Batas Allah bagi Kita

Pembaca sekarang mungkin akan kebingungan mencari relevansi ketika membaca teks-teks
pembagian tanah di kitab Yosua. Apakah ada arti spiritual bagi pembaca sekarang berkaitan
penetapan batas tanah oleh Allah bagi kedua belas suku Israel setelah mereka menduduki
sebagian tanah Kanaan? Ataukah itu hanya informasi yang diperlukan untuk membangun
sebuah cerita yang koheren, bahwa Allah akhirnya menepati janji-Nya memberikan kepada
setiap suku tanah mereka masing-masing?

Bagi kita, catatan tentang batas geografis yang ditentukan tidaklah terlalu bermakna apa-apa.
Ambilah teks berikut ini sebagai contoh.

Batas selatan bagi mereka mulai dari ujung Laut Asin, dari teluk
yang menghadap ke selatan; lalu keluar pada sebelah selatan pendakian Akrabim, terus ke Zin,
naik ke sebelah selatan Kadesh-Barnea, terus ke Hezron, naik ke Adar, membelok ke Karka, terus
ke Azmon dan keluar pada sungai tanah Mesir, sehingga batas itu berakhir ke laut. Itulah bagi kamu
batas selatan. . . . Kemudian batas itu melengkung dari puncak gunung itu ke mata air Me-
Neftoah, lalu keluar ke kota-kota pegunungan Efron; selanjutnya batas itu melengkung ke
Baala, itulah Kiryat-Yearim…. (Yos. 15:1-12)

Namun, teks di atas akan lebih berarti bagi pendengar sekarang yang tinggal di Jakarta
dengan sedikit kontekstualisasi, misalnya dengan membayangkan nama-nama geografisnya
sebagai Laut Jawa, Teluk Jakarta, perbatasan barat dengan Tangerang dan timur dengan
Bekasi, melengkung ke selatan ke pendakian Sentul, Bogor, Puncak, dan ditutup dengan,
“Itulah, ke segala penjuru, batas-batas daerah bani Yehuda menurut kaum-kaum mereka.”
Bukan hanya nama-nama tersebut lebih kita kenal, tetapi juga segala potensi alam daerah-
daerah tersebut segera muncul di pikiran kita. Jika tanah-tanah itu diberikan kepada Anda
untuk dikelola, apa yang akan Anda lakukan?

Hal berikutnya yang perlu kita renungkan adalah pemberian batas terhadap tanah-tanah yang
dibagikan kepada kedua belas suku, yakni kedua arti dari batas. Batas, seperti kita ketahui,
mempunyai arti tidak lebih dan tidak kurang.

Tidak lebih berarti setiap suku harus bersyukur dan belajar mencukupkan diri dengan apa
yang dibagikan kepada mereka. Suku Yehuda tidak perlu melirik-lirik dan membandingkan
tanahnya dengan tanah suku Efraim. Suku Efraim tidak perlu iri terhadap suku Manasye,
misalnya, dengan membandingkan jumlah danau dan gunung, atau pantai yang didapat.
Setiap suku diberikan tidak lebih dari yang Allah pandang cukup bagi mereka.

Sebaliknya, arti kedua dari batas, tidak kurang, mengandung makna Allah menuntut setiap
sentimeter tanah digarap dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Setiap potensi harus
dikembangkan, dikelola, dan dipersembahkan kepada Allah, demi kemuliaan-Nya. Setiap
suku tidak perlu melihat keluar, tetapi melihat ke dalam.

Allah juga menganugerahkan potensi yang berbeda-beda kepada anak-anak-Nya. Setiap anak
Allah bertanggung jawab terhadap anugerah Allah tersebut. Kita bertanggung jawab untuk
mendengarkan baik-baik apa batas yang ditentukan bagi kita. Setelah itu, tidak perlulah kita
melirik-lirik apa yang dipunyai rekan-rekan kita yang lain, apalagi memelihara perasaan iri
yang akan membuahkan kebencian terhadap orang lain. Kebencian dapat berakhir pada
tindakan menghancurkan orang lain. Namun, dengan prinsip kasih, seharusnya kita menolong
sesama untuk mengembangkan potensi mereka menjadi manusia yang utuh di hadapan Allah.
Daripada iri hati, kita diminta untuk melihat ke dalam batas kita karena Allah akan menuntut
tanggung jawab kita. Suatu hari nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada kita apa yang
kurang dikerjakan oleh tetangga kita, tetapi kepada kita akan ditanyakan tentang kita sendiri.
Sudahkah kita mengembangkan sumber daya yang Allah berikan dan mengembalikan
kepada-Nya yang terbaik dari kita?