Pelayanan Gerejawi

Ada sebuah frasa Latin yang berbunyi: extra ecclesiam nulla salus, yang berarti “di luar gereja tidak ada keselamatan”. Setiap orang yang bertobat dari dosa dan percaya kepada Yesus adalah anggota keluarga Allah (Ef. 2:19) dan keluarga Allah yang dimaksud adalah gereja-Nya. Keselamatan yang Yesus kerjakan bukanlah tanpa gereja, melainkan melalui gereja. Jadi, setiap orang Kristen yang sejati akan bergabung dengan gereja lokal, yakni suatu kumpulan (ekklesia) orang percaya di suatu tempat dan waktu (1Kor. 11:18).

Di dalam gereja lokal, kita sering mendengar komentar-komentar yang menekankan pentingnya pelayanan, “Kamu sudah lama ada di gereja ini, tetapi kok belum pelayanan? Cobalah melayani sebagai usher, anggota kur, pemain piano, dan seterusnya,” atau, “orang Kristen yang bertumbuh adalah orang Kristen yang ikut pelayanan.” Tulisan ini akan mencoba mereka ulang pelayanan gerejawi yang digambarkan dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, pelayanan kita boleh menjadi pelayanan yang berkenan di hadapan Tuhan dan bukan pelayanan yang menurut pengajaran manusia (Mrk. 7:7). Judul tulisan ini adalah pelayanan gerejawi. Oleh karena itu, lingkup tulisan pendek ini terbatas hanya kepada pelayanan di dalam gereja dan bukan di luar.

Setiap orang Kristen harus melayani. Mungkin kalimat ini sudah sering kita dengar. Namun, apakah dasar Alkitabnya? Setidaknya kita bisa melihat hal ini dari peristiwa Yesus membasuh kaki murid-murid yang dicatat di Yohanes 13:1-17. Ayat 13-15 berbunyi demikian, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Pertama, di sini kita melihat Yesus sebagai Tuhan dan Guru sedang memberikan teladan kepada murid-murid-Nya. Oleh karena kata “Guru” disebutkan di sini, kita tidak hanya melihat keduabelas murid sebagai “rasul”, melainkan juga sebagai “murid”. Oleh karena itu, teladan Yesus di sini juga berlaku bagi setiap murid Kristus. Kedua, teladan yang Yesus berikan adalah teladan melayani. Yesus melayani kebutuhan murid-murid-Nya dengan merendahkan diri sebagai hamba dan membasuh kaki mereka yang berdebu (Garland, 2007, 546). Terakhir, Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya untuk merendahkan diri dan saling melayani satu sama lain (Carson, 1991, 468). Jadi, melalui peristiwa ini, setiap orang percaya, tanpa terkecuali, diajarkan untuk melayani satu sama lain.

Masih di dalam perikop Yohanes 13 yang sama, kita mendapati bahwa konteks peristiwa Yesus membasuh kaki adalah kasih-Nya kepada murid-murid. Kita melihat hal ini dari ayat 1 yang mendahului dan ayat 34-35 yang membuntuti peristiwa tersebut. Ayat 1b berbunyi demikian, “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Lalu, kita mendapati perintah ini di ayat 34-35, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Jadi, peristiwa pelayanan Yesus membasuh kaki murid-murid adalah sebuah manifestasi dari kasih Yesus kepada murid-murid-Nya. Dan ayat 34 dengan jelas menyatakan bahwa kita pun juga harus melayani sesama orang percaya dengan kasih. Jadi, kasih Kristus kepada kita adalah pendorong kita mengasihi sesama orang percaya.

Kasih adalah suatu hal yang hidup. Kasih bukanlah prinsip-prinsip yang mati terpatri di lemari. Kasih di antara jemaat timbul dari kasih Allah yang ditumpahkan oleh Pribadi Roh Kudus ke dalam hati setiap orang percaya (Rm. 5:5; Kol. 1:8; 1Tes. 4:9). Kita melihat gereja mula-mula memiliki kasih yang nyata antara satu sama lain dan melayani satu sama lain tanpa memerlukan program gereja (Kis. 4:32-37). Program gereja di sini merujuk kepada rencana kegiatan gereja (Chandra, 2020). Hari ini gereja-gereja pada umumnya terbiasa bersandar kepada kegiatan-kegiatan yang terstruktur dengan tujuan dan alokasi sumber daya yang jelas seperti umumnya dalam organisasi. Namun, gereja sesungguhnya bukanlah organisasi manusia seperti perusahaan atau lembaga swadaya masyarakat, melainkan sebuah organisme yang hidup (Ef. 4:15-16). Roh Kudus hadir dan berdiam di dalam gereja dan menggerakkan setiap orang percaya. Gereja yang dewasa adalah gereja yang jemaatnya secara rela dan proaktif melayani satu sama lain tanpa perlu menunggu arahan program dari atas. Ada kalanya gereja membutuhkan program seperti gereja Korintus yang belum dewasa. Paulus sangat senang dengan gereja di Makedonia yang dengan semangat memberikan bantuan walaupun dirundung kekurangan (2Kor. 8:1-5), sedangkan Paulus mendapati gereja Korintus yang makmur harus didesak dalam memberikan bantuan (2Kor. 9:1-5). Program gereja adalah seperti sepeda roda tiga. Pada saat pertama kali kita belajar bersepeda, kita membutuhkan roda ketiga itu. Namun, lambat laun, ketika kita makin mahir bersepeda, kita tidak lagi membutuhkan roda tersebut. Malahan, kita akan heran dengan orang yang sudah naik sepeda 30 tahun, tetapi terus memakai sepeda roda tiga. Mengapakah mereka tidak menjadi makin mahir bersepeda? Apa yang menyebabkan mereka gagal bertumbuh? Demikian juga dengan gereja, ada kalanya gereja masih lemah dalam melayani seperti gereja di Korintus dan karena itu membutuhkan program untuk membangkitkan dan mendorong jemaat untuk peduli dengan kebutuhan gereja lain. Namun, jika Tuhan hadir di gereja tersebut, jemaat akan bertumbuh dalam kasih sehingga mereka makin siap sedia dan rela dalam melayani tanpa menunggu birokrasi rencana kegiatan gereja.

Gereja yang demikian adalah sebuah kesaksian bagi dunia. Kita melihat ini di ayat 35 dari perikop yang sama. Di sini kita mendapati cara yang Yesus sendiri berikan kepada gereja-Nya untuk memberitakan nama-Nya di tengah-tengah dunia (Carson, 1991, 485). Dengan orang percaya melayani satu sama lain, justru gereja sedang memproklamasikan Tuhan Yesus kepada orang banyak. Hal ini termanifestasikan di dalam gereja mula-mula, seperti yang dicatat di Kisah Para Rasul 2:42-47: melalui persekutuan orang-orang percaya dan saling melayani memenuhi kebutuhan satu sama lain, Tuhan menambahkan jumlah orang percaya dari hari ke hari. Ketika kita mengikuti metode kesaksian yang Tuhan Yesus berikan, ternyatalah janji-Nya di Yohanes 13:35, “[S]emua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Kita juga melihat hal yang sama dalam khotbah Yesus di bukit. Yesus menyatakan bahwa murid-murid-Nya adalah terang dunia (Mat. 5:14). Yesus tidak mengatakan murid-murid sebagai terang-terang (jamak) dunia, tetapi terang (tunggal) dunia. Jadi, ayat ini tidak mengatakan bahwa Budi adalah terang di sini dan Joko adalah terang di sana. Pembacaan yang demikian adalah pembacaan yang tercemar oleh racun individualisme modern. Sebaliknya, ketika murid-murid hidup bersatu dalam kasih, sehati sepikir, mereka akan menjadi kesaksian bagi dunia yang gelap (France, 2007, 171). 

Di atas kita telah menyinggung beberapa kali bahwa kita melayani untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Yesus sendiri datang melayani untuk memenuhi kebutuhan kita: menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28). Kita dipanggil untuk melihat apa yang menjadi kepentingan (interest) orang lain dan bukan hanya kepentingan diri (Flp. 2:4). Berarti, kita harus sungguh-sungguh mengenal sesama jemaat, mengerti kebutuhan mereka dan mengisi kebutuhan tersebut. Pelayanan gereja bukan dilakukan dengan prinsip marketing yang membuat kebutuhan (creating needs)—kebutuhan yang sebenarnya tidak ada tetapi dibuat-buat menjadi ada. Kita sebagai orang berdosa berpikir bahwa kita hanya butuh sedikit nasihat baik supaya hidup kita menjadi baik. Namun, Yesus mengetahui kebutuhan kita yang sebenarnya. Dan kebutuhan itu bukanlah nasihat baik, melainkan korban pendamaian di atas kayu salib supaya kita boleh didamaikan dengan Allah. Yesus datang untuk melayani kita dengan mengisi kebutuhan tersebut. Kita perlu berhati-hati karena sangat mungkin bagi kita untuk gagal mengenali kebutuhan sesama kita dan terbuai dengan imajinasi kita mengenai kebutuhan orang lain. Pelayanan yang nyata adalah pelayanan yang mengisi kebutuhan nyata rohani dan jasmani orang lain (Rm. 12:13).

Kemudian, kita juga berulang kali menyebutkan frasa “satu sama lain” di atas. Ketika kita melayani, kita bukan melayani institusi atau organisasi, melainkan orang lain. Di dalam gereja yang besar, mudah sekali untuk kita sibuk di dalam organisasi dan kegiatan program gerejawi. Sangat mungkin kesibukan kita tidak ada kaitannya dengan kebutuhan orang lain. Marta, pikirnya, sibuk sekali melayani Yesus. Namun, ternyata Yesus menegur Marta dan pelayanannya (Luk. 10:38-42). Bagi Yesus, pelayanan Marta tidaklah diperlukan pada saat itu. Demikian juga, belum tentu kesibukan kita adalah pelayanan (Ferguson, 2020, 145). Kita tidak dapat hanya berasumsi, tetapi harus memastikan supaya kegiatan kita memenuhi kebutuhan yang nyata. Banyak orang memiliki maksud baik, tetapi maksud tidak sama dengan eksekusi. Ada pepatah “The road to hell is paved with good intentions” (jalan menuju neraka dilapisi dengan maksud-maksud baik). Maksud baik perlu disertai dengan eksekusi yang baik pula. Apakah kita mengenal orang yang kita layani? Apakah kita mengetahui kebutuhan orang tersebut? Jika tidak, siapakah yang sebenarnya kita layani? Ketika ada banyak orang berkumpul, niscaya organisasi akan terbentuk. Namun, gereja pada dasarnya bukanlah organisasi, melainkan kumpulan (ekklesia) orang berdosa yang diselamatkan oleh Yesus Kristus dan yang hidup dalam persekutuan satu sama lain (communion of saints). Oleh sebab itu, di sebuah gereja yang besar, setiap jemaat harus berusaha untuk meninggalkan kesibukan kegiatan-kegiatan tidak berfaedah dan mengerahkan tenaganya untuk mengenal dan melayani kebutuhan nyata satu sama lain. Kita harus mengingat perumpamaan gereja sebagai tubuh Kristus dan setiap kita sebagai anggotanya (1Kor. 12). Sebagai satu tubuh Kristus, kita tidak hidup sendirian (ay. 21), tetapi kita hidup sebagai satu tubuh (ay. 27). Ketika satu menderita, semua menderita; ketika satu bersukacita, semua bersukacita (ay. 26). Jika sebuah gereja besar lebih mementingkan kegiatan organisasi daripada rasa senasib dan sepenanggungan, gereja tersebut sudah gagal menjadi tubuh Kristus. Dan jika kita gagal menjadi satu tubuh Kristus, kita gagal menyaksikan nama Tuhan di hadapan dunia dan terancam dibuang-Nya (Why. 2:4-5).

Terakhir, seperti apakah bentuk-bentuk pelayanan gerejawi? Biasanya, ketika seseorang menyebut kata “pelayanan”, hal-hal inilah yang ada di benak kita: pendeta, liturgis, pemain musik, kur, penerima tamu, audio video, majelis, penatua, dosen STT, pembicara KKR Regional, penginjilan ke rumah sakit atau penjara, dan sebagainya. Hal-hal ini tentu adalah pelayanan. Namun, jika kita mengerti pelayanan hanya terbatas pada hal-hal seperti ini, kita telah salah mengerti pelayanan sesuai maksud Alkitab. Malahan, banyak dari hal-hal di atas yang sebenarnya tidak dicatat di dalam Alkitab. Sebaliknya, Alkitab mencatat banyak sekali hal-hal lain yang jarang ada di benak kita. Misalnya, hanya dari perikop Roma 12:9-21, kita mendapati beberapa hal: memberi bantuan, menunjukkan belas kasihan (ay. 8), memberikan hormat (ay. 10), memberikan tumpangan (ay. 13), memberkati yang mengutuk kita (ay. 14), menangis dengan orang yang menangis (ay. 15), memiliki satu pikiran (ay. 16), tidak membalaskan dendam (ay. 17). Hal-hal ini tidak dapat dicapai melalui kegiatan program gereja. Itu sebabnya kita, yang terbiasa mengikuti program gereja, jarang memikirkan perintah-perintah Tuhan ini. Tidak pernah kita dengar program “menangis bersama” dalam rangka kedukaan. Sebab, jika kita menangis karena program, kita menjadi mirip dengan penangis bayaran (Yer. 9:17-18) daripada seseorang yang memiliki simpati dan empati. Ketika kita berduka, apakah kita menginginkan orang-orang seperti ketiga teman Ayub yang rela datang dari jauh dan duduk meratap berdiam diri bersamanya selama tujuh hari tujuh malam (Ayb. 2:11-13), atau orang-orang yang menghibur kita karena kewajiban program gereja? Kita dapat menangis dengan orang yang sedang menangis jika kita memiliki relasi dengan orang tersebut. Program gereja tidaklah memiliki kekuatan magis untuk menumbuhkan relasi. Selain itu, menemani orang yang berduka adalah hal yang melampaui kegiatan yang terstruktur. Untuk sebagian orang, kita mungkin cukup menemani mereka selama dua hari. Namun, orang lain mungkin membutuhkan dua minggu. Relasi manusia begitu dinamis dan melampaui kekakuan program. Dan hal-hal di luar program inilah yang Tuhan tuntut dari kita. Namun, pelayanan seperti ini bukanlah pelayanan yang menarik bagi banyak orang. Pelayanan seperti ini berat dan tidak terlihat oleh orang banyak (1Kor. 12:23-24). Menjadi liturgis adalah pelayanan yang diperlukan di dalam gereja, tetapi sesungguhnya bebannya ringan. Paling banyak mereka menghabiskan beberapa minggu untuk latihan dan seterusnya bertugas hanya dua jam pada hari Minggu. Selain itu, liturgis dilihat, dipuji, dan mendapat pengakuan dari banyak orang. Sebaliknya, memberikan tumpangan kepada orang lain biasanya hanya mendapat pengakuan dari beberapa orang dan juga banyak tenaga dan waktu perlu dikeluarkan untuk merapikan dan membersihkan rumah. Dan inilah salah satu halangan kita melayani, yakni berkorban banyak, sedikit pengakuan. Oleh sebab itu, banyak orang melayani ketika dilihat orang, tetapi tidak melayani ketika tidak ada orang yang melihat. Inilah sikap orang Farisi. Celakalah kita jika kita bersikap seperti demikian. Yesus memperingatkan kita bahwa ibadah yang kita lakukan secara diam-diam tidak akan luput dari mata Bapa kita di surga. Ia sendiri melihat semuanya dan berjanji akan memberikan upah bagi setiap perbuatan baik kita (Mat. 6:1-4; Ibr. 13:16). Sinclair Ferguson berkata, “Seseorang yang sungguh-sungguh sibuk untuk pekerjaan Tuhan tidak memedulikan apakah mereka dilihat atau tidak, dan apakah mereka mendapatkan posisi di gereja atau tidak. Sebab, hamba yang seperti Kristus selalu sibuk dengan kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri mereka sendiri” (Ferguson, 2020, 145). Oleh karena itu, ketika tempat sampah gereja penuh, marilah kita berinisiatif membersihkannya. Ketika ada yang sakit, marilah kita mendoakannya. Ketika ada yang jatuh dalam dosa, marilah kita berusaha membawanya kembali. Ketika ada guru yang kekurangan uang, marilah kita turun tangan menolong mereka. Ketika ada yang membutuhkan tumpangan, marilah kita memberikannya.

Sebagai penutup, marilah kita tidak berkecil hati jika kita dianggap belum “melayani” (seperti usher, pemain musik, dan sebagainya), padahal hidup kita sudah menolong kebutuhan sesama kita (memberikan tumpangan, menghibur yang kehilangan, dan lain-lain). Kita tidak perlu mencari pengakuan orang lain karena Bapa kita di surga melihat setiap perbuatan baik kita. Jika kita memiliki kesempatan, marilah kita memperluas pandangan pelayanan mereka yang sempit. Selain itu, marilah kita melayani di dalam segala keadaan, baik dalam hal yang besar maupun kecil. Yesus melayani manusia berdosa dengan mati bagi dunia ini (Yoh. 12:47), tetapi Dia juga rela merendahkan diri-Nya sebagai hamba untuk melakukan hal sepele: membersihkan kaki para murid. Marilah setiap kita melayani menurut perintah Allah: menasihati satu sama lain dengan firman (Ibr. 3:13), bernyanyi kepada seorang akan yang lain (Kol. 3:16), memberikan salam kepada satu sama lain (Rm. 16:16), memberikan tumpangan (Ibr. 13:2), hidup mencari kebaikan bagi orang lain (1Kor. 10:24), dan sebagainya. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan kuasa-Nya untuk melayani Dia dan jemaat-Nya.

Hans Tunggajaya

Mahasiswa STT Reformed Injili Internasional

Referensi:

– Carson, D. A. (1991). The Gospel According to John. Eerdmans Publishing Company.

– Chandra, E. (2020, 1). Program Kerja. Selisip.com. Retrieved on January 27, 2022, from https://selisip.com/2020/01/program-kerja/.

– Ferguson, S. B. (2020). Devoted to God’s Church: Core Values for Christian Fellowship. Banner of Truth Trust.

– France, R. T. (2007). The Gospel of Matthew. Eerdmans Publishing Company.

– Garland, D. E. (2007). The Expositor’s Bible Commentary: Luke-Acts (T. Longman & D. E. Garland, Eds.). Zondervan.