Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ajar Kami Berdoa

Kisah “Doa Bapa Kami” dicatat di Injil Matius dan Injil Lukas. Injil Matius mencatat versi yang lebih panjang dan lengkap, namun Injil Lukas mencatat suatu detail yang menarik: di sini ada seorang murid-Nya yang berinisiatif untuk meminta Tuhan Yesus mengajarkan mereka berdoa.

Ada dua keanehan yang kalau kita renungkan lebih mendalam dari permintaan tersebut. Pertama, para murid adalah orang-orang Yahudi yang sudah dari kecil dididik untuk berdoa, mereka bukan anak kemarin sore atau orang kafir yang baru pertama kali ikut KKR. Kedua, Alkitab hanya mencatat ini satu-satunya kali para murid minta untuk diajar, dan tebak apa yang mereka minta untuk diajar? Berdoa. Kenapa para murid memohon untuk diajar berdoa dan bukan hal yang lain? Bisa saja mereka meminta untuk diajar teknik menyembuhkan orang sakit, rahasia menenangkan badai, belajar berkhotbah dengan kuasa kepada ribuan orang, atau mengadakan mujizat.

Kita tentunya belajar dari seorang yang ahli dalam bidang tersebut, misalnya kita belajar menjahit dari penjahit terkenal, bukan dari seorang nelayan, dan kita belajar memancing dari nelayan kawakan, bukan kepada seorang pengrajin perak. Lalu mengapa para murid tidak meminta belajar berdoa dari para ahli berdoa yang “resmi” yaitu imam-imam atau orang- orang Farisi yang kerap berdoa dengan bahasa yang indah dan puitis, namun dari seorang tukang kayu dari Nazaret? Karena di Lukas 11:1 tercatat demikian, “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid- murid-Nya kepada-Nya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa.’” Para murid melihat kehidupan doa Tuhan Yesus dan itu menggetarkan hati mereka, mereka tergerak bukan oleh kesaksian pameran doa para ahli agama, tetapi mereka sadar inilah rahasia di balik semua mujizat dan semua pengajaran penuh kuasa oleh Yesus selama ini. Mereka melihat keindahan, keintiman, dan kedekatan relasi Sang Anak yang berdoa kepada Allah Bapa. Mereka menginginkan hal itu.

Apakah kita mempunyai keinginan yang sama? Ingin belajar berdoa? Atau kita pikir, “ahh gua taulah berdoa.” Para murid mendapatkan pelajaran doa paling berharga karena mereka sadar satu hal yang paling penting dari diri seorang murid, yakni kerendahan hati untuk terus belajar.

Heruarto Salim

Februari 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲