Bersyukur

Apa yang Anda syukuri di momen liburan lebaran? Mungkin sebagian besar akan bersyukur
untuk jalanan yang biasanya macet menjadi kosong melompong, dompet yang biasa kosong
menjadi lebih tebal karena dapat THR, dan suasana hati yang campur aduk: senang karena
libur tidak dikejar-kejar deadline kerjaan, namun galau sulit menjawab pertanyaan “kapan
dapat pacar, kapan nikah, kapan anak berikutnya?” oleh keluarga atau kerabat.

Di malam menjelang lebaran, saya mendapatkan sebuah ucapan pelajaran hidup yang agak
berbeda karena dua pengalaman yang kontras. Saya melihat dua macam alam semesta. Yang
pertama adalah tata surya di atas kepala, di kawasan puncak malam hari saya bisa melihat
hamparan bintang-bintang di langit yang keindahan dan keagungannya membuat saya
otomatis melantunkan lagu “How Great Thou Art”. 

Yang kedua adalah melihat sebuah semesta kehidupan dalam setetes air di bawah mikroskop
lipat yang saya beli untuk anak saya, mata saya langsung dibawa melihat kepada kawanan sel
hidup yang aktif bergerak yang sebelumnya tidak kasatmata. Keduanya sangat kontras, yang
satu sungguh besar tanpa batas namun keberadaan kehidupan masih penuh tanda tanya dan
misteri, sedangkan yang kedua, kasatmata namun menyimpan misteri dan kompleksitas
kehidupan yang luar biasa. Melihat ke atas, kita mengagumi bijaksana Tuhan yang mengatur
semua pergerakan bintang, planet, asteroid, dan lainnya. Melihat ke bawah, kita mengagumi
anugerah Tuhan atas kehidupan, termasuk kehidupan bagi amuba ataupun makhluk bersel
satu yang memiliki semua fungsi tubuh manusia seperti bernafas, mencerna, dan berkembang
biak. 

Kenapa untuk menyadari semua ini harus tunggu lebaran? Mungkin karena di hari-hari lain
kita terlalu sibuk dengan berbagai hal hingga lupa berhenti untuk terkagum akan jejak tangan
Tuhan di semua ciptaan-Nya. Ketika hening di tengah kegelapan malam, sayup-sayup
hampir-hampir tidak terdengar, baik si amuba maupun sang bintang sedang melantunkan
“How Great Thou Art”. Marilah kita belajar bersyukur!