Dari Gelap Terbitlah Terang

Setiap buku yang membahas tentang Kristologi tidak bisa tidak, isinya pasti harus membahas
bagian Filipi 2:5-8,

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib.”

Demikian juga pembahasan tentang kematian Stefanus sebagai martir, pasti dikaitkan dengan
identitasnya sebagai salah satu dari tujuh diaken yang baru dipilih oleh Gereja mula-mula.

Apa kesamaan dari kedua bagian tersebut di atas? Jawabannya adalah bahwa keduanya
mempunyai latar belakang yang tidak terlalu indah. Pembahasan tentang Kristus di Filipi 2:5-8
dicatat di dalam konteks adanya pertikaian atau perselisihan antara dua anggota jemaat
yang penting dan berpengaruh di Filipi, yakni antara Euodia dan Sintikhe (Fil. 4:2). Karena
pertikaian inilah Paulus menasihati mereka untuk sehati sepikir di dalam Kristus.

Demikian juga konteks munculnya pemilihan diaken di gereja mula-mula dipicu oleh adanya
“sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang
Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-
hari.”

Dari kedua bagian ini, kita melihat bagaimana Tuhan memakai konteks “perselisihan antar
jemaat” dan “sungut-sungut jemaat” menjadi sesuatu yang sangat bernilai tinggi dan sangat
bermanfaat bagi kehidupan gereja bahkan hingga hari ini, walaupun kita tidak mengharapkan
perselisihan dalam jemaat atau jemaat bersungut-sungut. Yang bisa kita lakukan adalah
ketika hal itu sedang terjadi atau suatu saat mungkin terjadi, kita diajar tidak berfokus pada
perselisihan atau sungut-sungutnya, tetapi meminta Tuhan turut campur tangan di dalamnya
supaya ada solusi yang mengubah situasi menjadi baik dan berguna bagi jemaat Tuhan saat
itu dan bahkan hingga ratusan tahun ke depan. Evil was turned into good.

Keajaiban salib Kristus adalah contoh ultimat dari greatest evil was turned into greatest
good
, kegelapan maut yang berubah menjadi fajar kebangkitan. Demikianlah kita dapat terus
berharap dan beriman kepada Allah bahwa  “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu,
termasuk kondisi-kondisi buruk sekalipun, itu adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”
(Rm. 8:28). Betapa melegakannya!