2 Raja-raja 25:7 (TB) Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa ke Babel.
Tragis.
Itulah yang terjadi pada Raja Zedekia, raja terakhir Yehuda, yang berkuasa di Yerusalem. Di hadapan matanya sendiri, ia melihat orang-orang dari Babel, bangsa barbar yang tidak mengenal Tuhan, menyembelih anak-anaknya. Darah dagingnya sendiri. Anak-anaknya satu demi satu diseret. Pedang satu demi satu dihunuskan dan digunakan untuk mengakhiri nyawa anak-anaknya itu. Perih dan pedih hatinya menyaksikan anak-anaknya mendapatkan perlakuan yang begitu kejam.
Tetapi penderitaan batin Zedekia belum berakhir. Kematian anak-anaknya itu bahkan tak sempat ditangisinya. Matanya tak sempat mengeluarkan air mata kesedihan. Karena segera sesudah melihat kekejaman itu, mata Zedekia pun dibutakan. Tak ada duka yang begitu mendalam selain dari keadaan itu. Tak sempat memuaskan mata karena kehilangan anak-anak, ia segera kehilangan mata sendiri. Tak sempat melihat setidaknya untuk terakhir kalinya anak-anaknya terbujur kaku, mata Zedekia dicungkil.
Dan dalam keadaan seperti itu, ia dibelenggu, diseret ke Babel. Ia dibuang ke negeri yang jauh dari tanah kelahirannya. Bersedih dan berduka tak lagi sempat, apalagi melawan. Zedekia bahkan tak pernah bisa kembali lagi melihat kerajaan Yehuda di Yerusalem.
Kisah Zedekia adalah kisah sebuah bangsa yang berakhir begitu kelam. Negeri itu dahulunya berlimpah susu dan madu, begitu makmur. Namun kemudian menjadi negeri yang hina dina dan miskin papa, dihisap oleh negara-negara tetangganya. Negara itu dahulunya begitu kuat dan penuh kejayaan, begitu ditakuti oleh orang lain. Namun seluas mata memandang, di seantero negeri itu hanya tinggal puing-puing. Rumah Tuhan yang begitu indah dan pernah membuat bangsa-bangsa lain tunduk terhormat, kini porak-poranda. Bangsa yang dahulunya begitu perkasa dan gagah berani, kini hanya ditinggali orang-orang yang lemah. Negara yang dahulunya penuh dengan para pahlawan perang, disegani kawan, dan ditakuti musuh, kini para teruna dan anak-anak mudanya diangkut paksa ke tanah tempat para dewa Babel di Sinear.
Itulah yang terjadi pada bangsa Israel yang jauh-jauh dibawa dari Mesir, ditentukan sebagai anak, dijadikan bangsa pilihan, tetapi justru melawan Tuhan.
Bangsa itu tergoda pada hidup bangsa-bangsa di sekitar mereka. Diminta memusnahkan bangsa barbar, mereka tergoda berbelaskasihan yang tak perlu. Diminta memuliakan Tuhan sebagai satu-satunya Raja, mereka tergoda punya raja sendiri. Diminta taat pada pimpinan Tuhan, mereka tergoda mengandalkan kekuatan manusia, baik diri mereka sendiri maupun bangsa kafir. Diminta menggunakan hikmat kebijaksanaan Tuhan, mereka tergoda membangun kejayaan diri sendiri.
Berkali-kali Tuhan kirim peringatan agar mereka kembali pada Tuhan, bahwa mereka harus memulihkan hubungan dengan Tuhan yang begitu mengasihi mereka sejak zaman dahulu kala. Tak juga berubah. Belasan peristiwa Tuhan sajikan di depan mata mereka, agar bangsa itu hanya percaya pada Tuhan semata. Tak mempan mendidik mereka. Berganti-ganti nabi Tuhan kirimkan menyampaikan pesan agar bangsa itu berpaling kepada Tuhan. Tak juga bangsa itu mendengarkan. Kejatuhan Israel Utara kerap dijadikan contoh agar Yehuda bertobat dari kebebalan. Tuhan tetap tak dianggap.
Maka pasukan Babel pun tiba. Pemusnahan negara itu oleh bangsa penyembah berhala, adalah bukti jika godaan menjadi serupa dengan bangsa sekitar, memilih meninggalkan Tuhan, berakhir pada nasib tragis. Alih-alih beroleh kejayaan, bangsa itu dilucuti habis. Seorang raja yang dibutakan, dibelenggu, dan dikirim ke pembuangan adalah wujud tak berharganya lagi sebuah bangsa.
Godaan menjadi serupa dengan dunia sekitar adalah tantangan siapa pun. Gereja masa kini, komunitas orang beriman masa kini, individu beriman masa kini, tak luput dari hal yang sama. Mungkin kita hidup di sebuah gereja besar. Mungkin kita berada dalam persekutuan yang begitu indah. Mungkin kita hidup dalam keluarga yang mempraktikkan kasih. Mungkin kita adalah teruna-teruna iman yang begitu baik.
Ribuan tahun yang lalu, Zedekia dan bangsa itu menutup mata mereka dari memandang Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada kemewahan, kemegahan kehidupan tanpa Tuhan. Mereka memilih membuka mata pada tradisi nenek moyang, pada kata-kata bijak dari dunia. Mereka memilih membuka mata pada kepintaran dunia, pada ilmu ukuran dunia. Mereka memilih membuka mata pada cara hidup manusia kafir, pada cara mereka mematut diri. Mereka memilih membuka mata pada ajaran dunia, pada setiap narasi dan bicara mereka. Mereka memilih membuka mata untuk hal-hal yang tak disukai Tuhan.
Berhati-hatilah. Kisah Yehuda, Zedekia, dan bangsa yang terbuang itu bisa saja terjadi pada kita. Sebab sejarah dapat berulang dengan caranya sendiri. Semua yang ada di sekeliling kita saat ini begitu menggoda. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu rupawan dan agung. Kita berada dalam dunia yang terlihat begitu bijak dan baik. Kita berada dalam dunia yang tampak ramah dan benar.
Berhati-hatilah. Gereja yang besar, persekutuan yang besar, individu yang beriman besar, bisa tinggal menjadi sekadar pernah bernama besar.
Tragis.
Fotarisman Zaluchu
Jemaat GRII Medan
