Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Kehidupan Kristen

Mengapa Allah Menjadi Manusia

31 Desember 2025 | Kevin Nobel 7 min read

Pada abad ke-11, ada seorang rohaniawan bernama Anselmus dari Katerburi (saint Anselm of Canterbury). Pada masa gereja sedang mengalami masa kegelapan, Tuhan membangkitkan Anselm sebagai salah satu tokoh besar yang mengantar gereja pada kontemplasi iman yang mendalam. Dari ranah filsafat, Anselm adalah pemikir yang mencetuskan argumentasi ontologis (ontological argument). Anselm menjelaskan bahwa Allah yang sejati adalah Allah yang melampaui segala bayangan manusia. Jika kita percaya akan Allah sejati, maka kita akan diarahkan untuk memiliki pengetahuan yang tepat akan Dia. Dari situlah kita mengenal frasa yang disebut sebagai “iman mencari pengetahuan” (fides quaerens intelectum). Karya-karya kontemplatif dari Anselm mengajak kita untuk merefleksikan kebeasaran dari Diri Allah, dan memberikan sebuah rasa kagum akan Dia (sense of awe).

Dalam ranah teologi, Anselm adalah sosok yang menitikberatkan penebusan umat manusia dalam arti substitusi hukum (penal substitution atonement). Dialah sosok yang menjelaskan bahwa umat manusia hanya dapat ditebus jika Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus yang menerima murka Allah di kayu salib. Bagi kita yang berasal dari tradisi Protestan, istilah imputasi kebenaran (imputation of righteousness) yang berlaku secara legal di mata Allah banyak dibentuk dari pemikiran dan kontemplasi dari Anselmus tersebut. Karya penebusan Kristus yang menjadi jantung kehidupan orang Kristen dihadirkan ketika status “dibenarkan” telah dinyatakan Allah kepada orang percaya. 

Akan tetapi, tulisan Anselm yang paling dalam yang memuat makna iman dapat ditemukan dalam karyanya, Cur Deus Homo, yang diterjemahkan sebagai “mengapa Allah menjadi manusia”. Dalam agama-agama monoteis utama, kita akan menemukan Allah yang mencipta dan mengakhiri dunia. Kemahakuasaan Allah dapat membuat segala kondisi yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo) dan yang menutup perjalanan sejarah pada hari penghakiman. Akan tetapi, di antara titik alfa dan omega, termuat misteri yang lebih dalam yang hanya dapat ditemukan dalam kekristenan, yaitu inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Kristus. 

Dalam refleksi natal ini, saya akan mencoba untuk mengulas tentang “mengapa Allah menjadi manusia?” Apakah itu sebuah kewajiban atau kerelaan? Apakah Tuhan harus menjadi manusia – bahkan menjadi manusia yang lahir di palungan? 

Andaikata manusia tidak berdosa, apakah Tuhan Yesus tetap akan menjadi manusia?

Menurut Anselm, andaikata manusia tidak jatuh dalam dosa di Taman Eden, Tuhan tetap akan menjadi manusia. Dosa bukanlah alasan mengapa Yesus harus dilahirkan. Ya mungkin saja, dosa kita memakukan Yesus di kayu salib. Namun, kasih Allah tidak menjadi “lebih besar” karena dosa manusia, melainkan kasih Allah adalah kekal pada diri-Nya, dan Tuhan tetap memilih untuk hidup bersama manusia sehingga kasih Allah turut menjadi tampak ketika Dia inkarnasi menjadi daging – sama seperti kita. Hal ini memberikan banyak kedalaman pengertian bagi kehidupan iman kita. Justru karena Tuhan ingin hidup bersama kita, entah di bumi maupun di surga yang akan datang, maka Tuhan rela melakukan segala sesuatu untuk memenangkan kita kembali.

Barangkali, kita akan mengenang kayu salib dan kubur kosong sebagai titik kemenangan Allah atas dosa dan maut. Itu memang benar, dan paskah adalah hari yang lebih besar daripada natal. Akan tetapi, kematian dan kebangkitan Kristus hanyalah mungkin jika terdapat natal terlebih dahulu. Allah yang menang atas dosa dan maut adalah Allah yang ingin menjadi sama seperti kita, hidup bersama seperti kita, yaitu Immanuel, Allah beserta kita. Jika kita mempunyai Allah yang menang atas dosa dan maut, kita ditebus dengan sebuah “tiket emas” untuk bisa ke surga, tetapi Allah seperti ini tidak menginginkan kebersamaan dengan kita, maka itu tetaplah sebuah keselamatan yang hampa. Sebaliknya, Allah yang mengasihi kita adalah Allah yang melepaskan kedudukan-Nya di surga, dan hidup dengan kita. Hidup dalam kita.

Allah menyertai kita. Tuhan menjadi kecil dan rentan. Tuhan Yesus menurunkan diri menjadi zigot dan embrio, dan kemudian menjadi bayi manusia yang rentan. Selama ribuan tahun perjalanan sejarah sejak Adam dan Hawa, momen paling rentan yang dialami Tuhan adalah masa kelahiran-Nya. Sembilan bulan di mana Bunda Allah berkandung, Yesus berada dalam masa-masa yang rentan untuk terluka dan keguguran. Setelah Maria bersalin sekalipun, sejak dari hari pertama, bayi Yesus sudah menjadi “buronan” yang dikejar-kejar nyawanya di kota kecil Betlehem. Seperti kisah bayi Musa yang harus dilepaskan kepada Sungai Nil sebab terjadinya genosida terhadap bayi-bayi Israel, demikian juga bayi Yesus menjadi sasaran. Sebelum mengalami kematian di kayu salib, tragedi inilah yang harus dialami oleh bayi Kristus sejak hari pertama-Nya jika Tuhan ingin hidup beserta kita.

Natal yang menjadi hari sukacita di mana Allah menghadirkan Diri di tengah kita juga menjadi hari yang membongkar hati manusia. Apakah kita menerima Allah atau menolak-Nya? Dalam keberdosaan, manusia ingin “naik ke atas”, dengan menjadi lebih tinggi dan kuat, dan menyingkirkan sang Raja yang datang ke dalam dunia. Sebaliknya, Tuhan yang adalah Mahatinggi “turun ke tempat paling bawah”, yang tidak mungkin bisa menjadi diselami kerendahan hati-Nya oleh umat manusia maupun umat percaya.

Kita bisa membayangkan seorang presiden yang turun gunung, dan menjadi salah satu warga yang turut merasakan bencana. Jika seorang raja turun menjadi seorang petani, berpura-pura menjadi rakyat jelata untuk mencari seorang kekasih, di situ kita dapat membayangkan kebaikan hati manusia. Sebab kasih hanyalah mungkin di antara yang “setara”. Apabila salah satu pihak mengambil posisi yang lebih tinggi, maka itu bukanlah kasih, melainkan intimidasi. Pemimpin manusia yang baik seperti ini adalah manusia yang diidam-idamkan oleh tiap orang, khususnya ketika kita sedang menyaksikan permasalahan sosial dan alam. Itu adalahh sesuatu yang wajar jika manusia mencoba untuk “naik ke atas” untuk menjadi seorang pemimpin. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin “turun ke bawah”, dia akan dipandang seperti seorang “malaikat” di tengah-tengah umatnya.

Akan tetapi, kita perlu sadar bahwa kerendahan hati manusia tidak pernah bisa menyelami kedalaman kerelaan hati Allah. Tuhan yang kita kenal dalam Kristus adalah Tuhan yang menjadi manusia. Bukan presiden, bukan raja, tetapi Raja di atas segala raja, memilih untuk menjadi bayi manusia – sama seperti kita. Bagi Tuhan, untuk turun menjadi malaikat saja, sebagaimana yang telah Yesus lakukan pada Perjanjian Lama – itu pun sudah menjadi sebuah kerendahan hati luar biasa. Sebagaimana Kristus sudah hadir di taman Eden ketika bunyi langkah TUHAN Allah didengar oleh Adam dan Hawa (Kejadian 3:8), ketika Kristus berjumpa dengan Abraham dengan kedua malaikat bersama-Nya (Kejadian 18:1), dan seterusnya. Seorang penulis novel tidak wajib menuliskan dirinya sebagai protagonis dalam bukunya, tetapi Tuhan menuliskan kisah hidup-Nya sendiri untuk lahir dan hadir di tengah ciptaan-Nya, bahkan bukan seorang protagonis yang besar seperti raja yang dilahirkan dalam kastil, melainkan sebagai “bayi yang tidak tercatat dalam sensus” – yang lahir dalam kandang binatang.

Gambaran seperti ini, bila dibaca dalam sebuah lensa kekaisaran yang klasik, akan dipandang sebagai sebuah penghinaan yang besar. Bagaimana mungkin Raja di atas segala raja, kaisar dalam kerajaan terbesar yang tunduk kepada-Nya, malah lahir di suatu wilayah geografis yang tidak terlacak. Bahkan seorang pengemis sekalipun tidak melahirkan anaknya dalam sebuah palungan, tetapi di dalam sejarah, inkarnasi Sang Pencipta yang menopang dunia justru ditopang pada palungan yang tidak berarti. Akan tetapi, justru di situlah kebijaksanaan Allah dinyatakan kepada kita, bahwa apa yang dipandang penting oleh manusia dikalahkan oleh apa yang paling lemah dari Allah (1 Korintus 1:27). Artinya, apa yang menjadi titik tergelap dan terentan dalam kehidupan kita, itu dipandang berharga oleh-Nya, dan Allah ingin hadir di titik-titik itu untuk menyertai kita. Tuhan tidak menyertai kita saja, tetapi menyertai di dalam bayang-bayang tergelap pada kehidupan umat-Nya.

Christianity begins from a very humble beginning…

Ketika skema kehidupan manusia adalah untuk “terus naik ke atas” dan akhirnya jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam, kekristenan menawarkan sebuah kisah yang berbeda. Kita sudah berada pada jurang itu, dan Allah turut turun ke dalam, untuk menyertai dan menjemput kita pulang. Jika kita merasa sudah berada di tempat “yang tinggi”, maka bayi Yesus tidak akan menemukan tempat dalam hati kita, dan Tuhan tidak akan ditemukan oleh mata kita. Sebab Allah datang kepada tempat yang rendah dan hina, yang dilupakan dan insignifikan, dalam tempat yang gelap dan tidak adil, dan hanya mereka yang hidup di dalamnya yang akan berjumpa dengan Allah. Di manakah kita pada saat perayaan Natal saat ini? Apakah kita sudah menyiapkan ruang untuk menerima Tuhan Yesus dalam kerendahan hati?

“Takhta di surga Engkau tinggalkan
ke dunia slamatkan daku
Tapi tak duga sluruh Betlehem
tak ada tempat bagiMu.
Oh Yesus Tuhanku Yesus
tinggallah dalam hatiku
Betapa senang hatiku
waktu bertemu dengan-Hu.”

Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat

Tag: Anselm of Canterbury, Inkarnasi, kasih Allah

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII