Bergulat Dan Mengenal Diri

Ada seorang yang terdiagnosis positif oleh sebuah PCR swab test kemudian cepat-cepat
pergi membayar sebuah rapid test dan dalam beberapa menit keluarlah hasil negatif dan
dengan leluasa dia melenggang masuk ke pesawat. Ini adalah satu kalimat singkat yang menyimpan
tiga cerita horor:
1. Wah bisa banyak penumpang dalam pesawat itu ikut tertular.
2. Rapid test kok bisa sedemikian tidak akurat yah, sudah jelas-jelas positif hasilnya di
PCR swab test malah jadi negatif.
3. Orang itu egois sekali, sudah jelas dia tahu kondisinya malah mencari cara untuk menutup-nutupi
demi ia bisa berangkat pergi.

Poin horor 1 dan 2 itu masih debatable, memang belum tentu ada yang tertular, dan
mungkin saja hanya satu test kit itu yang kebetulan error saja, tetapi horor 3 itu sudah
bisa dipastikan yang melakukan hal ini adalah orang yang kurang bertanggung jawab. Suatu tindakan
yang tidak bisa dikatakan mengasihi orang lain tentunya. Dia bisa bersembunyi di balik pernyataan
hasil rapid test untuk menyembunyikan kondisi dirinya.

Dalam hidup Yakub, salah satu episode paling penting adalah ketika dia bergulat dengan
malaikat ketika hendak kembali ke Kanaan. Setelah sendi pangkal paha Yakub terpelecok
oleh sang malaikat, hal pertama yang dilakukannya adalah bertanya kepada Yakub:
“Siapakah namamu?” Mengapa bertanya? Mengapa pertanyaan itu? Karena Yakub akan
mendapatkan nama baru sebagai identitas barunya. Tetapi Yakub harus terlebih dahulu
menjawab pertanyaan tersebut.

Pengenalan akan Tuhan menuntut kejujuran pengenalan diri. Ini pertanyaan yang
selalu dihindari oleh Yakub sepanjang hidupnya. Terakhir kali dia menjawab pertanyaan,
“Siapakah engkau?” adalah ketika Yakub menjawab Ishak bapaknya dengan jawaban, “Akulah
Esau anak sulungmu.” Narator juga mencatat ketika Yakub pertama kali memperkenalkan diri
kepada Rahel dan Laban, ia memperkenalkan dirinya sebagai anak Ribka, sanak saudara
mereka. Sekarang di hadapan Tuhan, Yakub harus menjawab apa adanya. Ia sadar ia tidak
bisa lagi bersembunyi, ia tidak bisa lagi menutup-nutupi dengan predikat lain. Ia menjawab
dengan singkat, “Yakub” yang berarti si penipu. Yakub si belat-belit harus lurus di hadapan
Tuhan, ia sadar ia tidak bisa memakai hasil “rapid test” tipu-tipu.

Kita semua pendosa kawakan, kita sangat ahli menyamarkan dosa-dosa kita dengan nama-nama
indah. Kita juga akhirnya sadar atau tidak sadar membangun sebuah persona diri eksternal
yang sangat berbeda dengan kondisi internal kita. Makin lama kita terus lakukan itu,
topeng itu makin tebal dan menyatu dengan wajah. Tuhan tidak membiarkan hal itu terjadi
kepada orang yang dipanggil-Nya, orang yang hendak dipakai-Nya, orang yang akan menggenapi
kehendak-Nya. Maka Tuhan mengajak Yakub bergulat.

Berbahagialah orang yang masih “diajak bergulat” oleh Tuhan. Celakalah orang yang
dibiarkan Tuhan yang tidak mengalami pergumulan apa pun. Berbahagialah engkau yang
masih mengalami pergumulan-pergumulan hebat dalam hidup ini, yang ditegur dosanya oleh
Tuhan, yang bahkan “terpelecok”, mungkin ini adalah momen untuk kita jujur terbuka di
hadapan Tuhan, benar-benar instropeksi keadaan diri kita.

Kita harusnya tidak menyembunyikan kondisi tumor kita atau kanker kita kepada dokter yang
akan mengobati kita, apalagi kalau kita yakin bahwa si dokter akan melakukan tindakan itu
demi kebaikan dan kesembuhan kita, bukan untuk mencelakakan atau mematikan. “Siapakah
namamu?”