“Saya adalah seorang yang penuh kepahitan pak, jujur saja pak, keadaan yang getir terus membuat
kadar kepahitan itu hanya bisa bertambah dan tidak pernah berkurang.”
Untunglah si bapak yang penuh kepahitan tersebut masih bisa menceritakan keluh kesahnya
sambil tersenyum manis (ternyata belum pahit total rupanya). Sepanjang satu jam mendatang,
ia menunjukkan betapa keluarga besar yang tidak mengerti pergumulan dirinya, bagaimana
uang sebagai permasalahan yang merusak hubungan pernikahannya, lalu hampir segala
sesuatu, termasuk dirinya sendiri juga, merupakan biang kerok kesulitan besar dalam hidup
yang ia hadapi sekarang (untunglah dia tidak menunjuk saya juga).
Betapa mudah kita menunjuk sumber permasalahan di luar diri kita. Ini symptom sejak purba
kala di Taman Eden, ketika Adam pertama kali menunjuk Hawa sebagai biang kerok
permasalahan yang Tuhan tempatkan di sisinya. “Gen DNA telunjuk teracung ke depan” itu
sepertinya tidak pernah gagal diturunkan ke generasi selanjutnya hingga zaman kita sekarang
ini.
Saya kemudian menyela si bapak dan menyebut satu nama: Yusuf. Kenapa Yusuf? Yusuf
punya alasan 100 kali lipat lebih kuat untuk menjadi orang yang penuh kepahitan. Ia dijual
oleh kakak-kakak kandungnya sendiri. Ia kemudian menjadi budak di rumah seorang Mesir
yang kemudian difitnah menjadi seorang tahanan. Ketika menolong juru roti dan juru
minuman, ia dilupakan jasanya selama dua tahun. “Aku seorang anak kesayangan yang biasa
dilayani hamba-hamba di rumah ayahku, sekarang harus menjadi hamba orang lain”,
“Percuma hidup jujur menjauhi godaan, bukannya diberkati Tuhan malah dikirim ke penjara,
inikah balasan-Mu Tuhan?”, “Betul juga kata orang bahwa menolong orang lain adalah
kebodohan karena mereka tidak akan ingat membalas budi”. Yusuf punya 13 tahun untuk
membuat daftar ini sepanjang buku novel trilogi. Tetapi dia tidak membiarkan kepahitan
demi kepahitan hidup menguasainya, kepahitan dikuasainya atau dipakainya untuk
mentransformasi dirinya dan menghasilkan pertolongan yang luar biasa manis bagi orang-
orang di sekitarnya.
Bicara tentang kepahitan, bukankah di Golgota hanya ada kepahitan dan kegelapan? Namun
pahitnya Golgota ternyata menjadi sumber kesembuhan bagi kepahitan-kepahitan hidup umat
manusia.
Kepahitan? Ambillah secangkir kopi dengan sedikit kepahitan namun kepahitan itu tidak apa-apa,
karena dengan seruput lebih banyak, kita akan menemukan rasa manis tersimpan di sela-sela
rasa pahit tersebut. Nikmatilah hidup di dalam kedaulatan Allah yang Maha baik, walaupun kita
tidak sanggup melihat manis di awalnya.
