,

“Berapa Roti Ada Padamu?”

Sebagai gereja Tuhan di dunia ini, orang Kristen harus menjadi saksi, mewakili Tuhan Yesus
memancarkan terang dan kasih Tuhan kepada dunia ini. Orang Kristen harus menjawab
kebutuhan dunia—dalam ruang lingkup yang dapat dijangkaunya—akan damai sejahtera,
keselamatan, dan kebenaran dari Tuhan. Untuk menjalankan tugasnya itu, orang Kristen
berhadapan dengan persoalan yang besar dengan kemampuan yang sangat terbatas. Mereka
mungkin berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, kemampuanku hanya segini, apa yang bisa
kukerjakan untuk kerajaan-Mu di dunia ini?”

Kisah Yesus memberi makan lima ribu dan empat ribu orang dapat menjadi kisah yang
menghibur orang Kristen yang berpikir seperti ini (Mat 14:13-21 dan 15:32-39). Murid-murid
melihat ribuan orang itu dan menyerah. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan sanggup
memberi makan orang sebanyak itu. Jadi, mereka menyarankan kepada Yesus untuk
menyuruh orang banyak itu pergi dan mencari makanan sendiri-sendiri. Pada kisah yang
kedua, mereka meminta Yesus untuk memulangkan massa tersebut.

Akan tetapi, Yesus melihat dengan cara yang berbeda. Pada cerita yang pertama, Yesus
mengatakan, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”
Seringkali,
kita mengira kita tidak akan sanggup melayani, dan bukan kitalah orang yang dapat
melakukan sebuah pelayanan yang kita anggap berat. Namun, apakah kita dengan jujur
bergumul di hadapan Tuhan? Yesus dapat saja berkata bahwa Dia tidak ingin orang lain,
tetapi kitalah yang mau Dia pakai.

Pada kasus yang kedua, respons Yesus adalah bertanya, “Berapa roti ada padamu?”
Yesus ingin kita mengeluarkan semua yang kita punyai, meskipun sedikit, lalu menyerahkannya
kepada-Nya. Dia dapat memakai bakat atau harta kita, yang meskipun dalam penilaian kita
sedikit, untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.

Di dalam kedua cerita di atas, Yesus mengambil beberapa potong roti dan ikan, yaitu semua
yang ada pada murid-murid-Nya, mengucap berkat dan syukur, lalu memecah-mecahkannya
dan membagikannya, dan semua orang menjadi kenyang.
Ini menunjukkan bahwa seberapa
pun yang kita punyai di awal, itu tidak terlalu penting. Yang lebih penting di dalam Kerajaan
Allah adalah menjadi apa modal awal kita itu pada akhirnya, setelah kita serahkan ke dalam
tangan Tuhan. Bisa saja kita mulai dengan modal yang besar, bakat dan harta yang banyak,
tetapi tidak menjadi berkat bagi orang lain karena kita menahannya untuk diri sendiri.
Sebaliknya, kita mungkin mulai dengan modal yang kecil, tetapi berakhir dengan hasil yang
jauh melampaui orang yang bermodal besar.

Besar atau kecil, serahkan apa yang ada pada Anda untuk dipakai Tuhan. Meskipun seolah-
olah tidak berarti apa-apa karena kecil dan remeh, Tuhan Yesus akan menerimanya. Dia akan
mengambil persembahan kita, mendoakannya di hadapan Bapa dengan ucapan syukur dan
berkat, lalu membuatnya menjadi hasil yang di luar dugaan kita.