Siapa yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya? Orang miskin ingin menjadi kaya.
Orang kelas menengah ingin mempunyai daya beli lebih tinggi. Orang kaya ingin menjadi
lebih kaya dari yang lain. Orang terkaya di dunia ingin mempertahankan peringkatnya supaya
tidak ada yang lebih kaya darinya. Semua yang ingin kaya mengasumsikan satu hal:
kekayaan membawa kebahagiaan. Namun, apakah itu yang diajarkan oleh Tuhan Yesus?
Dalam narasi yang disusun oleh Matius, Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya dengan
mengkhotbahkan Kerajaan Sorga. Dia mulai mengumpulkan pengikut, memanggil murid-
murid-Nya, dan di tengah-tengah orang banyak mengajar tentang apa itu dan bagaimana
Kerajaan Sorga itu bekerja, atau dalam bahasa masa kini, men-sharing-kan visi misi Kerajaan
Sorga di dunia. Apa visi Kerajaan Sorga tentang kebahagiaan. Khotbah di bukit dimulai
dengan kalimat,
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah
yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat. 5:3)
Kata “berbahagialah” (Yun: makarios) dapat diterjemahkan juga, seperti dalam banyak terjemahan
Alkitab bahasa Inggris, menjadi “diberkatilah”. LAI juga tidak menerjemahkan kata “pneuma” dalam
kalimat yang sama, yang artinya roh, melainkan malah menggunakan terjemahan “di hadapan Allah”.
Dengan sedikit perubahan, ayat di atas dapat juga kita terjemahkan menjadi,
“Diberkatilah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah
yang empunya Kerajaan Sorga.”
Kembali pada kaitan antara berkat dan menjadi Israel, kita dapat melihat bahwa tema ini
diulangi lagi di dalam khotbah di bukit. Orang yang diberkati adalah orang yang berada di
dalam Kerajaan Sorga, dan orang yang ada di dalam Kerajaan Sorga adalah orang yang
miskin di dalam roh. Apa itu miskin di dalam roh?
Miskin di dalam roh berarti merasa tidak mempunyai apa-apa yang membuat seseorang dapat
menganggap dirinya layak di hadapan Allah, dan karena itu membutuhkan Allah. Kesulitan
banyak orang kaya secara jasmani adalah mereka juga merasa berkelimpahan di dalam
rohani, sehingga tidak merasa membutuhkan Allah. Miskin di dalam roh dan di hadapan
Allah, berarti mengakui bahwa kita membutuhkan penyelamatan dari Allah Bapa melalui
Allah Anak.
Berkat dan bahagia yang paling besar bukan mendapatkan tanah, rumah, atau perusahaan,
tetapi Kerajaan Sorga, yang hanya diberikan kepada orang yang miskin di dalam roh.