Tidak Luar Biasa

Kita sering memakai ungkapan “biasa saja” dalam hidup kita. Mungkin dalam beberapa kali ketika ditanya bagaimana rasa masakan di sebuah rumah makan, kita berkata, “Biasa saja.” Ketika ditanya apakah sebuah film yang baru kita tonton itu bagus, kita berkata, “Ya … biasalah.” Jika ada orang yang bertindak berlebihan, kita menyeletuk, “Biasa aja kali.” Dalam kasus teman sedang korslet pikirannya dan bertindak aneh, kita mengatakan, “Orang ini tidak seperti biasa.” Jika demikian, makna “biasa saja” dapat berkonotasi positif atau negatif, tergantung pada harapan kita. Jika harapan kita adalah luar biasa maka kita akan kecewa dengan sesuatu yang biasa saja. Sebaliknya, jika harapan kita adalah biasa maka sesuatu yang keluar dari jalur biasa akan kita sebut aneh.

Mari kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan kehidupan kerohanian kita. Jika kita diminta untuk mengomentari perjalanan hidup kita sebagai seorang Kristen dalam dua kata, kata apa yang akan kita pakai?

Mungkin, bayangan seperti berikut ini yang akan muncul dalam benak kita setelah diperhadapkan dengan pertanyaan di atas. Seperti biasa, aku bangun tidur dan pergi kuliah/kerja. Aku berdoa sebelum makan. Aku pulang pada sore/malam hari dan berkumpul bersama keluarga atau teman-teman kost. Seperti biasa, setiap Minggu aku ke gereja, bernyanyi memuji Tuhan, dan mendengarkan khotbah. Kemudian, aku pulang lagi untuk melanjutkan rutinitas hidupku. Jadi, bagaimana kerohanianku? Ya … Biasa aja sih.

Sekarang, mari kita perdalam satu tahap lagi pertanyaannya: Bagaimanakah relasi kita dengan Tuhan? Jika kita merasa biasa saja atas perjalanan hidup Kristen kita seperti di atas, kemungkinan besar untuk pertanyaan kedua ini juga akan kita jawab, “Biasa saja.” Apa salahnya dengan “biasa saja”?

Masalahnya, jika hubungan kita dengan seseorang yang baru bertemu dan berkenalan itu biasa saja, tentu tidak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, dengan Tuhan yang sudah rela mengorbankan Anak-Nya untuk mati bagi kita, dengan Sang Penebus yang sudah memungut kita dari tempat pembuangan sampai harus mencucurkan darah-Nya, dengan Roh Kudus yang dengan kesabaran dan air mata membawa kita datang kepada Tuhan, dengan Allah Tritunggal yang tidak pernah melihat relasi-Nya dengan kita adalah biasa saja, kita telah berdosa jika kita mempunyai hubungan yang biasa saja dengan-Nya. Renungkanlah, apakah Anda mempunyai hubungan yang biasa saja dengan Tuhan?

Erwan
Redaksi Umum Pillar