Jika bisa gampang, untuk apa pakai cara yang susah? Demikian cara berpikir banyak orang.
Prinsip ini tidaklah selalu salah. Membuang waktu yang berharga untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dengan cara yang tidak efisien adalah kebodohan. Namun, menggunakan prinsip
mudah-sulit untuk menjadi dasar bagi semua keputusan juga adalah kebodohan. Misalnya,
jalan yang paling mudah adalah tidak usah belajar dan bekerja, hanya bermalas-malasan di
rumah, tetapi jalan ini tentu tidak dipilih sebagian besar orang. Demikian juga, bukan prinsip
tersebut yang sedang dipakai ketika Yesus bertanya, “Manakah yang lebih mudah,
mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah?” (Luk.
5:23).
Pertanyaan itu jika dibaca dengan kacamata orang malas adalah, “Manakah kalimat yang
lebih mudah diucapkan? Manakah kalimat yang lebih pendek dan cepat berakhir?”
Berdasarkan sikap ini, cara yang termudahlah yang akan dipilih Yesus.
Jika bukan begitu, bagaimana cara memahami pertanyaan Yesus? Untuk itu, kita harus
memahami konteksnya. Orang-orang Farisi yang mendengar gosip tentang Yesus sedang
datang untuk mengawasi pergerakan Yesus, dan menyaksikan sendiri apa yang sedang Dia
lakukan, apakah berbahaya, sesat, atau bagaimana. Dan pada saat itu juga, ada seorang yang
lumpuh karena dosanya dibawa kepada Yesus untuk disembuhkan. (Tidak semua orang sakit
yang datang kepada Yesus sakit karena dosanya. Untuk kasus Lukas 5 ini, kita mengetahui
bahwa dia lumpuh karena dosanya karena Yesus menyembuhkannya dengan cara
menyatakan dosanya diampuni.) Di hadapan orang-orang Farisi itu, Yesus dengan terang-
terangan menyatakan otoritas-Nya untuk mengampuni dosa maupun menyatakan dosa orang
diampuni.
Hal ini jelas membuat orang Farisi kaget dan marah. Hanya Allah yang dapat mengampuni
dosa, dan pada saat itu, pengampunan dosa oleh Allah diumumkan oleh imam yang bertugas
di Bait Suci setelah persembahan korban perdamaian. Tidak heran orang Farisi bertanya
dalam hati mereka, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat
mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21). Dengan menyatakan dosa
seseorang diampuni, Yesus telah bertindak sebagai Allah dan Perantara Allah sekaligus. Kini,
tanpa melalui Bait Suci, orang Israel dapat datang meminta pengampunan dosa kepada Allah
melalui Yesus.
Klaim yang dikeluarkan oleh Yesus ini – bahwa Dia dapat bertindak sebagai Allah dan
menggantikan imam dan Bait Suci sekaligus – bisa dengan mudah ditiru oleh orang lain
(tentu dengan modal nekat). Siapa saja yang punya nyali dapat membuat dan memalsukan
klaim yang spektakuler seperti ini. Karena itu, Yesus tidak hanya berhenti pada ucapan yang
kosong, tetapi tindakan yang nyata, yaitu menunjukkan bahwa dosa orang sakit itu benar-
benar telah diampuni, yang dibuktikan dengan membuat dan menyuruh orang tersebut
bangun dan berjalan. Ini mustahil dilakukan oleh ilah yang palsu. Karena itu, perihal
gampang-susah di sini bukan masalah kalimat mana yang lebih pendek, tetapi kalimat mana
yang mustahil diucapkan dan dibuktikan oleh manusia biasa.
Ketika orang Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan, mereka tidak sedang berdelusi dan
mengarang-ngarang doktrin. Istilah-istilah yang Tuhan Yesus gunakan di Israel abad pertama,
meskipun tidak jelas bagi pembaca sekarang, sangat jelas bagi pendengar-Nya saat itu,
sehingga orang Farisi menyebut-Nya sebagai penghujat Allah. Jika engkau ragu Yesus itu
Allah yang berotoritas mengampuni dosa, bacalah kisah Injil bukan dengan kacamata orang
modern, tetapi dengarkan kalimat Yesus sebagaimana orang Israel saat itu mendengarkan-
Nya. Engkau akan takjub terhadap otoritas ilahi-Nya. Bagi kita yang mengaku orang Kristen,
kisah ini mengajarkan kita untuk menunjukkan identitas kita dengan melakukan hal-hal yang
hanya dapat dilakukan oleh pengikut Kristus sejati, meskipun sering kali jalan itu adalah jalan
yang lebih sulit.
