The Dynamics of Forgiveness
Dinamika meminta dan menerima pengampunan adalah suatu hal yang terajut sangat dalam di dalam Kitab Suci. Kita melihat ini dalam sistem kurban yang secara rutin dipersembahkan dalam keimaman Israel (Im. 1-7). Kita melihat ini juga dalam Doa Bapa Kami, yang mendorong permohonan dan pemberian maaf sehari-hari (Mat. 6:12). Terlebih lagi, ayat tersebut bukan hanya menunjukkan aspek rutin dari pengampunan, melainkan juga dimensi vertikal serta horizontalnya. Permohonan maaf dan kepastian akan penerimaan pengampunan adalah dinamika yang dapat kita nikmati dalam relasi dengan Tuhan (bdk. 1 Yoh. 1:9). Secara horizontal pun, terintegrasi secara erat dengan pengampunan vertikal, adalah keharusan kita untuk meminta dan memberikan maaf.
Withholding Forgiveness
Sayangnya, realitasnya tidak seindah itu.
Pada satu sisi, kita seringkali menunjukkan keengganan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bukan hanya enggan, kita lebih semangat melakukan kebalikannya: membenarkan diri, mencari alasan, mengalihkan isu, dan sebagainya. Di dalam Alkitab, kita melihat di kisah kejatuhan yang pertama, Adam dan Hawa mengalihkan kesalahan mereka kepada hal lain (Kej. 3:12-13). Anak mereka, Kain, juga hanya mengikuti contoh mereka (Kej. 4:13-14). Kita mulai melihat tindakan yang menggambarkan kesadaran akan dosa dan usaha memperbaiki kesalahan ketika Yakub berbaikan dengan Esau (Kej. 32:13-20). Namun, di sana pun kita hanya melihat pengakuan dosa, dan bukan permohonan maaf. Permohonan maaf untuk mengampuni dosa baru muncul di 50:17, dan itu pun diutarakan Yakub agar Yusuf mengampuni kakak-kakaknya. Permohonan maaf atas dosa pribadi baru benar-benar muncul di Keluaran 10:16-17, setelah Firaun merasakan beratnya tulah kedelapan—dan ketulusan Firaun juga dapat dipertanyakan. Di Bilangan 12:11-lah kita baru menemukan permohonan maaf yang terkesan lebih tulus atas dosa pribadi ketika Harun meminta maaf atas dosanya dan Miriam yang mempertanyakan otoritas Musa.
Pada sisi lainnya, manusia juga lebih sering memupuk dendam daripada membagikan pengampunan. Dalam lembar-lembar awal Alkitab, kita melihat Lamekh yang penuh dengan dendam (Kej. 4:23-24). Kita melihat Simeon dan Lewi yang menghabisi Sikhem yang sudah siap untuk membayar utang dosanya (Kej. 34:25-29). Yesus sendiri pun memberikan kisah hamba yang jahat, yang tidak dapat mengampuni seseorang yang berhutang jauh lebih kecil dibanding utangnya yang besar kepada tuannya (Mat. 18:21-35). Intinya jelas di sini: Alkitab menggambarkan manusia sebagai makhluk yang enggan mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya.
Keengganan ini bukan hanya terlihat di dalam Alkitab, melainkan juga dalam kehidupan kita, bukan? Kita begitu enggan meminta maaf ketika kita salah. Kita melihat begitu banyak orang yang lebih memilih untuk kekeh pada pendiriannya yang tidak benar, daripada membuka celah akan kemungkinan bahwa dirinya bersalah. Dan sedihnya, hal ini bisa merugikan begitu banyak orang, bukan hanya seorang individu saja. Hal ini membuat berbagai tokoh maupun institusi terus memperjuangkan program-program atau proyek-proyek yang menghamburkan uang. Keengganan ini membuat relasi suami-istri menjadi masam, karena sama-sama mau menang sendiri. Keengganan ini bisa membuat sebuah KTB di gereja menjadi dingin karena tidak ada rekonsiliasi antara anggota ketika terjadi konflik.
Ujung-ujungnya, semua hal ini hanya menguak hati kita yang sempit dan egois. Kita tidak suka meminta pengampunan, karena menunjukkan bahwa kita ini orang yang bersalah. Mungkin karena pengampunan menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang kalah, dan kita tidak suka itu, bukan? Kita ingin dinobatkan sebagai pemenang, dan bukan orang kalah yang perlu dikasihani. Kita ingin dipandang sebagai orang-orang yang sempurna, yang patut dikagumi karena prestasi kita yang putih bersih.
Hati egois ini juga ditunjukkan dalam keengganan memberikan pengampunan. Kita tidak suka memberikan pengampunan karena ego kita yang tersakiti masih terasa bengkak. Kenyamanan kita sudah diganggu oleh orang yang berdosa terhadap kita, dan kita ingin orang tersebut membayar kesalahan mereka, dengan ganjaran yang lebih besar lagi bahkan! Komunitas dengan orang-orang seperti ini di dalamnya akan menjadi sebuah lingkungan yang sangat menyesakkan, karena pintu akan kemungkinan diampuni tertutup rapat. Tidak akan ada rasa percaya dan ruang untuk jadi apa adanya dalam komunitas seperti ini, karena rasa takut bersalah menjadi hal yang mendorong anggota-anggotanya. Ini menghasilkan komunitas yang berada dalam situasi perang dingin secara konstan, yang siap meledak kapan pun.
Betapa mengerikan hati yang miskin pengampunan!
The Joy of Forgiveness
Padahal, Kitab Suci sudah menyaksikan kepada kita akan kesiapan Allah untuk membagikan pengampunan bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat. Bahkan, kalau kita perhatikan baik-baik, inisiatif Allah seringkali mendahului permohonan maaf manusia. Tanpa meminta pengampunan, Allah sudah memberikan anugerah-Nya kepada Adam dan Hawa (Kej. 3:21). Tanpa permohonan bangsa Israel, Allah juga sudah memberikan sistem kurban untuk pengampunan dosa di sepanjang Keluaran dan Imamat. Tentunya, inisiatif ini ditunjukkan secara paling jelas dalam Yesus Kristus, yang mati bagi bangsa-bangsa yang bahkan tidak meminta-Nya untuk datang. Pada jantung dari Injil, yang seringkali digaung-gaungkan oleh tradisi Reformasi, adalah kemungkinan bahwa kita bisa menerima pengampunan dengan apa adanya. Karena, di dalam Kitab Suci kita menemukan Allah yang suka memberikan pengampunan kepada kaum yang tidak layak (Mkh. 7:18; Mzm. 130:3-4; 1Yoh. 1:9; dsb).
Timothy Keller sering memaparkan Injil dengan formulasi berikut: “You are more sinful and flawed than you ever dared believe, but more accepted and loved than you ever dared hope.” Ketika kita bertemu dengan Kristus yang tersalib, kita akan sadar bahwa ternyata kita jauh lebih berdosa dan cacat dibanding yang kita pikirkan. Tapi pada sisi yang lain, hal ini tidak membuat kita putus asa. Karena, kita yang separah ini bisa dikasihi dan diterima oleh Kristus, lebih daripada yang kita bisa harapkan.
Maka, kalau Injil seperti ini benar-benar meresap ke dalam hati, harusnya kita dibebaskan dari usaha membenarkan diri kita. Harusnya kita tidak perlu lagi mempertahankan citra diri yang harus sempurna, karena kita tahu bahwa realitasnya jauh lebih buruk dari “selalu benar”. Kita dilucuti dari semua bayangan-bayangan berlebihan akan hebatnya diri kita, dan bisa melihat diri kita dengan benar sekarang.
Pada saat yang sama, ini tidak membuat kita menjadi minder. Karena, kabar baik ini memberikan kita sebuah citra diri yang kokoh, yaitu bahwa kita adalah penerima kasih yang jauh lebih besar daripada yang kita kira kita layak terima. Sehingga, seharusnya ini juga membebaskan kita untuk membagikan pengampunan kepada orang lain, meskipun mereka tidak layak menerimanya. Karena, seharusnya ini menyadarkan kita bahwa tidak ada satu pun orang yang layak. Karena kita sadar, kita pun diberikan cinta kasih yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan sebelumnya.
Betapa melegakan hidup yang penuh dengan pengampunan ini! Betapa indahnya komunitas yang membuka ruang akan kesempatan orang untuk bangkit lagi setelah jatuh seperti ini! Dalam komunitas seperti inilah ada potensi untuk bertumbuh dan berkembang dengan sehat, karena komunitas seperti ini menumbuhkan kasih, bukan rasa takut maupun semangat survival of the fittest.
Tentu kita sadar akan perlunya akuntabilitas dalam pengampunan. Kita tidak mau dinamika pengampunan ini menjadi hal yang murahan dan mudah dieksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Perlu ada hikmat dan mekanisme di mana akuntabilitas dan pencegahan eksploitasi dapat ditegakkan. Lagipula, Alkitab sendiri memiliki prinsip-prinsip yang penting untuk dapat dipaparkan juga mengenai hal-hal tersebut. Kita tetap perlu penekanan pada pertobatan, disiplin gereja, dan perlindungan terhadap penyintas kasus-kasus berat. Ini dapat menjadi topik penting untuk dibahas di dalam artikel lain. Tapi di artikel ini, poin yang harus ditekankan adalah: apakah kita lebih sering melihat pengampunan dalam diri dan komunitas kita atau malah melihat sebaliknya?
Karena sesungguhnya, seorang Kristen yang miskin pengampunan, baik dalam meminta maupun memberikan, adalah seorang Kristen yang miskin kuasa Injil. Sebuah komunitas yang miskin pengampunan, tidak peduli seberapa besar pencapaiannya, adalah sebuah komunitas yang miskin dengan kuasa Injil. Sadar atau tidak sadar, orang Kristen dan komunitas Kristen yang seperti itu sedang menghidupi kisah yang anti-Injil. Betapa malangnya kekristenan yang mengakui Injil tetapi kehidupannya melawan kuasa pengampunan Injil tersebut!
Maka pertanyaan terpenting bagi kita hari ini adalah: apakah kita sudah menerima kuasa Injil tersebut dalam kehidupan kita secara personal? Atau apakah Injil hanya menjadi pintu masuk pertama kita untuk jadi sekadar orang-orang beragama, yang terlihat baik dari luar, yang akhirnya kita tinggalkan ketika kita melanjutkan kehidupan Kristen ini? Mari kita kembali menggali dalamnya pengampunan Allah di dalam Injil. Biarlah itu mendorong kita untuk menghidupi sebuah narasi pengampunan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun juga secara horizontal bersama sesama kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi orang-orang Kristen yang melimpah dengan kuasa Injil tersebut. This is truly good news.
Jordan Frans Adrian
Mahasiswa STTRII
