Siapa yang tidak pernah menghadapi masalah dalam pertemanan? Bahkan di antara saudara seiman,
sering kali permusuhan dapat terjadi. Tidak jarang di dalam pergaulan kita, kita tidak merasakan
cinta kasih, melainkan kebencian, dendam, dan amarah. Padahal, Yesus Kristus sudah mengajarkan
bagaimana seharusnya murid-murid-Nya bergaul dan menjalin hubungan persaudaraan satu dengan
lainnya. Apa yang seharusnya menjadi filsafat kita dalam persahabatan atau pertemanan? Apa yang
menjadi ciri khas orang Kristen bergaul di antara sesama mereka?
Yesus berkata tentang hal persaudaraan ini, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu
supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus
saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku,
yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:34-35).
Di dalam kutipan di atas, Tuhan Yesus sedang memberikan perintah yang baru, yaitu murid-murid-
Nya harus saling mengasihi. Namun, mungkin kita merasa tidak ada yang baru di dalam perintah
ini karena itu sudah diajarkan sejak zaman Musa. Memang, perintah saling mengasihi tidak baru,
tetapi yang baru di sini adalah kita harus mengasihi saudara seiman kita seperti Kristus sendiri telah
mengasihi kita. Inilah yang baru di dalam perintah baru. Ajaran Musa tidak menyentuh sampai tingkat
cinta kasih setinggi dan sedalam perintah baru Yesus.
Apa artinya mengasihi sesama seperti Yesus telah mengasihi kita? Untuk menjawab pertanyaan
ini, kita harus menjawab pertanyaan bagaimana sebenarnya Yesus mengasihi kita. Pertama, Yesus
mengasihi kita ketika kita masih menjadi musuh-Nya. Ini berarti ada inisiatif dalam berekonsiliasi.
Kita tidak menunggu orang yang membenci kita datang untuk meminta damai kepada kita, tetapi
kitalah yang diminta Tuhan untuk dengan cinta kasih pergi berdamai dengannya. Kedua, Yesus
mengasihi kita tanpa syarat. Kita juga harus mengasihi saudara seiman kita tanpa syarat. Ketiga,
Yesus tidak pernah kehabisan pengampunan dalam mengahadapi kita yang jatuh bangun. Kita juga
tidak boleh memberi batasan jumlah dalam mengampuni orang lain. Dan masih banyak lagi. Apakah
ini semua terlalu sulit dilakukan? Ingatlah cinta kasih Tuhan Yesus yang paling puncak bagi kita,
yaitu Dia bahkan rela mati di atas kayu salib bagi kita. Ini artinya dalam cinta persaudaraan orang
Kristen, kita perlu belajar dari Tuhan Yesus bagaimana berkorban bagi saudara seiman kita, bahkan,
sampai suatu keadaan tertentu, mungkin kita harus mengorbankan nyawa kita bagi saudara seiman
kita.
Jika dalam kondisi khusus nyawa pun sudah rela kita berikan bagi saudara kita, masakan terlalu berat
bagi kita untuk berhubungan dengan penuh gairah, kehangatan, pengampunan, dan saling memberi?
Iman apa lagi kecuali iman kepada Kristus yang menyediakan dasar bagi sebuah komunitas yang
mana masing-masing anggotanya rela mati bagi yang lain karena cinta?