Sekilas ini adalah hasil percakapan dua teman lama, Amin (A) dan Udin (U):
A: Din, pabrik mangkok lu gulung tikar yah gua denger, jadi sekarang
lu dagang apa?
U: Gua buka pabrik baru, untungnya puluhan kali lipat dibanding pabrik mangkok.
A: Pabrik apaan?
U: Pabrik hoax, tinggal pekerjain beberapa anak muda pinter mengolah
kata dan pinter main medsos. Nama usaha baru gua: Mang Hoax.
A: Gile lu! tapi emang sih bisnis ini lagi booming banget yah menjelang pemilu.
Lu gak merasa bertentangan dengan yang lu percaya?
U: Kepercayaan? Agama bro? Ayat suci gua dari sini nih: “Make the lie big make
it simple, keep saying it, and eventually they will believe it.” by Adolf Hitler.
Dari sekilas percakapan di atas memang hoax merebak di mana-mana, tetapi hoax
bukanlah suatu fenomena baru. Hoax sudah setua manusia itu sendiri. Tahukah kita kapan
hoax pertama kali hadir di dunia ini? Siapa pembuat dan penyebar hoax pertama? Alkitab
mencatat Iblislah pendusta dan bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Di peristiwa Kejatuhan Manusia di
Taman Eden, si ular dengan sangat cerdik menyasar Hawa, mengapa? Mungkin ia tahu Hawa
tidak mendengar langsung perintah Tuhan berkenaan dengan larangan memakan buah itu
tetapi Hawa mendengarnya melalui Adam. Ular menipu Hawa dengan sangat sukses karena
Hawa tidak pernah klarifikasi pertanyaan maupun klaim ular kepada Adam atau Tuhan.
Namun yang lebih mencengangkan adalah Alkitab menyatakan Adam yang sepanjang Hawa
dicobai ada bersama-sama dengan Hawa (Kej. 3:6) ternyata tidak tertipu seperti Hawa tertipu
(1Tim. 2:14: Adam was not deceived, but the woman was deceived). Tuhan adalah Sang
Kebenaran, karena itu setiap kebohongan dan hoax adalah kekejian terhadap karakter-Nya.
Tuhan bahkan sangat benci hoax sampai Ia jadikan hukum ke-9 dari Hukum Taurat.
Tuhan membenci hoax, tetapi manusia berdosa mencintai hoax , bahkan termasuk orang
Kristen. Gosip memang sip apalagi yang sudah ditambah bumbu-bumbu. Kita sering kali
membaca bagaimana media massa mewanti-wanti bahaya hoax , biasanya tentang akibat yang
akan ditimbulkan (the result) tetapi bukan asal mulanya (the cause). Karena itu tepatlah
ketika seorang nenek pembuat hoax, yang belakangan ini menggemparkan seluruh media
Indonesia ketika mengakui kebohongannya, berkata “entah setan mana yang memberikan
cerita khayalan ini kepada saya.”
Siapakah “bapa” kita sebenarnya? Sang Kebenarankah atau si pendusta? Kiranya Tuhan
menolong kita mampu hidup bersaksi bagi Dia, Sang Kebenaran dan bukan menjadi anak si
pendusta.