Di awal semesta yang masih lengang—beberapa theolog menyebutnya “chaos”—Sang Pencipta tidak mengawali dengan hentakan maut à la Super Saiyan. Ia memulainya dengan manifestasi suara—getaran komunikasi Ilahi.
“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang!’ lalu terang itu jadi.” (Kej. 1:3)
Penciptaan bukanlah produk dari aktivitas fisikal semata, melainkan orkestrasi komunikasi transendental yang memukau. Saking memukaunya, peristiwa purba itu terdengar sampai saat ini.
Rasul Yohanes, dalam prolog narasinya yang menggetarkan jiwa, memproklamasikan dengan kepastian tak tergoyahkan.
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1)
Firman—Logos—adalah asal muasal segala eksistensi. Ya. Tidak berlebihan jika kita berkesimpulan bahwa komunikasi bukanlah sekadar instrumen artifisial untuk pertukaran informasi antarmanusia belaka, tetapi merupakan esensi fundamental dari keberadaan itu sendiri.
Namun, di era hyper reality yang dibalut dengan teknologi digital, kita tengah berhadapan dengan krisis eksistensial yang mengerikan: manusia kian kehilangan kapasitas untuk membedakan antara komunikasi autentik dan kebisingan superfisial.
Instagram dengan visual yang menghipnotis, TikTok dengan fragmen-fragmen konten mikronya dan joget-joget, YouTube Shorts, grup-grup WhatsApp yang tiada henti mendengungkan notifikasi, podcast Spotify berjam-jam yang menghujani telinga—semua berteriak secara simultan tanpa jeda. Apakah ini bentuk komunikasi? Atau hanya bunyi-bunyian yang tak bermakna di dalam hidup kita?
Kita terperosok dalam gelombang notifikasi yang menenggelamkan, seakan-akan legitimasi eksistensi ditentukan oleh siapa yang paling lantang bersuara, bukan siapa yang menyampaikan kebenaran paling sahih. Komunikasi sejati, yang memerlukan kontemplasi mendalam, keheningan yang bermakna, dan refleksi yang matang, kini tenggelam dalam samudera kebisingan yang dengan lancang mengklaim dirinya sebagai “interaksi sosial” atau bahkan “persekutuan spiritual”. Tidak heran jika anak-anak saat ini jeda bosannya sangat pendek. Sedikit-sedikit bosan, sedikit-sedikit tantrum. Tak ada waktu untuk merenung, berpikir, diam, bahkan tak sempat bosan!
Sungguh, we’re drowning in a sea of noise but dying of thirst for meaningful conversation!
Di tengah fakta-fakta kejatuhan ini, theologi Reformed memberikan fondasi epistemologis yang kokoh mengenai urgensi komunikasi otentik. Martin Luther, sang reformator yang juga merupakan salah seorang pelopor kekristenan Protestan, meletakkan sentral theologinya pada firman—Kitab Suci sebagai otoritas tertinggi. Firman yang dikhotbahkan secara verbal di mimbar menjadi medium utama manifestasi anugerah Ilahi. Dari komunikasi yang terbatas antar clergy, bisa menjadi komunikasi yang tidak terbatas dengan bahasa masing-masing, didukung dengan perkembangan teknologi mesin cetak Wittenberg.
John Calvin, dengan kecemerlangan intelektualnya, mengembangkan konsep komunikasi transenden (melangit) sekaligus imanen (membumi) secara lebih mendalam: Allah menyingkapkan diri-Nya melalui Firman yang hidup dan Roh Kudus yang menerangi sanubari umat-Nya. Pewartaan bukanlah sekadar orasi publik yang hambar, melainkan komunikasi Ilahi yang menggerakkan, tempat Allah hadir secara aktif dan menghidupkan jiwa-jiwa yang lapar. Bukan sekadar hingar-bingar retorika yang mengambang tanpa substansi.
Pewartaan bukanlah sekadar orasi publik yang hambar, melainkan komunikasi Ilahi yang menggerakkan, tempat Allah hadir secara aktif dan menghidupkan jiwa-jiwa yang lapar. Bukan sekadar hingar-bingar retorika yang mengambang tanpa substansi.
Ulrich Zwingli pun meletakkan landasan fundamental dalam theologi kotbah yang revolusioner. Ia menolak dengan tegas segala manifestasi “ritus kosong” dan mengembalikan fokus pada kekuatan transformatif komunikasi verbal firman Allah.
Dalam reformasi Zurich yang mengguncang, Zwingli menempatkan mimbar di pusat liturgi, bukan altar, menandakan bahwa komunikasi firman jauh lebih esensial daripada simbolisme ritualistik dan tradisi seremonial. Tidak, tidak ada maksud saya untuk overglorify mimbar, seolah yang bicara di atas mimbar selalu suara Tuhan. Namun ini adalah sebuah metafora altruistik dari Tuhan yang ingin membahasakan bahasa-Nya dalam bahasa manusia lewat mimbar-mimbar yang bertanggung jawab.
Zwingli bahkan berani menentang musik dalam ibadah jika dianggap mengaburkan kejernihan pewartaan firman. Bagi Zwingli, komunikasi tanpa konten theologis yang otentik hanyalah polusi akustik yang mencemari kesucian jiwa. Bahkan dalam beberapa catatan, ia dalam masa reformasi sempat menghapus musik dari liturgi ibadah, karena kekhawatiran tersebut.
Cornelius Van Til, dengan kejeniusan apologetikanya, memberikan fondasi epistemologis yang sangat brilian tentang signifikansi komunikasi yang bersumber dari Allah Tritunggal. Dalam relasi interpersonal dalam Tritunggal yang kekal, terdapat komunikasi yang sempurna, harmonis, dan tak terputus—sebuah komunio yang tak tertandingi kesempurnaannya.
Manusia sebagai imago Dei—cerminan Allah—terpanggil untuk merefleksikan pola komunikasi Ilahi ini. Maka komunikasi sejati selalu berakar dan terarah kembali kepada Allah sebagai sumber ultimat. Ketika manusia dengan arogansinya memisahkan komunikasi dari Allah, ia hanya menghasilkan distorsi sonik yang membingungkan—”seperti gong yang berkumandang atau canang yang gemerincing” (1Kor. 13:1), bunyi tanpa jiwa, suara tanpa makna.
John Frame memperluas panorama pemahaman ini melalui tiga perspektif epistemologis dalam theologi: normatif (firman Allah sebagai standar absolut), situasional (realitas dunia dan konteks sosiokultural), dan eksistensial (respons personal dalam iman autentik). Dalam komunikasi yang bermakna, ketiganya harus hadir secara simultan dan harmonis.
Tanpa dimensi normatif, kita hanya menghasilkan omong kosong yang mengambang. Tanpa dimensi situasional, kita terjebak dalam fanatisme dogmatis dan kehilangan relevansi kontekstual. Tanpa dimensi eksistensial, kita berubah menjadi automaton tanpa hati—mekanis dan kaku. Dengan demikian, komunikasi Kristen sejatinya merupakan tindakan theologis yang komprehensif dan integral.
Ketika manusia dengan arogansinya memisahkan komunikasi dari Allah, ia hanya menghasilkan distorsi sonik yang membingungkan—”seperti gong yang berkumandang atau canang yang gemerincing” (1Kor. 13:1), bunyi tanpa jiwa, suara tanpa makna.
Vern Poythress, dengan ketajaman analisisnya, menekankan bahwa karena Allah adalah sumber primordial semua bahasa, maka seluruh ekspresi komunikasi manusia pada hakikatnya adalah refleksi dari komunikasi Ilahi. Dalam karyanya yang brilian “In the Beginning Was the Word”, ia menegaskan bahwa struktur bahasa manusia berakar pada natur Allah sendiri.
Maka ketika bahasa disalahgunakan—dalam hoaks yang menyesatkan, dalam gosip yang menghancurkan, dalam kebisingan digital yang meracuni—kita sesungguhnya sedang merusak refleksi Allah dalam diri kita sendiri. Pop culture kontemporer, tragisnya, telah menjadi arena masif bagi pengejawantahan kebisingan ini.
Musik dengan beat hipnotis namun tanpa lirik bermakna—yang Zwingli alergi terhadapnya, vlog narsisistik yang hanya merayakan eksistensi superfisial, komentar netizen yang dipenuhi reaksi emosional tanpa refleksi intelektual—semuanya adalah suara hampa tanpa jiwa. Ciri khas dari pengidap NPD (Narcistic Personality Disorder) muncul semua di sini.
Mereka mungkin mengisi ruang temporal, tetapi sebenarnya justru menguras makna eksistensial. Mau sampai kapan kita tetap ada dan nyaman di zona toksik yang justru mencerminkan kebalikan dari comfort zone ini? Kapan kita akan wake up and realize bahwa kita sedang dimanipulasi oleh industri kebisingan?
Gereja masa kini pun tidak imun terhadap kontaminasi ini. Banyak komunitas Kristen yang dengan naifnya mensubstitusi pewartaan firman dengan entertainment, menukar refleksi theologis dengan gimmick yang menghibur, menggantikan komunikasi substantif dengan produksi suara yang memekakkan. Mikrofon digenggam dengan percaya diri, mulut ternganga, namun hati juga ternganga kosong?
Musik menggelegar memecah gendang telinga, psikis dipermainkan, akan tetapi jiwa tetap merintih kehausan akan air yang membuat kita tidak akan haus lagi jika diminum. Oleh karena itu, reformasi komunikasi adalah keharusan yang menjadi urgensi bagi gereja saat ini. Firman harus dikembalikan ke singgasana sentralnya. Gereja harus menjadi oasis di mana komunikasi autentik direstorasi: dari Allah, oleh kuasa Allah, untuk kemuliaan Allah dan keutuhan umat-Nya.
Ketika kita mengkonstruksi ulang pemahaman tentang komunikasi bukan sekadar sebagai keterampilan sosial pragmatis, melainkan sebagai anugerah Ilahi yang merefleksikan relasi misterius Allah Tritunggal, maka kita tidak akan lagi bersikap sembrono dalam berbicara, menulis, dan mengekspresikan diri. Orang keren biasanya bilang: mindful.
Kita akan bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih lambat dalam berbicara, lebih responsif dalam mendengar, dan lebih bijaksana dalam menyaring suara mana yang layak dipersilakan masuk ke dalam ruang suci hati kita.
Pada akhirnya, komunikasi yang otentik adalah komunikasi yang menghidupkan dan mentransformasi, bukan sekadar mengisi kekosongan ruang akustik. Ia menciptakan, membentuk, dan menyembuhkan luka-luka eksistensial.
Sebagaimana Allah yang menciptakan semesta dengan Firman-Nya yang kreatif, kita pun dipanggil untuk mengkreasikan mikrokosmos kita—keluarga, gereja, tempat kerja—dengan kata-kata yang memancarkan terang kesejatian, bukan sekadar polusi suara.
Sebab komunikasi adalah warisan surgawi yang tak ternilai, dan kita, manusia, diciptakan bukan hanya untuk berbicara tanpa tujuan, tetapi untuk merefleksikan keagungan Dia yang telah lebih dahulu berfirman dengan kuasa penciptaan-Nya.
Seperti yang dikatakan oleh para leluhur Jawa dalam filosofi mereka yang mendalam: “Ajining diri saka lathi” (Harga diri seseorang terletak pada lidahnya). Betapa Sang Pencipta telah memercayakan kita dengan kuasa dahsyat ini—kuasa untuk menciptakan atau menghancurkan melalui kata-kata yang kita ucapkan.
“Karena itu, apa pun yang hendak kamu lakukan dengan kata-kata yang dari mulutmu, lakukanlah dengan kesadaran bahwa lidah memiliki kuasa hidup dan mati.”
Refleksi kritis ini seharusnya merambah pula ke negara, ke ranah politik, terutama dalam konteks Indonesia kekinian. Komunikasi para elit penguasa kita, alih-alih mendemonstrasikan kedalaman pemikiran dan integritas moral, seringkali hanya berputar-putar pada orbit pencitraan dangkal dan sensasionalisme murahan.
Banyak pejabat yang lebih mengutamakan gaya komunikasi “asal relate” dengan massa demi viralitas sesaat, daripada membangun wacana berbobot dengan kompetensi dan substansi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Gegap gempitanya media sosial dijadikan barometer keberhasilan komunikasi politik, padahal yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat bukan retorika yang dipenuhi humor ringan atau gimmick menghibur, melainkan kejujuran vertikal dan kejelasan narasi kebangsaan yang mencerahkan.
Reformasi komunikasi, dalam perspektif theologi Reformed yang komprehensif, harus melampaui batas-batas institusional gereja dan menerobos masuk ke dalam ruang publik yang lebih luas. Negara yang pola komunikasinya terkontaminasi dan tidak sehat, tidak akan pernah menghasilkan kebijakan yang adil dan menyejahterakan.
Sebab, dari komunikasi yang terdistorsi, lahirlah kekacauan struktural yang mengerikan. Dan dari kata-kata yang tercerabut dari akar kebenaran, lahirlah ketidakadilan sistemik yang mencederai martabat kemanusiaan kita bersama. Jangan heran jika dalam potret masyarakat yang komunikasinya sudah rusak, yang berbicara dengan kejujuran malah dianggap gila, sementara para penipu ulung dipuja bagai dewa. Ini bukanlah sekadar ironi—ini adalah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan.
Namun, jangan pernah putus asa! Di tengah tsunami kebisingan digital yang memporak-porandakan, masih ada suara kebenaran yang berbisik lembut, mengingatkan kita akan esensi komunikasi sejati. Seperti yang Tuhan Yesus katakan, “Domba-domba-Ku mengenal suaraku.”
Suara Yesus tidak serta merta seberisik influencer dengan jutaan followers, atau sepopuler podcast yang trending, tapi justru dalam kelembutan suara itulah kekuatan transformatif yang sesungguhnya bersemayam.
Kadang kita perlu tertawa, ya menertawakan absurditas zaman—bagaimana kita rela membuang waktu berjam-jam scrolling tanpa tujuan, sementara lima menit refleksi dalam keheningan terasa begitu menyiksa. Bukankah ini bukti bahwa jiwa kita telah kecanduan kebisingan?
Sepertinya kita perlu rehab komunikasi, detoksifikasi dari racun bising yang setiap hari kita konsumsi tanpa sadar. Mungkin dimulai dengan mematikan notifikasi, membatasi screen time, atau—ini yang paling radikal—berani hidup tanpa persetujuan algoritma media sosial. Bayangkan betapa bebasnya hidup tanpa tekanan untuk selalu terlihat “update” dan “relate”!
Apakah komunikasi kita hari ini menghidupkan atau justru menghabiskan energi? Menciptakan makna atau hanya mengisi kekosongan? Membangun atau menghancurkan? Menyembuhkan atau melukai? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah kita sedang berkomunikasi secara autentik atau hanya menambah kebisingan dunia yang sudah terlalu bising ini.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa keras atau seberapa viral suara kita yang menentukan dampak sejati, melainkan seberapa dalam kata-kata kita beresonansi dengan kebenaran Ilahi yang kekal. Semoga saja semua yang menjadi tulisan di atas tidak berakhir menjadi “bunyi” dalam hidup para pembaca dan saya, namun bisa menjadi sarana komunikasi kita yang bermakna. Soli Deo gloria.
Hans Yulizar Sebastian
Jemaat GRII Pusat
Pranala luar:
Zwingli: Commentary on True and False Religion (1525)
Vern Sheridan Poythress: In the Beginning Was the Word
