Tiga bulan pertama di tahun 2013 memungkinkan saya membagikan berkat renungan mingguan
dengan tema Paskah. Karena Paskah itu adalah tahun baru bagi bangsa Israel yang keluar
dari Mesir, maka bulan Januari (tahun baru umum) membawa kita mengingat Paskah (https://www.buletinpillar.org/renungan/tahun-baru). Demikian halnya dengan bulan Februari (tahun baru
Imlek) yang terkadang ditandai dengan budaya dan konsep hidup dan konsep Allah yang penuh
takhayul, kita dapat mengingat Paskah sekali lagi di mana bangsa Israel dipanggil keluar untuk
beribadah kepada Tuhan yang sejati (https://www.buletinpillar.org/renungan/ibadah-sehari-hari).
Pada bulan Maret menjelang Jumat Agung dan Paskah ini, saya mengajak kita sekali lagi
merenungkan kesetiaan Tuhan di dalam Paskah. Melanjutkan perenungan ibadah sehari-hari dengan
korban pagi dan petang, para pembaca yang pernah merenungkan kitab Imamat mungkin masih
mengingat lima jenis korban: Korban Bakaran (burnt), Korban Sajian (grain), Korban Keselamatan
(peace), Korban Penghapus Dosa (sin), dan Korban Penebus Salah (guilt). Persembahan Korban
Penebus Salah dituntut oleh Tuhan bagi seseorang yang berubah setia terhadap TUHAN dan tidak
sengaja berbuat dosa.
Manusia, kita semua, yang masih tinggal di dalam kemah tubuh yang lama – daging ini –
sesungguhnya sering kali berubah setia dan tidak mungkin mencapai standar Tuhan yang sangat
tinggi. Saya ingin mengajak para pembaca PILLAR untuk merefleksikan kesetiaan kita di hadapan
TUHAN dari Lukas 12:8-12.
“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia
di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia
akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.”
Apa yang terjadi dengan Petrus? Petrus tidak mengakui Yesus di depan manusia dan dia menyangkal
Tuhan di depan manusia. Bukankah sudah jelas dan Paulus (2Tim. 2:12b) juga mengatakan: jika
kita menyangkal Dia, Dia juga akan menyangkal kita? … dan Tuhan tidak bisa menyangkal diri-
Nya. Tetapi apa yang terjadi dengan Petrus kemudian? Dia tidak disangkal Tuhan di depan malaikat-
malaikat Allah dan bahkan sudah dipersiapkan dan didoakan sebelumnya oleh Tuhan. Karena apa?
Justru karena Tuhan tidak bisa menyangkal diri-Nya, maka ketika kita tidak setia, Tuhan tetap setia
dan mengampuni kita meskipun kita pernah mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia.
Jika standar Tuhan yang begitu tinggi menuntut kita yang berubah setia dan tidak sengaja berbuat
dosa agar dihukum itu tidak ditopang belas kasihan dan kesetiaan-Nya, pastilah kita semua binasa.
Dan bahkan lebih dari itu, kita yang sadar dan sengaja berbuat dosa seperti Petrus di tengah-
tengah kelemahan dan kekalutan kita, kita masih mendapatkan pengampunan dari Tuhan. Itu hanya
menunjukkan kesetiaan, kasih karunia, dan kemuliaan Tuhan saja. Sebab Tuhan yang setia sudah
berjanji di dalam perjanjian-Nya dengan kita melalui Anak-Nya, Domba Paskah kita.
Sudahkah kita bertobat meninggalkan dosa kita dan belajar untuk setia bersandar kepada kesetiaan
Tuhan yang tetap setia sebab Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya? Sesungguhnya, betapa agungnya
rahasia ibadah kita di dalam perjanjian dengan darah-Nya, Domba Paskah, yang kekal!