Korban

Di dalam kehidupan ada masanya kita diperhadapkan kepada pilihan yang sulit. Pilihan itu
menjadi sulit karena ketika kita memilih opsi A berarti pada saat yang sama kita harus
melepaskan atau mengorbankan opsi B, tidak ada pilihan yang mendapatkan keduanya (saya
bukan sedang bicara tentang pemilu).

Abraham dan Lot mengalami kesulitan tersebut ketika harta dan ternak mereka menjadi
sangat banyak sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama lagi karena negeri itu tidak
cukup luas bagi mereka berdua (Kej. 13:6). 

Abraham sadar ada tiga relasi yang saling bertentangan dan harus ada yang dikorbankan. Dia
harus memikirkan relasi dia dengan Tuhan, relasi dia dengan Lot, dan relasi dia dengan harta
bendanya. Abraham diperhadapkan dengan tiga pilihan: 

  • Pertama, ia mengorbankan janji dan relasinya dengan Tuhan. Ia tidak mau berpisah
    dengan Lot lalu ia pergi bersama Lot ke kota Sodom untuk memperbesar kekayaannya dan
    dengan demikian, mengorbankan janji Tuhan. 
  • Kedua, dia tidak akan meninggalkan janji Tuhan dan kekayaannya, tetapi ia
    mengorbankan relasinya dengan Lot. Ia akan memilih tanah yang terbaik untuk dirinya
    dan memberikan kepada Lot tanah sisanya yang kurang baik. Maka yang akan terjadi, Lot
    akan membenci Abraham. 
  • Ketiga, ini yang dicatat di Alkitab. Apa yang Abraham korbankan? Ia mengorbankan
    keamanan finansialnya. Ia tetap menjaga hubungan dengan Tuhan; Ia tetap memegang
    janji Tuhan dan ia juga menjaga relasinya dengan Lot. Ia membiarkan Lot untuk memilih,
    meskipun yang dipilih Lot adalah semua daerah yang subur. Abraham percaya bahwa
    Tuhan akan menjaga janji-Nya walaupun Abraham harus mengorbankan kekayaan
    dan masa depannya. 

Dari Abraham kita bisa melihat bahwa yang menjadi prioritas utamanya adalah Allah, yang
kedua sesama, dan yang ketiga harta. Inilah urutan prioritas yang tepat.

Namun sering kali banyak dari kita yang diwakilkan oleh Lot di sini memilih dengan prioritas
berbeda, kita akan 

  • Mengorbankan relasi demi uang – sikut kiri kanan, injak bawah, dan jilat atas demi naik
    jabatan, atau anak ditinggal orang tua yang bekerja lembur setiap hari.
  • Mengorbankan pelayanan demi uang – sering mendengar alasan ini? “Sekarang usaha
    sedang berkembang pesat, saya belum ada waktu pelayanan nanti kalau sudah agak
    longgar, saya pasti deh mulai pelayanan.”
  • Mengorbankan Tuhan demi relasi – berapa banyak orang pelan-pelan undur dan terhilang
    secara rohani karena tarikan relasi di sekitar mereka, bisa dari pasangan, anak, atau
    lingkungan di sekitar.

Jadi, apakah yang kaukorbankan dalam mengambil keputusan?