Ucapan bahagia kedua dalam khotbah di bukit mengandung paradoks: “Berbahagialah orang
yang berdukacita” (Mat. 5:4). Bagaimana mungkin orang yang berdukacita adalah orang
yang berbahagia? Bukankah selama ini kita selalu memahami makna bahagia sebagai yang
berlawanan dengan dukacita? Air mata ratapan dan tawa bahagia adalah dua hal yang tidak
dapat disatukan. Bagian kedua dari ucapan di atas, “… karena mereka akan dihibur”, belum
menyelesaikan persoalan kita. Siapa yang akan menghibur? Kapan penghiburan itu tiba jika
saya masih mengeluarkan air mata saat ini?
Kita tidak dapat memahami ucapan di atas tanpa mengaitkannya dengan kalimat sebelum dan
sesudahnya, dan sekaligus dengan konteksnya yang lebih besar. Jika kita mengingat bahwa
khotbah di bukit adalah khotbah tentang kondisi orang berdosa yang dibawa masuk oleh
Tuhan Yesus ke dalam kerajaan-Nya dengan anugerah, kita akan memahami bahwa orang
yang merasa tidak layak mendapatkan anugerah itu akan merasa tidak mempunyai apa-apa di
hadapan Tuhan (miskin) dan mereka akan meratapi dosa mereka. Barang siapa yang meratapi
dosa mereka akan dihibur.
Namun, agama Kristen tidak hanya tentang dosa dan keselamatan pribadi. Selain tentang
meratapi dosa pribadi, saya percaya bahwa ucapan ini juga berbicara meratapi dosa dan
dampak dosa dunia. Paulus menulis tentang penderitaan anak-anak Allah di dunia yang
berdosa dan kemuliaan yang akan datang sepenuhnya ketika genap waktunya dalam Roma
8:18 dan seterusnya. Bahkan, bukan hanya anak-anak Tuhan yang berkeluh kesah, tetapi juga
seluruh makhluk (ay. 19-22). Anak-anak Allah kini menantikan tubuh dan dunia yang baru
sepenuhnya diberikan dan dinyatakan kepada mereka, sambil berdoa dengan keluhan-keluhan
yang tak terkatakan untuk dirinya sendiri dan dunianya. Di sisi yang lain, segala makhluk di
dunia menantikan anak-anak Allah dinyatakan supaya mereka dapat “dimerdekakan dari
perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”
Kehadiran anak-anak Allah ditunggu-tunggu oleh dunia, karena kehadiran mereka bukan
mendatangkan teror, kebencian, dan kekerasan, melainkan kehadiran yang mewakili Allah
untuk mendatangkan pembebasan, cinta kasih, dan damai sejahtera (syalom).
Mari kita berdoa dengan hati yang berduka untuk kerusakan yang diakibatkan oleh dosa:
peristiwa-peristiwa kejahatan, terorisme, kriminalitas, ketidakadilan, dan imoralitas. Saking
rumitnya permasalahan dunia karena dosa, kita tidak tahu lagi caranya untuk mendoakannya.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana
sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-
keluhan yang tidak terucapkan,” tulis Paulus di ayat 26.
Yesus mengucapkan ucapan bahagia dalam bentuk puisi yang kaya makna, sedangkan Paulus
memperjelas maknanya dengan prosa yang indah. Penghiburan yang dijanjikan Yesus
dijelaskan oleh Paulus: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”