,

Gubernurmu Nero?

Indonesia baru melewati ajang pesta demokrasi, yaitu suatu kesempatan bagi rakyat untuk
menggunakan haknya dengan memberikan suara untuk memilih pemimpin daerahnya.
Meskipun di banyak daerah pemenang sudah dapat dipastikan, di DKI Jakarta yang
mempunyai pilkada rasa pilpres masih menyisakan pertanyaan karena harus dilanjutkan ke
putaran kedua. Masing-masing pembaca mungkin mempunyai pilihannya sendiri di dalam
hati dan akan kecewa jika pemimpin dambaannya kalah.

Saya ingin mengajak pembaca untuk membayangkan sesuatu yang sebenarnya aneh, tapi
anggaplah memang terjadi demikian. Apa respons kita jika yang nanti naik menjadi gubernur
adalah orang yang hatinya sangat jahat, menganggap dirinya Tuhan, pernah diduga
(meskipun sebatas rumor) membunuh ibunya sendiri, meracuni saudara tirinya, dan melumuri
orang Kristen dengan minyak lalu membakarnya di halaman belakang rumahnya. Ya,
gubernur itu bernama Nero. Bagaimana sikap hati kita sebagai orang Kristen?

Untuk menjawab ini, saya ingin mengutip ayat Alkitab yang sangat aneh, yang ditulis oleh
Paulus untuk menasihati orang Kristen bagaimana bersikap kepada Kerajaan Romawi:

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya,
sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada,
ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan
siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik,
ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa
takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari
padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau
berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang.
Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat
jahat. (Rm. 13:1-4)

Aneh sekali pesan Paulus ini, masa menyuruh orang Kristen di Roma untuk takluk kepada
Nero, pemimpin yang tidak layak dihormati itu? Iya, aneh kalau kita mengabaikan kalimat
pertama dan terakhir, yaitu pemerintah, seburuk apa pun, tidak dapat berkuasa jika tidak
diberikan kuasa oleh Allah. Pemerintah, bagaimana pun juga, adalah anugerah Allah bagi
masyarakat karena pemerintah yang buruk masih lebih baik daripada anarki. Karena
pemerintah adalah hamba Allah, kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada
pemerintah. Selama peraturan dari pemerintah tidak melawan perintah Allah, orang Kristen
harus tunduk. Akan tetapi, orang Kristen tidak boleh menyangkali Allah demi pemerintah.
Pesan ini secara implisit terkandung di dalam tulisan Paulus di atas.

Ini juga bukan berarti pemerintah tidak perlu takut akan Tuhan. Jika kuasa mereka adalah
karunia Tuhan, Tuhan bisa mencabut kembali kapan saja dan menghukum pemimpin yang
bejat dengan sangat berat. Kita melihat bagaimana Dia menghukum raja-raja Israel yang
membelot hatinya, dan raja dari kerajaan di luar Israel seperti Firaun dan Nebukadnezar.
Sekali lagi, pemerintah adalah hamba Tuhan yang harus takut dan bertanggung jawab
kepada-Nya, jika tidak mau dihakimi-Nya.

Karena itu, langit tidak runtuh dan bumi masih terus berputar jika yang menang bukan calon
yang kita inginkan. Kita yang hidup di zaman dan politik demokrasi modern lebih beruntung
daripada orang Kristen abad pertama, karena jika seorang pemimpin tidak baik, dia hanya
bertahan 1 periode. Kaisar di zaman dulu akan menjabat seumur hidup, kecuali terjadi kudeta.
Sementara itu, kita juga tidak lupa berdoa dan melakukan yang terbaik agar pemimpin yang
baik bisa terpilih, karena pemerintah yang takut akan Tuhan lebih tidak rentan untuk
dimanfaatkan oleh si jahat untuk menggenapkan rencana jahatnya melawan Allah dan umat-
Nya.