Doa dan Dupa (II)

Pada renungan sebelumnya, saya mengajak pembaca untuk memikirkan permasalahan-permasalahan
terkandung dari pertanyaan yang sering diajukan tentang fungsi berdoa. Untuk apa berdoa jika
Allah telah mengetahui segala kebutuhan kita. Saat ini, saya ingin menjawab pertanyaan
tersebut dengan mengajak pembaca merenungkan peran doa orang percaya di dalam drama kosmik
yang dinarasikan di dalam Kitab Wahyu.

Sewaktu kita mengikuti penglihatan Yohanes di kitab tersebut, sampai kepada awal pasal
kedelapan, kita memasuki salah satu puncak yang dari drama kosmik di dalam kitab tersebut.
Sebelumnya, di pasal kelima, sebuah gulungan kitab dengan segelan tujuh meterai
diperlihatkan dan malaikat bertanya kepada semua yang makhluk sorgawi siapa yang layak
membuka gulungan kitab di tangannya dan semua meterainya. Setelah Yohanes menangis
karena mengetahui tidak ada seorang pun di sorga maupun di bumi yang layak, seorang tua-tua
menghibur dia dengan menunjuk kepada Singa dari Yehuda yang sedang maju ke depan
untuk menerima gulungan kitab tersebut.

Apa sebenarnya isi gulungan itu? Mengapa tidak ada yang layak membuka meterai-meterainya,
kecuali Singa dari Yehuda, yang disebut juga Anak Domba yang telah disembelih? Gulungan
tersebut berisi rencana kekal Allah untuk menyelamatkan ciptaan-Nya dari kejatuhan dan
segala dampaknya yang mematikan. Karena itu, tidak ada yang layak membuka gulungan itu.
Hanya Anak Domba Allah yang dapat menggenapkan rencana kekal Allah melalui kematian-Nya.
Hanya Singa dari Yehuda yang dapat menang melawan kuasa dosa dan setan untuk selamanya.

Kembali ke pasal kedelapan yang di atas telah saya sebut sebagai klimaks dari adegan
pembukaan meterai ini. Sekarang kita tahu setiap pembukaan meterai mendatangkan
kesulitan, penderitaan, dan penganiayaan bagi orang-orang percaya di bumi. Ini menunjukkan
bahwa semua kesusahan itu memang harus terjadi sebelum waktunya genap dan Singa dari
Yehuda datang untuk memberikan kemenangan bagi umat-Nya. Satu demi satu meterai
dibuka, bencana bergantian menimpa bumi, sampai meterai terakhir, meterai ketujuh dibuka,
heninglah seluruh isi sorga. Inilah momen itu ketika tidak ada kata-kata atau pun ekspresi
manusia yang sanggup menanggapi penglihatan tersebut. Pembukaan meterai ketujuh adalah
peristiwa yang terlalu khidmat, agung, dan kudus. Tanggapan satu-satunya yang tepat
terhadapnya adalah keheningan.

Setengah jam berlalu dengan sunyi senyap. Tujuh sangkakala pun dibagikan kepada tujuh
malaikat. Di sinilah doa orang kudus masuk ke dalam panggung kosmik.

Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi
berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk
dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan
takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang kudus itu dari tangan
malaikat itu ke hadapan Allah. (Why. 8:3-4)

Setelah meterai ketujuh dibuka, kita berharap rencana kekal Allah terhadap bumi akan segera
terungkap dan dilaksanakan. Namun, apa yang terlebih dahulu dinaikkan ke hadapan Allah
sebelum tindakan Allah diwujudkan? Doa orang-orang kudus. Setelah semua penderitaan dan
penganiayaan diterima dan jumlahnya sudah genap, kini saatnya Allah beraksi. Namun,
adalah termasuk ke dalam rencana dan kehendak kekal Allah bahwa Dia mendengar terlebih
dahulu doa-doa dari orang-orang yang menderita. Doa kita ditunggu oleh Allah karena itu
sudah masuk ke dalam skenario penggenapan seluruh rencana-Nya. Justru dengan berdoa,
kita mengakui kedaulatan Allah yang telah mengatur segala sesuatu, termasuk jalan sejarah,
dan menaati kehendak Allah yang memberikan kita peran penting di dalam pembalikan arah
sejarah. Allah ingin agar kita berperan penting. Doa-doa kita “menentukan” arah cerita. Allah
tidak menginginkan bahwa ada dialog penting dari manusia yang dikasihi-Nya yang hilang di
dalam narasi jagad raya ini.

Sesudah Allah menerima doa-doa yang dinaikkan bersama dengan kemenyan dari pedupaan
(yang berarti wewangian yang menyenangkan bagi Allah), kita tahu bahwa penghakiman dari
sorga pun dimulai. Allah pun bertindak: “Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu,
mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi
guruh, disertai halilintar dan gempa bumi,” (Why. 8:5).
Maka, dimulailah pembalikan
situasi, arah ciptaan, dari kehancuran kepada dunia yang baru. Damai sejahtera akan kembali
meliputi bumi sampai selama-lamanya.

Jika kita menghidupi drama kosmik ini dan mengetahui peran doa-doa kita di dalam jalan
ceritanya, akankah kita bertanya lagi untuk apa berdoa?