Orang muda yang kaya pergi dengan sedih dan kecewa karena diminta oleh Tuhan Yesus
agar menjual harta bendanya, membagikannya kepada orang miskin, dan mengikuti Dia.
Yesus meminta pengikut-Nya untuk meresponi panggilan-Nya secara total. Jika mau jadi
pengikut-Nya, tidak bisa sambil sambil mempunyai berhala, tuhan lain, dalam hati. Yesus
pun menjanjikan harta di sorga bagi pemuda yang kaya itu. Tidak sanggup melihat harta
sorgawi itu, pemuda itu pun pergi dengan sedih. Melihat itu, Petrus bertanya kepada Yesus,
“Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; jadi apakah yang akan
kami peroleh?” (Mat. 19:27). Yesus pun mulai bercerita tentang imbalan 100 kali lipat itu.
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak
Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk
juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang
yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya
perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali
lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal,” kata Tuhan Yesus (ay. 28-29).
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, Yesus bukan mewajibkan setiap
pengikut-Nya untuk meninggalkan rumahnya, memutuskan hubungan dengan keluarganya,
baru dapat diterima menjadi murid-Nya. Yesus sedang berbicara dalam konteks
membandingkan kepentingan harta benda dan hubungan keluarga dengan nama-Nya. Ini
sama dengan ujian yang diberikan Yesus kepada pemuda kaya itu. Pengikut Yesus harus
menghilangkan segala macam berhala, termasuk di dalamnya harta dan keluarga. Bagi
pengikut Kristus, tidak ada yang boleh lebih penting daripada nama Yesus. Jika demi
memuliakan nama-Nya, orang Kristen harus meninggalkan rumah dan keluarganya, orang
Kristen harus rela. Orang Kristen yang kehilangan rumah dan keluarga demi nama Yesus
Kristus akan menerima imbalan seratus kali lipat.
Apa maksud dari imbalan 100 kali lipat itu? Tentunya ini tidak boleh dipahami dengan
ekonomi duniawi: jika kita kasih persembahan sejuta rupiah akan dikembalikan seratus juta
rupiah. Kita tidak boleh membaca perkataan Yesus dengan hati seorang pengikut Mamon.
Kitab Markus memperjelas maksud Yesus dengan menambahkan beberapa kata dalam
perikop yang paralel dengan cerita di atas, “orang itu sekarang pada masa ini juga akan
menerima seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan
ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan
menerima hidup yang kekal” (Mrk. 10:30). Seratus kali lipat harta dan keluarga plus sambil
ada berbagai penganiayaan. Ini jelas bukan sejuta rupiah diganti semilyar rupiah.
Catatan kaki ESV Global Study Bible menjelaskan orang Kristen yang meninggalkan
rumahnya karena Yesus akan mendapatkan tumpangan di mana pun ada orang Kristen, yang
meninggalkan keluarganya akan mendapatkan keluarga baru di dalam Kristus. Seluruh orang
Kristen di dunia, yang tergabung dalam tubuh Kristus, menjadi keluarga baru kita.
Selain itu, kita juga dapat memahami imbalan seratus kali lipat dalam arti sukacitanya. Jika
selama ini kita menikmati cinta kasih dalam keluarga, tetapi demi nama Yesus harus berpisah
dengan mereka, kita akan mendapatkan seratus kali lipat sukacita dari persekutuan kita
dengan tubuh Kristus. Jika kita mendapatkan kesenangan dari harta benda kita, tetapi demi
nama Yesus harus meninggalkannya, kita akan mendapatkan sukacita seratus kali lipat dari
buah pelayanan kita. Saya membayangkan misionaris yang harus meninggalkan kenyamanan
hidup dan harta mereka, tetapi tidak akan menyesal karena melihat banyak jiwa yang bertobat
dari pelayanan mereka. Malahan, mereka mendapatkan sukacita seratus kali lipat.
Selain itu, yang paling penting, kita mendapatkan imbalan 100 kali lipat karena setelah kita
meninggalkan semua berhala dalam hati kita, kita mendapatkan Tuhan sejati, Yesus Kristus,
yang memberikan kita hidup yang kekal. Tidak ada imbalan yang lebih besar daripada itu.