,

Kecoak

Saya benci kecoak sampe ke sumsum. Dulu di rumah yang lama, setiap malam ketika kami sudah tertidur, kecoak-kecoak itu pesta pora seakan-akan merekalah pemilik rumah itu. Setiap kali dibasmi, muncul lagi dan muncul lagi. Benar-benar menyatakan pepatah “mati satu tumbuh seribu”. Saya pikir setelah pindah ke rumah baru – yang masih gres belum pernah ditinggali sebelumnya – di lantai tinggi pula, masalah kecoak dalam hidup saya akan lenyap. Setelah dua bulan bersukacita, ternyata kawan lama itu benar-benar tidak mau meninggalkan kami sendirian. Mereka muncul di dapur, bahkan masuk ke kamar tidur tanpa diundang. Menjijikkan!

Jonathan Edwards pernah menggambarkan di dalam khotbahnya “Sinners in the Hands of Angry God” betapa menjijikkannya orang berdosa di mata Tuhan. Edwards menggambarkan mereka dengan sangat visual bahwa mereka seperti laba-laba di tangan orang yang membenci laba-laba, atau seperti serangga menjijikkan yang harus segera dikebaskan dan dibuang ke dalam api. Cara kita menyinggung Tuhan dengan dosa kita bukanlah seperti rengekan anak-anak kepada orang tua tetapi seperti seorang pemberontak yang tidak tahu terima kasih menghasut orang-orang lain untuk memberontak kepada raja yang telah sangat baik kepadanya.

Pada suatu malam, saya digigit nyamuk hingga lima bentol. Nyamuknya kurus kering namun gesit luar biasa. Begitu menyebalkan. Namun, bukankah kita dengan dosa-dosa kita juga sangat menyebalkan hati Tuhan pencipta kita? Setelah saya berhasil menangkap nyamuk tersebut, saya tepuk melumat dia dengan kepuasan. Itulah yang dimaksudkan oleh Edwards bahwa Allah di dalam segala keadilan dan kedaulatan-Nya, Tuhan berhak untuk melumat kita semua, mengebaskan kita langsung ke neraka. Tetapi alasan kita masih belum dicampakkan neraka karena dosa-dosa kita adalah karena tangan-Nya masih memegang kita, Ia masih menahan amarah-Nya.

Sering kali orang berkata bahwa Kristus disalibkan menunjukkan betapa berharganya manusia… tapi sebaliknya salib juga menunjukkan betapa kelamnya dosa manusia sehingga bayaran atas dosa kita tidak bisa tidak harus dibayar oleh darah Sang Anak Allah. Puji Tuhan atas kesabaran anugerah-Nya yang terlampau besar! Masihkah kita mau terus mendukakan hati-Nya? Masihkah kita terus bermain-main dengan dosa?

Ev. Heruarto Salim
Redaksi Pelaksana PILLAR