“Bersyukur Karena” dan “Bersyukur Meskipun”

Sering kali di dalam doa-doa orang Kristen, kita dapat mendengarkan ekspresi yang penuh
ucapan syukur karena menghitung berkat-berkat Tuhan. Ini adalah praktik yang baik dan
harus ada di dalam kehidupan doa orang Kristen. Namun, bagi pengikut Kristus yang sejati
dan terus bertumbuh, kita juga perlu lekat dengan ekspresi syukur yang lain, yakni
“bersyukur meskipun”. Mengapa itu penting?

Tanpa “bersyukur meskipun”, “bersyukur karena” mengalami kekeringan makna yang
Alkitabiah. Seseorang bisa saja bersyukur karena mendapatkan kenaikan gaji, mobil, dan
rumah baru. Akan tetapi, ketika kesulitan menerpa dan kehidupan menjadi tidak
menyenangkan, orang tersebut kehilangan hal untuk disyukuri. Contoh yang sangat jelas bisa
kita lihat pada Kitab Keluaran. Karena generasi pertama orang Israel yang dituntun Allah
keluar dari Mesir tidak belajar untuk bersyukur di dalam segala keadaan, mereka menggerutu
ketika perjalanan mereka di padang gurun menjadi tidak seindah piknik yang mereka
bayangkan. Mereka kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Jika kita berada di dalam kondisi
yang sama dengan mereka, memang tidak ada yang dapat disyukuri, bukan?

Bukan, kedangkalan kerohanian generasi pertama Israel yang keluar dari Mesir membuat
mereka tidak dapat bersyukur. Meskipun mereka haus, panas, dan lapar, mereka melihat
langsung pimpinan Allah dengan tiang awan dan api. Mereka lupa bahwa meskipun kondisi
sekarang sedikit tidak enak, mereka masih patut bersyukur karena Allah setia, karena Dia
hadir di tengah-tengah mereka dan telah melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir,
karena Dia telah membelah Laut Merah bagi mereka supaya bisa berjalan menuju tanah yang
telah Dia sediakan bagi mereka.

Tanpa belajar untuk bersyukur apa pun yang terjadi, pertumbuhan kerohanian orang Kristen
juga dapat terhambat. Orang seperti itu akan terbiasa untuk menggerutu sekalipun
sesungguhnya berkat Tuhan melimpah di dalam kehidupannya. Orang tersebut juga tidak
dapat seperti Habakuk yang berkata,

Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
       pohon anggur tidak berbuah,
       hasil pohon zaitun mengecewakan,
sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,
       kambing domba terhalau dari kurungan,
       dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,
       beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Hab. 3:17-18)

Dan yang paling penting, orang demikian tentunya tidak dapat terus maju di dalam jalannya
menyangkal diri dan memikul salib. Dia akan merengek soal susahnya jalan yang harus
ditempuh orang Kristen di dalam meneladani Kristus. Dia lupa bahwa meskipun jalan salib
sulit dan penuh penderitaan, dia masih harus bersyukur karena dia sudah dilepaskan dari
perbudakan dosa, Roh Kudus ada di tengah-tengah kehidupannya, selalu beserta dengannya,
dan telah menganugerahkan hidup yang baru. Dia harus beryukur karena Kristus telah
terlebih dahulu menderita, bahkan disalibkan demi dia; karena Kristus telah bangkit; karena
suatu hari nanti Kristus akan datang untuk menghakimi dunia ini, menyelesaikan semua
masalah, dan menyeka air mata semua pengikut-Nya. Dia harus beryukur karena semua
penderitaannya sekarang hanya sementara dan tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan
yang akan datang itu.

Belajar untuk “bersyukur meskipun” adalah jalur memutar yang harus ditempuh demi
mendapatkan alasan yang kristiani untuk “bersyukur karena”, membuat ucapan syukur kita
tetap terfokus pada cerita besar Alkitab. Kita tetap bisa bersyukur meskipun kita
sedang sakit secara jasmani, lelah secara mental, tertindas atau diperlakukan secara tidak
adil, karena Yesus Kristus adalah Tuhan dan Raja yang telah datang, mati, dan bangkit
untuk menebus segenap ciptaan-Nya, karena Dia mengirim Roh Kudus untuk menerapkan
penebusan-Nya dan memelihara murid-murid-Nya, karena Dia akan datang lagi untuk
menggenapkan sepenuhnya rencana Bapa-Nya.