Dosa memecah belah. Pertama, dosa memisahkan dan menjauhkan manusia dari Allah.
Kemudian, dosa menceraikan manusia dengan manusia lainnya. Manusia tidak dapat kembali
kepada Allah dengan inisiatif dan kekuatan sendiri. Dua bulan yang lalu, kita sudah
merenungkan tulisan Paulus di dalam Efesus 1 bahwa Allah telah merencanakan dari
kekekalan, memilih, dan menyelamatkan manusia berdosa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus.
Kita dipilih untuk dipersatukan dengan Sang Kepala, sebagai tubuh-Nya yang kudus. Pada
pasal kedua, Paulus menjelaskan bahwa itu semua bukan pekerjaan kita, melainkan pekerjaan
Allah, supaya kita tidak menjadi sombong.
Bukanlah kebetulan bahwa jika pasal pertama Efesus berbicara tentang penyatuan manusia
dengan Allah, pasal kedua beralih kepada penyatuan manusia dengan manusia. Namun, cerita
penyatuan ini cukup panjang, yang akan saya kisahkan dengan singkat di sini. Sejak manusia
berdosa, hubungan sesama manusia juga menjadi rusak. Mereka saling menyalahkan, iri,
bahkan membunuh (Kej. 3 dan 4). Kalaupun mereka bersatu, itu adalah untuk mencapai
tujuan yang berdosa, melawan Allah, sehingga Allah menghukum manusia dengan
mengacaukan bahasa mereka (Kej. 11). Namun, Allah ingin mengembalikan damai di antara
manusia karena mereka tidak diciptakan untuk saling membenci, tetapi saling mengasihi,
melayani, dan bersekutu di dalam penyembahan kepada Allah. Allah mulai dengan
memanggil dan mengikat perjanjian dengan satu orang, yaitu Abraham. Melalui
keturunannya, Allah akan menjadikan umat perjanjian yang mempunyai identitas yang sama
di dalam satu perjanjian dengan-Nya. Mereka akan tinggal di tanah perjanjian, mereka akan
diberkati, dan kehidupan mereka akan menjadi berkat bagi segala bangsa. Abraham tidak
melihat semuanya itu terwujudkan, kecuali bahwa Allah menepati janji-Nya memberikan
keturunan: Ishak. Bahkan, Ishak dan Yakub, dan keduabelas anak Yakub belum mencicipi
berkat untuk menjadi bangsa besar di tanah perjanjian. Bahkan, keturunan mereka harus
diperbudak di tanah Mesir. Dengan kuasa-Nya, Allah membebaskan mereka dari Firaun dan
menuntun mereka ke tanah perjanjian. Sebelum masuk ke sana, Allah menurunkan Taurat
kepada mereka melalui Musa. Inilah perintah yang harus mereka jalankan sebagai identitas
umat perjanjian. Taurat ini nantinya akan membedakan dan memisahkan mereka dari bangsa-
bangsa sekitar mereka yang tidak mengenal Tuhan. Taurat mempersatukan orang Israel,
sekaligus mengeluarkan bangsa lain.
Inilah konteks Paulus mengatakan ini di dalam Efesus 2:11-12 untuk menggambarkan
kondisi orang yang berada di luar Taurat yang tidak bersunat.
Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang
bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan
dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu
kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-
ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
Orang non-Yahudi dianggap orang “jauh”, di luar dari perjanjian. Ini bukan berarti orang
Israel yang sudah mempunyai Taurat tidak membutuhkan Kristus lagi. Justru karena dosa
mereka belum diselesaikan oleh Kristus, “dosa mempergunakan yang baik untuk
mendatangkan kematian bagiku” (Rm. 7:13). Seharusnya, dengan menjalankan Taurat, orang
Israel menjadi kesaksian bagi bangsa lain dan membawa bangsa lain untuk mengenal dan
memuliakan Allah mereka. Namun, karena natur dosa mereka, Taurat menjadi kesombongan
dan bahkan di bawah tawanan dosa, “dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk
membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati”
(Rm. 7:8). Orang Israel tidak hanya perlu dibebaskan dari Firaun, tetapi yang lebih penting
adalah dari kuasa dosa dan Taurat tidak dapat melakukan itu.
Dengan latar belakang ini, kita baru dapat lebih jelas memahami kabar baik di dalam Efesus
2:14-22, yang perlu kita baca dengan perlahan-lahan.
Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”,
sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah
mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab
dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan
ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan
itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh,
dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan
memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka
yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada
Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para
rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh
bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu
juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Hanya Kristus dan Roh Kudus yang dapat menyatukan kita dengan Allah dan manusia yang
lain. Keterpisahan orang Yahudi dengan non-Yahudi karena Taurat kini telah dibatalkan di
dalam darah Kristus. Kedua pihak kini sama-sama kembali kepada Bapa di dalam satu Roh.
Ingatlah bahwa untuk menyatukan anak-anak-Nya menjadi “bangunan” yang “rapi tersusun”,
Kristus telah membayar dengan harga yang mahal. Kita pun dapat bertemu dengan orang
percaya lain di gereja karena pekerjaan Allah melalui sejarah yang panjang.
Bagaimana dengan persekutuan kita dengan anggota keluarga Allah yang lain? Apakah
keberadaan kita dengan yang lain dapat dilihat sebagai bangunan yang tersusun rapi, tempat
satu batu dengan nyaman dilekatkan dengan batu yang lain? Ataukah susunannya menjadi
miring-miring karena dosa masih bekerja untuk menanamkan kebencian dan perseteruan di
antara kita? Bagaimana pula kesaksian kita kepada orang yang belum percaya? Apakah
kehidupan kita menjadi undangan bagi mereka untuk bergabung dengan keluarga Allah?