Bagi banyak orang, olahraga adalah aktivitas biasa. Suatu kegiatan sehari-hari yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh, tapi tidak ada kaitannya dengan kehidupan rohani. Memang ada hubungannya saya berlari, menendang bola, dan mengangkat beban dengan iman saya kepada Tuhan? Sepertinya tidak ada. Namun, pandangan ini mungkin adalah kesalahan besar yang menghalangi kita mengalami kemuliaan Tuhan dalam salah satu aspek hidup kita.
Jika kita percaya bahwa semua aspek kehidupan harus memuliakan Allah, maka tentu implikasinya tidak ada pemisahan antara sacred dan secular. Pemisahan semacam itu adalah hasil dari semangat zaman dan bukan yang Alkitab nyatakan. Maka seharusnya aspek olahraga juga akan berkait dengan kemuliaan Allah. Tapi pertanyaan utamanya, apa kaitan antara berolahraga dengan kemuliaan Allah? Atau lebih tepatnya, bagaimana mengaitkan keduanya? Untuk memahami kaitan antara kedua hal ini, maka diperlukan kerangka berpikir theologi yang menjadi dasar pemikiran.
Dalam artikel ini, kita akan melihat 3 perspektif kemuliaan Allah. Ada tiga tokoh dengan nama John yang pemikirannya sangat menarik untuk menjadi titik berangkat pembahasan.
1. John Calvin: Tubuh sebagai Teater Kemuliaan Allah
John Calvin di dalam Institutes of the Christian Religion mengatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan theatrum gloriae Dei, yaitu teater kemuliaan Allah. Setiap bagian ciptaan adalah panggung di mana Allah mempertunjukkan hikmat, kuasa, dan keindahan-Nya. Kemuliaan-Nya terpancar melalui setiap ciptaan yang Ia buat. Hal ini sangat sesuai dengan Mazmur 19:1, di mana tertulis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Seringkali ketika berbicara kemuliaan Allah yang terpancar dalam ciptaan, kita akan melihat ke arah alam yang berada di luar dari diri kita, seperti langit, gunung, keteraturan tatanan alam dan lainnya. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari ciptaan Allah.
Dalam kerangka pemikiran ciptaan sebagai teater kemuliaan Allah, tubuh manusia memiliki keunikannya. Calvin mengagumi karya seorang dokter Yunani kuno bernama Galen, yang menulis tentang betapa menakjubkannya struktur tubuh manusia. Ia menyatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah “rangkaian komposisi yang begitu sempurna sehingga Penciptanya pantas dinilai sebagai pekerja ajaib (wonder-worker)”. Ketepatan penempatan sendi, simetri anggota tubuh, keindahan bentuk, dan kegunaan setiap organ, semuanya adalah bukti nyata dari kejeniusan Sang Seniman Agung.
Jika tubuh kita adalah bagian dari panggung kemuliaan Allah, maka merawatnya bukanlah sekadar urusan kesehatan pribadi, melainkan sebuah tindakan menjaga keberlangsungan pertunjukkan kemuliaan Allah. Maka, berolahraga adalah upaya kita untuk menjaga salah satu karya seni terbaik dari Sang Pencipta. Ketika kita melatih tubuh kita, kita sedang merawat “teater” tersebut agar dapat memancarkan keindahan rancangan-Nya. Mengabaikan tubuh hingga menjadi lemah dan sakit adalah seperti membiarkan sebuah mahakarya agung menjadi usang dan tidak terawat. Studi terbaru menunjukkan bagaimana olahraga bukan hanya baik untuk kesehatan secara umum, tetapi berguna dalam setiap fase penanganan kanker, baik itu pencegahan, pengobatan, maupun pemulihan, dengan mengurangi gejala dan efek samping. Berolahraga adalah sebuah bentuk pemeliharaan (means of preservation) atas hikmat Allah yang terpancar melalui tubuh kita.
2. John Walton: Memuliakan Allah dengan Merefleksikan Allah
Perspektif kedua akan berkaitan dengan konsep imago Dei, atau gambar dan rupa Allah. John Walton, seorang theolog Perjanjian Lama, berpendapat bahwa penciptaan manusia sebagai gambar dan rupa Allah bukanlah sekadar mengenai asal usul dan keadaan biologis manusia, melainkan mengenai fungsi yang harus dijalankan. Walton membandingkan kisah penciptaan Alkitab dengan kisah penciptaan dari Timur Dekat Kuno. Berbeda dengan kisah Timur Dekat Kuno, istilah gambar dan rupa Allah disematkan kepada semua manusia, bukan hanya kepada raja. Kontras dengan firaun dan raja-raja Mesopotamia, Musa menuliskan bahwa semua manusia adalah image of God. Maka kita sebagai manusia diciptakan untuk menjadi representasi atau wakil Allah di bumi, dengan inilah Tuhan dipermuliakan. Kita berfungsi sebagai duta Kerajaan Allah bagi seluruh ciptaan.
Jika fungsi utama kita sebagai manusia adalah untuk merepresentasikan Allah, maka kondisi fisik memiliki kaitan yang sangat penting. Olahraga berperan penting dalam memaksimalkan kapasitas fungsional kita. Tubuh yang sehat, bugar, dan berstamina memungkinkan kita untuk menjalankan panggilan Tuhan dengan lebih efektif. Ini juga yang disoroti oleh David Mathis. Menurutnya, olahraga memberikan optimalisasi besar kepada kemampuan berpikir. Jurnal dari studi syaraf otak juga menunjukkan bahwa berolahraga menghasilkan hormon-hormon yang memberikan dampak kepada transmisi saraf di otak. Kemampuan berpikir yang krusial dalam kita bekerja, belajar, dan memahami kebenaran akan sangat meningkat melalui olahraga.
Kita dapat melayani sesama dengan baik jika tubuh kita juga berfungsi dengan baik. Tubuh kita dapat bekerja dengan optimal ketika kita melatih tubuh. Membuat keberadaan fisik yang tidak cepat lelah sehingga dapat bekerja dengan tekun dan belajar dengan pikiran yang jernih merupakan bentuk keseriusan untuk mau berfungsi sebagai wakil Tuhan, sebagai Image of God.
Berolahraga adalah mempersiapkan dan mengoptimalisasi (means of empowerment) alat yang Tuhan berikan agar kita siap sedia melakukan setiap pekerjaan baik yang telah Ia siapkan bagi kita (Ef. 2:10).
3. John Piper: Memuliakan Allah dengan Menikmati Allah
Salah satu theolog besar di abad ini, John Piper, sangat terkenal dengan pernyataannya, “Allah paling dimuliakan di dalam kita, ketika kita paling terpuaskan di dalam Dia.” Prinsip ini mengubah cara kita memandang kenikmatan. Segala sesuatu yang baik, yang dapat kita nikmati di dunia ini, adalah pemberian dari Bapa surgawi. Memuliakan Dia berarti menikmati pemberian-pemberian tersebut dengan hati yang penuh syukur dan mengarahkan kenikmatan itu kembali kepada-Nya sebagai Sang Sumber sukacita sejati.
Ada misteri kenikmatan yang dialami oleh orang-orang yang berolahraga. Beberapa atlet maraton merasakan sensasi nikmat, yang seringkali disebut sebagai “running high”. Sensasi ini bahkan juga dapat dirasakan oleh orang-orang amatir olahraga dan dalam bidang olahraga lainnya. Studi-studi olahraga mencoba menjelaskan dari mana datangnya sensasi kenikmatan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa penyebab sensasi nikmat adalah hadirnya hormon endorfin bersama dengan hormon-hormon lainnya. Namun, hal tersebut masih belum menjelaskan mengapa tubuh manusia memiliki mekanisme yang menghasilkan hormon ketika berolahraga. Dengan memakai perspektif Allah sebagai sumber kenikmatan, maka kita mendapatkan jawabannya. Sensasi nikmat dalam olahraga muncul karena itulah tatanan ciptaan yang Allah berikan bagi manusia. Allah begitu mengasihi manusia, hingga aktivitas yang sangat baik untuk tubuh juga dapat dilakukan dengan nikmat.
Memuliakan Tuhan melalui olahraga berarti kita tidak melakukannya dengan terpaksa sebagai sebuah kewajiban yang berat. Sebaliknya, kita melakukannya dengan sukacita, mengakui bahwa kemampuan fisik dan kesempatan untuk bergerak adalah hadiah dari-Nya. Sukacita kita dalam berolahraga menjadi sebuah gema pujian kepada Allah, sebuah pengakuan bahwa Dia adalah Allah yang baik yang memberikan hal-hal yang baik untuk dinikmati oleh anak-anak-Nya.
Berolahraga adalah bagian kita menikmati anugerah Allah di dalam aktivitas olahraga itu sendiri (exercise in itself).
Waspada terhadap Berhala di dalam Olahraga
Namun, seperti semua anugerah baik di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, olahraga sangat rentan untuk diselewengkan menjadi berhala. Ironisnya, masyarakat Yunani Kuno yang sangat dikagumi karena budaya olahraganya, justru menjadi contoh utama. Bagi mereka, olahraga adalah sebuah ritual keagamaan untuk menghormati dewa-dewa. Olimpiade diadakan untuk Zeus, Pythian Games untuk Apollo. Mereka mengejar arete (kesempurnaan fisik) sebagai persembahan kepada dewa-dewa yang mereka bayangkan memiliki fisik sempurna.
Di zaman ini, kita perlu waspada terhadap 3 penyembahan berhala yang sama berbahayanya:
- Berhala kemalasan: Berhala pertama adalah gaya hidup yang tidak aktif (sedentary). Dengan menolak untuk merawat tubuh, kita secara implisit sedang menyembah “dewa kemalasan” dan kenyamanan. Kita meninggikan keinginan untuk bersantai di atas panggilan untuk menjadi penatalayan yang baik atas tubuh yang Tuhan anugerahkan. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap teater kemuliaan-Nya dan penghambatan terhadap fungsi kita sebagai gambar-Nya.
- Berhala kesuksesan: Berhala kedua adalah gaya hidup yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kehidupan yang meninggikan pencapaian karir, pengejaran kesuksesan dan uang, cenderung membuat seseorang akhirnya juga mengabaikan olahraga dan kesehatan. Kehidupan semacam ini pada akhirnya membiarkan tubuh tidak terawat dan hanya berfungsi untuk diri sendiri.
- Berhala performa dan citra tubuh: Berhala ketiga adalah menjadikan olahraga itu sendiri sebagai berhala. Ketika tujuan utama kita adalah untuk mencapai citra tubuh yang superior, mendapatkan pengakuan atas pencapaian atletis, atau membangun identitas diri di atas kekuatan fisik, kita telah jatuh ke dalam penyembahan berhala. Pengejaran semacam ini akan sangat mudah menjatuhkan kita kepada memuliakan diri, daripada memuliakan Tuhan. Tubuh yang seharusnya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, malah menjadi tujuan itu sendiri. Kita mulai menyembah “dewa kecantikan” dan “dewa kekuatan”, menjadikan anugerah sebagai pengganti Sang Pemberi anugerah.
Mengembalikan Olahraga pada Tempatnya
Jadi, bagaimana kita berolahraga demi kemuliaan Allah? Jawabannya terletak pada orientasi hati dan mengerti perspektif memuliakan Allah. Maka olahraga memiliki fungsinya:
- Untuk memelihara teater kemuliaan Allah: Kita berolahraga sebagai wujud syukur atas tubuh kita yang adalah karya Allah yang ajaib.
- Untuk mengoptimalkan fungsi pelayanan: Kita menjaga kebugaran agar memiliki energi dan kekuatan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan lebih efektif.
- Untuk menikmati anugerah-Nya dengan sukacita: Kita bersukacita dalam olahraga sebagai pemberian baik dari Allah, dan mengarahkan rasa syukur kita kembali kepada-Nya.
Dengan pengertian dan kesadaran ini, marilah kita memuliakan Allah, sejalan dengan 1 Korintus 10:31:
Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Soli Deo gloria.
Vik. Adam Kurnia
Hamba Tuhan GRII Karawaci
