Babe

Bulan lalu di gereja ada sebuah seminar di mana pembicaranya adalah orang Amerika yang berbicara
dalam bahasa Inggris dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di tengah-tengah seminar
tersebut, sang pembicara mengutip dari ayat Galatia 4:6 “And because your are sons, God has sent
the Spirit of his Son into our hearts, saying, Abba! Father!”
yang kemudian diterjemahkan dengan
lancar seperti biasanya, hanya saja di bagian akhir semua hadirin langsung tertawa lepas, kenapa?
Karena si penerjemah menerjemahkan sebagai berikut: “… Tuhan mengirimkan Roh Anak-Nya ke
dalam hati kita berseru Ayah! Babe!”

Istilah “Babe” itulah yang mengundang di satu sisi gelitik tawa namun di satu sisi ada juga yang
merasa risih karena sepertinya tidak cocok dan tidak tepat untuk mengacu pada Allah Bapa!
Sepertinya peristiwa ini hanyalah riak kecil jika dibandingkan dengan respons pendengar Yesus
ataupun pembaca Rasul Paulus bahwa kita adalah anak-anak Allah dan kita boleh dengan bebas
memanggil Allah sebagai Bapa (atau bahkan Babe, karena Abba adalah panggilan akrab seorang anak
terhadap ayahnya, seperti anak Barat memanggil “Daddy!”).

Kita semua tahu bahwa orang Yahudi sangat ketat dalam menghormati nama Allah dan setiap kali
menulis kata “YHWH” mereka langsung berdiri dan mencuci tangan terlebih dahulu. Demikian juga
ketika membaca, mereka langsung menggantinya dengan istilah “Adonai” karena bagi mereka
nama Allah terlalu kudus. Dan ketika mereka mendengar/membaca bahwa sekarang mereka BOLEH
memanggil Allah “Abba! Father!”, itu adalah suatu konsep yang sangat radikal dan aneh atau bahkan
terkesan kurang ajar.

Kenapa pendengar kaget mendengar istilah Babe yang diujarkan si penerjemah? Apakah karena
istilah itu merusak “holy distance” kita dengan Allah? Ataukah karena terlalu kurang ajar untuk
membuka tirai pembatas ruang maha suci? Sebelum saya menuduh terlalu cepat bahwa istilah itu
terlalu ini dan itu, sebaiknya saya introspeksi diri terlebih dahulu, jangan-jangan selama ini relasi
saya dengan Allah Bapa terlalu dingin dan jauh. Jangan-jangan ini perasaan yang sama seperti dulu
ada anak sekelasku yang terlalu akrab dengan seorang guru favorit, saya protes karena merasa
lebih baik jangan seakrab itu, padahal di dalam hati terdalam lebih kepada iri kenapa saya tidak bisa
seakrab seperti itu. Jadi, seberapa dekatnya kita dengan Bapa kita yang Mahabesar itu?