Alkitab

Kemarin saya membereskan rak buku yang sudah lama berantakan, buku tercecer di mana-
mana. Setelah buku demi buku ditata dan dikelompokkan dengan rapi, saya terkejut bahwa
cukup banyak Alkitab yang saya miliki dalam berbagai bahasa dan ukuran. Memiliki Alkitab
menjadi hal yang lumrah bagi orang Kristen di Indonesia zaman ini. Saya sudah melupakan
banyaknya darah yang harus tercecer demi Alkitab-alkitab tersebut bisa ada di rak buku
saya. 

Kita hampir-hampir lupa bahwa 500 tahun lalu di Abad Pertengahan, sebelum adanya
Gerakan Reformasi, orang-orang kebanyakan tidak memiliki Alkitab dan juga tidak bisa
membaca Alkitab dalam bahasa sehari-hari mereka. Para penerjemah Alkitab saat itu harus
melarikan diri dari penganiayaan gereja seperti Martin Luther dan William Tyndale (yang
tertangkap kemudian mati dibakar). Mengapa? karena mereka “sekadar” menerjemahkan
Alkitab ke dalam bahasa sehari-hari yang dapat dimengerti oleh masyarakat saat itu.

Tahun 2017 ini kita merayakan 500 tahun Reformasi Protestan. Gambaran yang pasti sangat
familiar adalah Martin Luther memakukan 95 tesis, namun ada seorang penulis yang
menulis demikian, “In my view, the most dangerous thing Luther ever did was not nail the
95 Theses to a door. It was translating the Bible into ordinary German.
” [1] Luther membuka
akses firman Tuhan bagi orang banyak, yang sebelumnya hampir tidak terbayangkan. Alkitab saat
itu hanya ada dalam jumlah yang sangat terbatas dan biasanya dirantai di atas mimbar
(benar-benar cocok menggambarkan firman Tuhan yang diikat) serta ditulis dalam bahasa Latin,
bahasa yang hanya dikuasai oleh kalangan terbatas pula seperti kaum rohaniawan.

Pergumulan Reformasi yang dihadapi Luther dan Tyndale adalah masyarakat saat itu tidak
mempunyai akses dan tidak bisa membaca Alkitab di dalam bahasa mereka. Namun
pergumulan di zaman kita sangat berbeda. Zaman ini Alkitab tersedia dengan sangat mudah
dan murah (bahkan bisa diunduh gratis di ponsel kita), namun orang-orang tidak
membacanya lagi. Dulu orang tidak mampu membacanya, sekarang orang tidak mau
membacanya, kalau kita mau sederhanakan masalah ini.

Apakah kita setelah 500 tahun sudah melupakan (atau lebih tepatnya menyia-nyiakan)
sumbangsih Reformasi? Jangan-jangan penghukuman yang menanti kita jauh lebih berat.
Saatnya kita membuka Alkitab kita lagi dan melihat keindahan Injil yang membuat para
penerjemah Alkitab rela menukar hidup mereka demi untaian kata-kata firman Tuhan.

Endnotes:
[1] http://www.christianitytoday.com/history/2017/october/most-dangerous-thing-luther-did.html