,

“Berkatilah, Jangan Mengutuk!”

Akhir-akhir ini, media massa dan sosial dipenuhi oleh berita tentang kekerasan yang terjadi
mengatasnamakan agama. Sekelompok orang menyerang kelompok lain dengan alasan
membela agama atau menjalankan perintah agama tertentu. Melihat para pejuang agamais itu
membuat saya teringat akan Petrus, murid Yesus. Ketika prajurit Romawi menangkap Yesus
di Taman Getsemani, Petrus mencabut pedang dan menebas musuhnya demi membela
Gurunya, sampai-sampai telinga salah satu prajurit putus.

Akan tetapi, ternyata bukan itulah yang diinginkan oleh Yesus untuk dilakukan para
pengikut-Nya. Dia memerintahkan Petrus untuk memasukkan pedangnya kembali ke
sarungnya. “Barangsiapa yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang,” kata-Nya.
Jika mau, Dia bisa saja meminta Bapa-Nya mengirimkan ribuan pasukan malaikat, tetapi itu
tidak dilakukan-Nya karena Dia harus meminum cawan-Nya. Dia harus menggenapkan
nubuatan Perjanjian Lama. Dia harus menanggung dosa umat manusia dan mati di atas kayu
salib. Perendahan, hinaan, dan siksaan dengan sabar dihadapi-Nya. Karena pengikut-Nya
harus memikul salib dan menyangkal diri seperti Dia, kita tidak boleh menggunakan pedang,
tetapi menanggung salib kita, yaitu penghinaan dan penganiayaan dari dunia di dalam
ketaatan kita kepada kehendak Bapa.

Setelah peristiwa di Getsemani, tibalah kisah terkenal tentang penyangkalan Petrus. Tiga kali
dia menyangkal bahwa Yesus adalah Gurunya. Pembaca bagian ini mungkin akan dengan
mudah menyimpulkan bahwa Petrus penakut, pengecut, dan sebagainya. Namun, saya rasa
pandangan seperti itu kurang memperlakukan Petrus dengan adil. Keempat Injil mencatat
kisah penyangkalan Petrus ini, tetapi tidak ada satu pun yang menulis bahwa Petrus
menyangkal Yesus karena ketakutan. Para pembaca mungkin lupa bahwa Petrus adalah orang
yang sama dengan si pejuang yang sebelumnya dengan gagah berani menghunuskan pedang
di Getsemani. Petrus berani berperang meskipun kekuatannya tidak seimbang dengan
pasukan Romawi. Bukankah Petrus sudah siap mati bagi pemimpinnya?

Lalu sekarang, mengapa Petrus yang siap mati tidak mau mengakui Yesus sebagai Gurunya,
dan sampai tiga kali menyangkal-Nya? Penjelasan terbaik, saya kira, adalah karena Yesus
tidak seperti yang Petrus harapkan. Petrus sedang mengalami kebingungan dan
kekacaubalauan yang luar biasa. Yesus yang dia ikuti selama tiga tahun ternyata tidak akan
mengangkat senjata untuk mengusir tentara Romawi. Mengapa Yesus malah dihakimi oleh
imam besar Yahudi? Petrus marah, dan patah hati. Mungkinkah dia telah salah memilih guru?

Petrus tidak sadar, bahwa Yesus datang tidak untuk mengangkat pedang dan mengalahkan
kerajaan dunia ini. Di hadapan Pilatus, Yesus mengatakan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia
ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba- Ku telah melawan, supaya Aku
jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini,” (Yoh.
18:36). Pedang, penumpahan darah, dan kekerasan adalah cara kerajaan dunia menyelesaikan
masalah. Masalah ditiadakan dengan menumpas musuh. Petrus belum memahami bahwa
peperangan Yesus adalah melawan kerajaan setan, melawan kuasa dosa dan kematian. Dia
harus meminum cawan-Nya, menerima semua hukuman dosa manusia untuk ditanggung-Nya
sendiri, mati untuk mematikan maut, dan hidup kembali dengan penuh kemenangan. Hal ini
baru akan sepenuhnya dipahami murid-murid- Nya setelah Yesus bangkit dari kematian,
menampakkan diri kepada mereka, sampai puncaknya Roh Kudus turun ke atas mereka.

Bagaimana cara kita menanggapi hinaan kepada pemimpin agama kita? Apakah kita
meresponi dengan mengikuti cara kerajaan dunia ini? Kerajaan Kristus bukanlah dari dunia
ini, meskipun kerajaan itu ada di tengah-tengah dunia ini. Namun, kehadiran kerajaan itu
membawa damai sejahtera, cinta kasih, dan kebenaran Tuhan bagi dunia. “Berkatilah siapa
yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” tulis Paulus (Rm. 12:14). Itulah
cara Kerajaan Kristus menjawab hinaan dari dunia ini. Hinaan kepada Yesus hendaknya
dijawab dengan pemuliaan terhadap Yesus, dengan memberitakan kebenaran tentang-Nya,
sehingga berkat Tuhan sampai kepada orang yang menghina-Nya.