Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Berjiwa Luas

Kita sering mendengar metafora Gereja sebagai Tubuh Kristus. Di dalam 1 Korintus 12, Paulus sedang menasihati (menghardik lebih tepatnya) jemaat Korintus yang terpecah belah. Di sana ada kelompok jemaat kaya dan berstatus tinggi yang tidak mengindahkan kelompok jemaat yang miskin; ada pula yang membanding-bandingkan karunia Roh, mereka mengagungkan karunia berbahasa lidah dan mengabaikan yang lain. Paulus menulis di dalam 1 Korintus 12:23, "Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus." Jadi, sebagai sesama anggota tubuh Kristus, semua anggota harus memperhatikan anggota yang lemah (penekanan semua kepada satu).

Namun metafora tersebut bukan hanya menekankan semua kepada satu namun juga satu kepada semua. Suatu organ tubuh harus bekerja untuk keseluruhan fungsi tubuh. Darah harus mengalir ke ujung tubuh, tangan harus melayani setiap bagian tubuh yang memerlukan, perut mengolah makanan untuk energi seluruh tubuh, dan lain-lain.

Sehingga di dalam penekanan satu untuk semua ini, kita sebagai tubuh Kristus diajar untuk memiliki hati yang luas, yang siap menampung semua bagian dan rela melayani semua. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah berkata, “Orang yang sulit dipakai Tuhan adalah orang berjiwa sempit.” Orang berjiwa sempit adalah orang yang hatinya tidak cukup lagi untuk menampung orang lain dan segala kelemahannya, hatinya hanya cukup untuk dirinya dan kepentingannya. Kita melihat Musa dipuji di dalam Ibrani 3:5 "Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan." Ketika Allah marah kepada bangsa Israel yang menyembah anak lembu emas dan hendak memusnahkan mereka, Musa maju bersyafaat dan menawarkan dirinya sebagai ganti mereka. Sungguh seorang pemimpin yang berjiwa luas.

Berhati luas bukanlah suatu hal yang akan terjadi dengan sendirinya, karena secara natur kita, orang berdosa, adalah orang-orang yang self-centred, dan berhati luas berlawanan dengan natur tersebut. Kita harus mengasah dan memperluas hati kita. Kalau selama ini kita hanya berdoa untuk diri kita, keluarga kita, gereja kita, maka sekarang kita belajar mendoakan orang-orang Kristen yang teraniaya, yang membutuhkan pertolongan doa di negeri nun jauh di sana, belajar menginjili orang-orang yang berbeda ras, suku, tingkat ekonomi, dan lain-lain.

Saya bersyukur bisa melihat teladan hidup Pdt. Dr. Stephen Tong yang berjiwa luas. Beliau peduli pada seluruh Indonesia dengan mengadakan KPIN (Kebaktian Pembaruan Iman Nasional) di 100 kota dan desa. Di usianya yang sudah tua, ia masih keliling berbagai negara untuk menguatkan iman umat Tuhan di Asia, Amerika, dan sebagainya. Tidak cukup hanya memperhatikan mandat Injil, tetapi juga mandat budaya seperti pendidikan (Sekolah Kristen Calvin), dunia politik dan masyarakat (Reformed Center for Religion and Society), dunia seni (Museum dan Concert Hall) serta memperhatikan keperluan generasi mendatang.

Ada suatu puisi yang memohon "Jadikan hatiku seluas samudra". Seluas apakah hati kita sekarang? Apakah seluas lautan, danau, yang semua orang bisa masuk ke dalamnya? Atau malah sempit seperti bak mandi atau bahkan sesempit gayung mandi yang hanya cukup untuk diri pribadi? Mari kita berdoa agar Tuhan memberikan kita hati yang luas supaya Tuhan berkenan memakai kita.

Heruarto Salim

Oktober 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk kondisi pandemi COVID-19 yang sudah makin melandai. Berdoa kiranya setiap orang Kristen mengambil kesempatan untuk dapat memberitakan Injil dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus terutama di dalam momen Jumat Agung dan Paskah di bulan ini. Bersyukur untuk ibadah fisik yang sudah dilaksanakan oleh banyak gereja dan bersyukur untuk kesempatan beribadah, bersekutu, dan saling menguatkan di dalam kehadiran fisik dari setiap jemaat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Bagus

Selengkapnya...

senang dengan penjelasan yang di atas dan memberkati. yang pada intinya pacaran dalam kekristenan adalah berfokus...

Selengkapnya...

Maaf u 99 domba itu Tuhan Yesus tidak mengatakan mereka tidak hilang., melainkan tidak memerlukan pertobatan yang...

Selengkapnya...

terimakasih, bagi saya sangat memberkati karena orang percaya hidup dalam peperangan rohani. karena itu Allah terus...

Selengkapnya...

Bagaimana jika Saat di Rafidim. bgs Israel tidak bersungut-sungut. Melainkan sabar dan kehausan tsb apakah mungkin...

Selengkapnya...

© 2010, 2022 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲