Iman dan Penglihatan: Kelompok Kedua

Minggu lalu, kita merenungkan bahwa tanda atau mujizat digunakan oleh Tuhan untuk
menyatakan diri-Nya sebagai Allah sejati di Perjanjian Lama dan Mesias sejati di Perjanjian
Baru. Orang Galilea dan Tomas termasuk orang-orang yang datang dan percaya kepada
Tuhan karena tanda yang diperlihatkan. Namun, tanda atau mujizat ternyata bukanlah cara
yang paling menyenangkan Tuhan untuk memanggil orang berdosa datang kepada-Nya. Tahu
dari mana?

Kepada orang Galilea, Dia memberikan teguran, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat,
kamu tidak percaya” (Yoh. 4:48), dan kepada Tomas, “Karena engkau telah melihat Aku,
maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh.
20:29). Jika tidak melalui penglihatan, orang berdosa dipanggil untuk berpaling kepada
Tuhan, lalu melalui apa? Alkitab secara jelas menyatakan bahwa mujizat bukan petunjuk
yang paling penting, melainkan pemberitaan firman. Yohanes Pembaptis, seorang yang kita
tahu dipanggil untuk menyiapkan jalan bagi Yesus Kristus, tidak melakukan satu mujizat
pun. Dia adalah “Suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk
TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!’” (Yes. 40:3). Ketika
orang kaya meminta Abraham menyuruh Lazarus untuk bangkit dari dunia orang mati dan
memberitakan Injil kepada kelima saudara orang kaya tersebut, Abraham berkata, “Ada
pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.”
Orang kaya itu berpikir seperti banyak orang Kristen sekarang, dan menjawab, “Tidak,
bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka,
mereka akan bertobat.” Cerita itu ditutup dengan kalimat pamungkas Abraham, “Jika
mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau
diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk. 16:29-31).
Paulus juga menuliskan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
Kristus” (Rm. 10:17). Apa yang kita lihat dari ayat-ayat di atas adalah pengalihan pernyataan
kebenaran dari media visual kepada media verbal.

Kelompok yang kedua dari pendengar Yesus Kristus adalah orang yang tidak melihat
namun percaya karena mendengarkan pemberitaan Injil. Mereka adalah orang-orang seperti
penduduk kota Samaria, dan sebagian besar orang Kristen dari awal berdirinya gereja sampai
saat ini.

Setelah semua ayat yang kita baca di atas, masihkah kita memandang rendah pernyataan
kebenaran yang verbal? Masihkah kita melihat pemberitaan Injil secara verbal lebih rendah
tingkatnya dibandingkan pertunjukan mujizat? Apakah kita masih memandang orang yang
membuat mujizat lebih besar kuasanya, dan lebih dipenuhi Roh Kudus daripada orang yang
memberitakan Injil dengan berani? Kiranya semua kebenaran yang dinyatakan di atas dapat
mengubah cara pandang kita terhadap apa yang utama, dan apa yang tidak utama.