Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Renungan

Kasih Tuhan Yesus pada Hari Sabat

24 September 2025 | John Mondan Tarigan 3 min read

Sebagai orang Kristen, kita pasti memiliki pemahaman tertentu akan hari Sabat, yang bagi kita orang Kristen adalah hari Minggu. Hari Sabat adalah hari di mana orang Israel mengenang akan pembebasan yang dikerjakan oleh Allah, kita orang Kristen juga dibebaskan oleh karya Allah. Kita dibebaskan dari hukuman dosa dan dari perbudakan dosa, sehingga kita dapat beribadah kepada Allah dan mengasihi Allah. Maka hari Sabat adalah momen di mana kita seharusnya merayakan pembebasan ini, yaitu bahwa kita telah bebas untuk beribadah kepada Tuhan. Marilah kita menghargai hari Minggu dengan beribadah sepenuh hati, dengan penuh persiapan, dan dengan sungguh mengikuti dari awal votum sampai doa berkat atau pengutusan. Melalui artikel ini, mari kita melihat apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus pada hari Sabat, dan apa yang kita dapat teladani dari-Nya.

Dalam Injil Matius pasal 12:1-8, ada cerita di mana murid-murid Tuhan Yesus memetik bulir gandum dan memakannya. Hal tersebut memunculkan reaksi dari antara orang Farisi, di mana orang Farisi tersebut mengatakan bahwa murid-murid mengerjakan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Kemudian Tuhan Yesus memberikan alasan bahwa murid-murid tidak mengerjakan hal yang dilarang pada hari Sabat. Tuhan Yesus memberikan contoh dari Perjanjian Lama di mana Daud memakan roti yang seharusnya dia dan orang yang menyertainya tidak memakannya (1Sam. 21:1-6). Contoh yang lain yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah para imam yang bekerja namun tidak dianggap bersalah. Kemudian di ayat 7, Yesus berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Pada ayat 8, Yesus berkata, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Kemudian pada ayat 9-14, Tuhan Yesus masuk ke dalam rumah ibadat dan menyembuhkan orang yang tangannya mati sebelah, tentu saja ini juga menimbulkan kontroversi. Orang Farisi mempertanyakan apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat. Kemudian Tuhan Yesus menanyakan, jika domba mereka jatuh ke dalam lubang, tidakkah mereka akan berusaha menyelamatkan domba tersebut? Di ayat 12, Tuhan Yesus berkata, “Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.” Kemudian Tuhan Yesus menyembuhkan tangan orang tersebut.

Sebagai orang Kristen, kita pasti sangat menghargai hari Sabat, dengan beribadah kepada Tuhan di gereja. Kita datang dengan persiapan hati, fisik yang sangat baik, dan mengikuti ibadah dengan sebaik mungkin. Namun Tuhan Yesus memberikan kepada kita contoh yang baik mengenai hari Sabat, yang sangat berbeda dengan bagaimana orang Yahudi pada zaman tersebut memahami hari Sabat. Tuhan Yesus mengerjakan kebaikan pada hari Sabat kepada manusia, sebagai bentuk dari kasih kepada sesama. Marilah kita sebagai orang Kristen meneladani Tuhan kita. 

Tuhan Yesus tidak setuju akan penafsiran orang Farisi akan hari Sabat, Tuhan Yesus mengizinkan orang untuk memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat, dan Tuhan Yesus menyembuhkan orang lain pada hari Sabat, yang juga tidak disetujui oleh orang-orang Farisi. Tuhan Yesus pada hari Sabat tersebut mengerjakan perintah Allah bagi manusia, yaitu mengasihi sesama manusia, sehingga Tuhan Yesus tidak memandang bersalah para murid yang memenuhi kebutuhan jasmani mereka (disebutkan bahwa para murid lapar) pada hari Sabat. Tuhan Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat dan dalam otoritas tersebut Dia memberikan belas kasihan kepada manusia, demi kebaikan manusia.

Marilah kita sebagai orang yang telah dibebaskan oleh Tuhan dari kuasa dosa, beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu dengan sepenuh hati, mengikuti dari awal sampai akhir. Namun bukan hanya itu saja, sebagai orang yang telah dibebaskan, mari kita mengikuti teladan kita yaitu Tuhan kita Yesus untuk mengasihi saudara-saudara kita. Sebab, kita telah bebas dari dosa dan kita bebas untuk mengasihi Allah. Dengan demikian, kita dapat bebas mengasihi sesama kita, sebagai bentuk kasih kepada Allah. Sebab Allah memberikan perintah yang baik bagi kita, dan Tuhan Yesus adalah contoh sempurna dalam mengerjakan perintah Allah.

John Mondan Tarigan

Mahasiswa STTRII

Tag: Injil Matius, mengasihi sesama, Sabat

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII