Ketika Allah Tampak Diam
Apa yang dapat dikatakan seorang yang tergantung di atas kayu salib? Di puncak kesakitan,
orang-orang di atas kayu salib lumrah mengeluarkan banyak erangan dan umpatan terhadap
musuh-musuh mereka. Namun, Yesus tidak tercatat mengeluarkan banyak kata-kata kecuali
tujuh kalimat. Hari ini, saya ingin merefleksikan kalimat “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”
yang artinya “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk. 15:34). Apakah ini
adalah keluhan dan kemarahan dari Anak terhadap Bapa-Nya yang telah meninggalkan-Nya?
Ketika mengomentari kalimat Yesus ini, banyak orang yang menekankan karya
penyelamatan-Nya: bahwa Dia sedang “ditinggalkan” oleh Allah Bapa karena Dia
menanggung dosa-dosa manusia, bahwa ini adalah titik terendah dari penderitaan-Nya karena
Dia sedang terpisah dari Allah menggantikan manusia berdosa yang harus dibuang ke neraka
dan terisolasi dari Allah untuk selama-lamanya. Meskipun ini adalah penjelasan yang sangat
penting, di dalam artikel ini saya ingin mengajak pembaca untuk merenungkan kalimat Yesus
di atas dari interpretasi James White,[1] dan menarik artinya bagi pembaca saat ini.
Kita diingatkan oleh White untuk mendengarkan perkataan Yesus yang mengutip kalimat
pertama dari Mazmur 22: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
sebagaimana seorang pendengar Yahudi akan memahaminya pada saat itu. Yesus mengutip
salah satu baris yang paling terkenal dari Kitab Mazmur yang sudah pasti tidak asing lagi
bagi orang Yahudi pada zaman Yesus. Kitab Mazmur adalah “buku himne” bagi orang
Yahudi, dan mengutip kalimat pertama Mazmur 22 saat itu di wilayah Yahudi bagaikan
seseorang mengatakan “Amazing grace how sweet the sound” hari ini di dalam komunitas
Kristen. Semua orang yang berpendidikan Kristen dapat melanjutkan baris-baris berikutnya
dari lagu tersebut.
Jika orang Yahudi waktu mendengarkan kalimat Yesus di atas kayu salib waktu itu
mengingat kembali seluruh isi Mazmur 22, apa yang akan mereka temukan? Mazmur 22
adalah syair Daud di tengah-tengah kesulitan, tetapi akhirnya dilepaskan oleh Tuhan dari
bahaya mengancam yang hendak didatangkan oleh musuh-musuhnya. Mazmur tersebut
dimulai dengan keluhan-keluhan Daud karena musuh-musuhnya, kemudian diakhir dengan
memuliakan Tuhan karena Tuhan menaklukkan musuh-musuhnya.
Namun, Tuhan sebenarnya memakai kata-kata Daud ini untuk mengekspresikan kenyataan
yang lebih besar daripada sekadar persoalan hidup Daud, yaitu penderitaan Mesias itu sendiri.
Kata-kata Daud itu–itu sebabnya ia dianggap sebagai nubuatan–melampaui pengalaman
Daud sendiri. Bagaimanakah dapat dimengerti bahwa kelepasan yang dialami oleh Daud akan
menyebabkan hal-hal yang dikatakan berikut ini, kecuali kelepasan yang dimaksud adalah
kemenangan Yesus Kristus atas maut di dalam kebangkitan-Nya?
Segala ujung bumi akan mengingatnya
      dan berbalik kepada TUHAN;
dan segala kaum dari bangsa-bangsa
      akan sujud menyembah di hadapan-Nya (ay. 28)
Orang Yahudi yang mendengar baik-baik kutipan Yesus di atas kayu salib dan memikirkan
dengan serius seluruh isi Mazmur 22 pasti akan melihat bahwa Yesuslah penggenap dari
Mazmur tersebut.
Jadi kini, menjadi jelaslah bagi kita bahwa perkataan Yesus tersebut tidak murni demi
mengutarakan penderitaan-Nya karena secara misterius terpisah dari Bapa untuk sementara
karena dosa-dosa manusia. Dia mengutip kalimat pertama Mazmur 22 untuk mengatakan
seluruhnya. Jikalau dibaca dengan lengkap, ujung-ujung dari Mazmur tersebut adalah untuk
memuliakan dan meninggikan Allah, untuk memuji kekuasaan dan kedaultan Allah atas
seluruh dunia, untuk menyatakan kemenangan Allah pada akhirnya.
Orang Kristen zaman sekarang juga belum luput dari penderitaan karena Kerajaan Allah
belum datang secara paripurna, yang ketika itu tidak akan lagi ada air mata, sakit penyakit,
bencana, ataupun peperangan. Namun, Mazmur yang dikutip Yesus tersebut mengingatkan
kita untuk melihat melampaui penderitaan kita kepada kemuliaan Allah yang akan
terpancarkan melalui penderitaan tersebut, ketika Allah mengadakan penyelamatan besar dan
melepaskan kita dengan sempurna dari penderitan kita untuk selama-lamanya.
[1] https://youtu.be/ZRScBxPgvvI?t=1019