terserah apa mau-
Mu, aku tidak peduli apa pun yang terjadi” di belakang slogan itu. Puasa dan tangisan Daud memang
sengaja ditujukan untuk mengubah kehendak Tuhan, meskipun jelas bahwa Daud tidak berhasil.
Akan tetapi, itu tidak membuatnya lebih kekanak-kanakan daripada banyak orang Reformed dalam
hal kerohanian. Bacalah kisah seluruh perikop tersebut, maka Anda akan melihat suatu ironi: pada
saat Daud berpuasa dan menangis ingin membelokkan kehendak Tuhan, dia lebih dekat kepada
Tuhan daripada ketika kita mengatakan, “Kehendak Tuhan jadilah,” dengan sikap tak peduli.
Demikian pula, ketika kehendak Tuhan jadi, Nabi Yeremia meratap,
O wall of the daughter of Zion,
let tears stream down like a torrent day and night!
Give yourself no rest, your eyes no respite!
Arise, cry out in the night, at the beginning of the night watches!
Pour out your heart like water before the presence of the Lord!
Lift your hands to him for the lives of your children,
Who faint for hunger at the head of every street.
(Ratapan 2:18-19, ESV)
Erwan
Redaksi Umum Pillar